Published On: Wed, Oct 14th, 2015

Ada Air yang Bisa bikin Awet Muda di Jepara

Sejumlah warga tengah mandi atau membasuh muka di Belik Bidadari, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Mereka mempercayai air di belik itu bisa membuat awet muda. (KORAN MURIA / WAHYU KZ)

Sejumlah warga tengah mandi atau membasuh muka di Belik Bidadari, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Mereka mempercayai air di belik itu bisa membuat awet muda. (KORAN MURIA / WAHYU KZ)

JEPARA Tampil selalu cantik atau ganteng dan terus terlihat muda, selalu diidam-idamkan banyak orang. Maka tak heran ada ribuan orang yang berdatangan dan tumpah ruah di Belik Bidadari yang ada di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara.

Terutama saat malam 1 Syuro. Ribuan orang dari berbagai daerah rela berdesak-desakan untuk sekadar bisa mandi atau membasuh muka menggunakan air dari belik atau sendang (mata air) tersebut.

Seperti malam satu Syuro yang jatuh pada Selasa (13/10/2015) kemarin. Tak peduli lelaki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak, rela berdesakan demi mencari berkah dari air di belik itu.

Sejak sore hingga Rabu (14/10/2015) dini hari, ribuan warga tumpah ruah di kompleks Belik Bidadari. Mereka mempercayai air dari belik tersebut bisa membuat awet muda. Tak hanya warga dari Jepara saja, namun juga tak sedikit warga dari kabupaten tetangga seperti Kudus dan lainnya, juga ikut berdatangan.

Warga menyakini, air di belik yang berada di kawasan Masjid Jami At-Taqwa Daren tersebut merupakan air abadi, lantaran tak pernah surut ataupun kering, meskipun kekeringan melanda. Mereka meyakini mitos yang selama beredar di masyarakat jika air di belik tersebut mampu menjadi obat awet muda.

“Selama ini diyakini mampu membawa keberkahan, seperti awet muda, dan melancarkan rezeki,” ujar salah seorang pengunjung, Uswatun, asal Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (14/10/2015) dini hari tadi.

Uswatun mengatakan, dirinya tak hanya sekali ini saja berkunjung ke Belik Bidadari tersebut. Tahun-tahun sebelumnya juga kerap datang bersama dengan anak dan saudaranya. “Itung-itung melestarikan tradisi juga yang selama ini ketika malam 1 Muharram datang ke sini untuk mandi,” ungkapnya.

Mitos tersebut telah diyakini sebagian masyarakat di desa tersebut dan menyebar ke daerah lain sejak lama. Terbukti, setiap tahun di malam 1 Muharram mbelik bidadari itu selalu ramai pengunjung.

Diyakini Sendang Petilasan Jaka Tarub

Sejumlah warga tengah mandi atau membasuh muka di Belik Bidadari, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Mereka mempercayai air di belik itu bisa membuat awet muda. (KORAN MURIA / WAHYU KZ)

Sejumlah warga tengah mandi atau membasuh muka di Belik Bidadari, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Mereka mempercayai air di belik itu bisa membuat awet muda. (KORAN MURIA / WAHYU KZ)

Berdasarakan cerita turun temurun, kebaradaan Belik Bidadari tak lepas dari mitos Jaka Tarup, pemuda pengembara yang terpikat dengan seorang bidadari.  Jaka Tarub dikenal sebagai pengembara dari kerajaam Mataram.

Ketika sampai di sebuah desa (sekarang bernama Desa Daren), Jaka Tarub bertemu dengan seorang janda (Mbok Randha) yang kemudian mengangkat dirinya sebagai seorang anak.

Pada suatu hari, Jaka Tarub sampai di sebuah bukit, kemudian mendengar suara burung. Ia langsung ingin menangkapnya. Tapi, ketika ingin menangkap burung tersebut, justru dia mendengar suara percikan air seseorang yang sedang mandi.

Setelah dilihat, ternyata ada puluhan bidadari yang sedang mandi di sebuah sendang (selanjutnya disebut Belik Bidadari). Lantaran penasaran, Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari tersebut. Kebetulan yang diambil merupakan selendang milik bidadari bernama Nawang Wulan.

Selesai mandi, Nawang Wulan mencari selendangnya namun tak kunjung ketemu. Akhirnya dia berucap barang siapa yang bisa membantunya, jika laki-laki akan dijadikan suaminya, sedangkan jika perempuan akan
dijadikan saudaranya.

Singkat cerita, Nawang Wulan bertemu dengan Jaka Tarub, kemudian menikah dan memiliki putri yang diberinama Nawangsih. Beberapa kejadian dalam kehidupan keluarga kecil mereka, sampai saat ini masih menjadi kepercayaan tersendiri bagi sebagian warga di Desa Daren.

“Berdasarkan cerita turun temurun, sendang ini memang awalnya dari bidadari yang mandi, kemudian jadi tradisi tersendiri bagi sebagian masyarakat,” kata Petinggi Desa Daren, Sholeh. (WAHYU KZ / ALI MUNTOHA)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>