Published On: Sun, Aug 9th, 2015

Parijoto, Jadi Motif Batik Kudus yang Diakui Hak Ciptanya

Seorang model sedang memeragakan busana dari kain batik Kudus. Sekarang ini, motif parijoto telah menjadi motif batik asli Kudus yang sudah diakui hak ciptanya. (MERIE)

Seorang model sedang memeragakan busana dari kain batik Kudus. Sekarang ini, motif parijoto telah menjadi motif batik asli Kudus yang sudah diakui hak ciptanya. (MERIE)

KUDUS – Akhirnya, salah satu motif batik Kudus, yaitu parijoto, diakui hak ciptanya oleh Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM RI. Hal itu tentu saja membuat Yuli Astuti dari Muria Batik Kudus, yang selama ini mendaftarkan hak ciptanya, menjadi senang.

Yuli mengatakan, sebenarnya ada 10 motif batik yang kemudian didaftarkannya. Hanya saja, proses yang lama membuatnya tidak bisa kemudian langsung diakui seluruhnya.

”Memang susah sekali untuk mendaftarkan hak cipta atas motif-motif tersebut. Termasuk motif parijoto ini. Prosesnya memang sangat lama, bahkan sempat juga harus berdebat dengan kabupaten lain,” terang Yuli kepada koran muria.

Kabupaten yang juga sempat mempermasalah soal hak cipta dari motif parijoto ini adalah Kabupaten Sleman. Yuli mengaku sempat berdebat dengan pemkab setempat, karena Sleman mengakui bahwa parijoto adalah tanaman khas wilayah tersebut.

”Di lereng Gunung Merapi memang ada buah tersebut. Makanya waktu saya mematenkan motif tersebut, didebat oleh Kabupaten Sleman. Tapi setelah kita tunjukkan filosofi dan arti dari motif tersebut, termasuk sejarahnya, Pemkab Sleman tidak lagi ngotot,” paparnya.

Sejak tahun 2009, Yuli memang mencoba untuk mendaftarkan berbagai motif batik Kudus yang diciptakannya berdasar filosofi khas daerah Kudus ini. Dia tidak merasa lelah meski harus bolak-balik memperbaiki dokumen yang dibutuhkan.

Secara resmi, motif parijoto diakui hak ciptanya adalah pada 9 Juli 2015 lalu. Saat ini, Yuli tinggal menunggu sertifikat atas pengakuan tersebut. ”Total saya harus menunggu 16 bulan untuk bisa mendapatkan sertifikat tersebut. Memang lama sekali. Tapi saya lega akhirnya motif parijoto diaku sebagai milik batik Kudus,” katanya.

Morif-motif lain yang sudah terdaftar adalah Menara Kudus, parijoto kontemporer, parijoto klasik, kapal kandas, pakis haji, bulusan, merak beras tumpah, ornament kaligrafi, ukir gebyok Kudus, dan cerita soal kretek.

Diakui Yuli, pihaknya tidak akan berhenti untuk bisa mendaftarkan lagi jika nanti ada motif-motif batik khas Kudus. Meski memang bukan hal yang mudah, namun hal itu tidak akan mematahkan semangatnya.

”Banyak tahapan memang yang harus dilakukan. Misalnya saja pengumpulan dokumentasi sebagai penguat bahwa karya itu benar-benar karya asli. Dan ini yang belum diperhatikan benar oleh pelaku usaha ini. Bagaimana dokumentasi sangat penting untuk dimiliki,” terangnya.

Batik Kudus Diakui Punya Gaya yang Keren

BATIK-2(e)

Batik Kudus sebenarnya sudah cukup dikenal luas oleh berbagai kalangan. Termasuk di kalangan selebriti Indonesia. Beberapa artis terkenal juga pernah mengenakan batik Kudus.

Jika Anda datang ke Galeri Muria Batik Kudus di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, maka Anda bisa melihat aneka dokumentasi tersebut. Dari artis seperti Reza Rahardian, Anang, hingga Ashanti, pernah mengenakan batik buatan Yuli Asuti tersebut.

Batik Indonesia yang sudah diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya, memang mampu menarik perhatian dari masyarakat di penjuru dunia. Mereka menganggap bahwa batik Indonesia lebih keren dan bagus dari negara lain.

Hal itu juga disampaikan salah satu warga negara Singapura yang kemarin berkunjung ke Galeri Muria Batik Kudus, di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Menurut Teresa, satu dari dua tamu yang berkunjung ke sana, mengatakan jika batik Indonesia memang lebih keren.

”Kalau dibandingkan batik negara lain, batik punya kamu (Indonesia, red) lebih bagus. Itu benar sekali,” terangnya kepada pemilik Galeri Muria Batik Kudus Yuli Astuti, dalam satu kesempatan.

Teresa dan rekannya, Patricia, menyempatkan diri berkunjung ke galeri batik tersebut, untuk melihat sejauhmana proses pembuatan batik khas dari kota ini. Termasuk juga menjajal sendiri bagaimana membuat batik di selembar kain.

Menurut mereka, membuat batik adalah salah satu dari pekerjaan yang mungkin paling rumit. ”Saya sudah pernah mencobanya satu kali di Singapura. Tapi ketika mencoba lagi di sini, wah ternyata memang cukup membuat capek, ya,” kata Teresa.

Yuli mengatakan, galerinya memang sering menjadi jujugan warga asing yang ingin mengetahui proses membatik. Itu sebabnya, pihaknya selalu menyediakan waktu jika ada tamu yang memang datang untuk belajar. ”Silakan saja datang, dan belajar langsung bagaimana membatik. Sehingga bisa mengetahui bagaimana sebenarnya selembar kain batik itu dibuat,” katanya.

Yuli mengatakan, pihaknya memang pernah membandingkan batik yang dibuat di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya. ”Tapi sejauh yang saya lihat dan bandingkan, memang berbeda. Batik di sana lebih mengarah kepada lukisan. Bukan batik seperti tempat kita,” jelasnya.

Bahkan, Yuli juga menemukan bahwa batik yang dijual di negara-negara tersebut, adalah batik yang berasal dari beberapa kota di Indonesia. Misalnya Pekalongan dan Solo. Namun dijual dengan harga yang cukup tinggi.

”Selembar kain batik yang memang murah di Indonesia, dijual dengan harga yang cukup tinggi di luar negeri. Mencapai ratusan ribu rupiah. Ini berarti kan, sebenarnya peluang bagi kita untuk menjual juga batik kita di luar negeri secara langsung,” paparnya.

Dikatakan Yuli, pihaknya memang harus bisa bersaing dengan produk-produk clothing yang sama dari luar negeri. Terutama dari Asia Tenggara. ’Tapi saya yakin bahwa produk batik Indonesia akan bisa bersaing, karena memiliki kekhasan tersendiri. Di mana sangat berbeda dengan produk yang dihasilkan dari negeri lainnya,” imbuhnya.

Yovie Widianto: Harus Banyak Pembatik Khas Kudus

Salah satu artis yang juga pencinta batik dan pernah melihat langsung proses pembuatan batik Kudus adalah musisi Yovie Widianto. Dia bahkan menyesalkan kenapa masih sedikit masyarakat yang membuat kerajinan ini.

Dalam satu kunjungannya di Kudus beberapa waktu lalu, Yovie mengatakan bahwa batik Kudus merupakan cikap bakal dari batik pesisir di Indonesia. ”Itulah yang menjadi kelebihan dari bati Kudus sendiri. Dan harus diapresiasi dengan setinggi-tingginya,” terangnya.

Hanya saja, Yovie menyesalkan masih sedikitnya pembatik asal Kudus yang meneruskan usaha ini. Sehingga batik Kudus masih kurang dikenal lebih luas lagi layaknya batik Solo atau Jogja.

”Sayang memang kalau masih sedikit yang meneruskan usaha ini. Kalau misalnya banyak, maka saya yakin batik Kudus akan mampu bersaing dengan batik-batik yang lain, khusus di Jawa ini,” katanya.

Karena itu, menurut Yovie, semua pihak harus terlibat dalam upaya pelestarian batik Kudus ini. Termasuk untuk memperbanyak pembatik yang kemudian akan meneruskan usaha ini.

”Ini harus menjadi tanggung jawab kita bersama. Agar hasil seni dan karya Indonesia yang asli ini tidak punah. Sehingga akan tetap lestari sampai kapanpun juga,” paparnya.

Batik Kudus sebenarnya bisa menjadi salah satu hal yang khas dari Kabupaten Kudus sendiri. Sebagaimana kretek, ataupun kekayaan kuliner lainnya yang memang sangat beragam.

”Sehingga akan sangat bagus kalau semua pihak bisa saling bantu membantu mengembangkan batik Kudus ini. Dan akhirnya nanti akan menjadi ikon Kudus selain ikon-ikon lain yang sudah ada,” imbuhnya. (MERIE)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>