Published On: Sun, Jun 14th, 2015

Petis Runting, Olahan Kambing yang Tampil Beda

20140321 Pati Petis Runting (FOKUS) (5) (E)20140321 Pati Petis Runting (FOKUS) (1) (E)

Daging kambing biasanya diolah menjadi sate ataupun tongseng. Sesuatu yang sudah jamak ada dan dinikmati masyarakat luas. Bahkan, di Kabupaten Kudus misalnya, ada satu tempat yang kemudian khusus berdiri warung-warung yang menyajikan sate kambing yang khas. Namanya Pekeng, Kecamatan Mejobo.

Hanya saja, di Kabupaten Pati, ada satu makanan tradisonal berbahan kambing, yang kemudian juga terkenal kemana-mana. Namanya petis runting. Sesuai namanya, makanan ini merupakan masakan khas Desa Runting, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati.

Desa Runting sendiri, berada di utara Kota Pati, berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat kota. Warung petis kambing runting sangat mudah dijumpai, karena kebanyakan berada di tepi Jalan Raya Pati-Tayu.

Sajian petis runting yang dijajakan di warung atau rumah makan tersebut, cukup sederhana. Seporsi petis runting berisi tulang dan iga kambing yang menyisakan daging. Dan kadangkala dikombinasikan dengan jeroan atau gajih (lemak) kambing.

20140321 Pati Falak Petis Runting (2) (E) 20140321 Pati Falak Petis Runting (1) (E)

Tulang-tulang itu berasal dari kambing muda, sehingga kerapkali penikmat petis runting dimanjakan dengan gurihnya sumsum di dalam tulang. Apalagi kalau menyeruputnya. Sungguh kenikmatannya tiada tara.

Jika diperhatikan, sajian petis kambing mirip tengkleng Solo. Sedangkan kuahnya mirip gulai bersantan kental. Bedanya kuah petis lebih kental, berwarna coklat gelap, dan ketika diseruput di lidah berasa ada butiran-butiran lunak yang gurih.

Hal itu tidak mengherankan, lantaran kuah petis kambing merupakan kombinasi antara bumbu dampur, santan, dan tepung beras. Komposisi kuah itu antara lain gula merah, daun jeruk, bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, kemiri, ketumbar, kencur, garam, dan terasi.

Menurut para pedagang petis runting, petis kambing runting merupakan makanan khas Desa Runting yang semula tidak diperdagangkan. Biasanya warga memakan petis kambing, tanpa nasi dan sebagai pendamping sate kambing saja.

Resepnyapun dilestarikan secara turun-temurun hingga sekarang. Masakan itu muncul, lantaran para pendahulu desa merasa sayang jika membuang tulang dan iga kambing. Sehingga mereka mengolahnya menjadi masakan, yang kini menjadi kebanggaan Desa Runting. (MERIE)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>