Published On: Thu, Jan 14th, 2016

Wakil Bupati Pati Kaget Petani Bisa Panen Beras Merah Organik 9 Ton per Hektare

Wakil Bupati Pati Budiyono bersama dengan Dandim 0718/Pati Letkol Inf Heri Setiono memanen padi merah organik di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Wakil Bupati Pati Budiyono bersama dengan Dandim 0718/Pati Letkol Inf Heri Setiono memanen padi merah organik di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (KORAN MURIA / LISMANTO)

PATI – Petani di Kabupaten Pati berhasil mengembangkan padi merah organik, dengan hasil yang besar. Keberhasilan ini dicapai petani dari kelompok tani padi “Mustika”, yang berhasil memanen padi merah organik lebih dari sembilan ton gabah kering yang ditanam dalam lahan satu hektare di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo.

Panen itu dilakukan Kamis (14/1/2016). Panen itu terbilang sangat luar biasa, karena panen dengan sistem konvensional, menggunakan bahan kimia hanya mampu panen 4,5 ton setiap hektarenya. Namun, dengan penanaman dengan metode System of Rice Intensification (SRI), petani tersebut berhasil memanen padi dua kali lipat dari sistem penanaman konvensional.

Wakil Bupati Pati Budiyono saat ditemui Koran Muria mengaku terkejut dengan hasil panen yang dilakukan petani Mustika. Pasalnya, satu hektare sawah biasanya hanya mampu memanen 4,5 ton gabah kering.

“Kami benar-benar memberikan apresiasi. Bukan hanya soal panennya yang melimpah dan luar biasa, tetapi kualitasnya juga organik yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia,” tutur Budiyono.

Ia berharap agar petani Mustika bisa mengajarkan metode penanaman dengan sistem SRI organik kepada petani lainnya yang ada di Pati. “Selama ini, Pati memang dikenal sebagai lumbung padinya Indonesia. Pati juga dikenal sebagai pioner ketahanan pangan Indonesia. Kami berharap petani Mustika bisa mengenalkan model penanaman itu kepada petani lainnya,” tandasnya.

Suroto, salah satu petani Mustika mengatakan, konsep organik tersebut sudah berhasil dilakukan dengan memanen sedikitnya 9,4 ton gabah kering dalam lahan seluas satu hektare. Kendati begitu, perjuangan menanam padi dengan sistem SRI organik ternyata tidak mudah.

Ia mengaku sudah pernah gagal dalam melakukan panen. “Kami pernah gagal pada percobaan pertama di musim tanam ketiga tahun lalu. Waktu itu, kekeringan panjang melanda wilayah pertanian di Pati,” tuturnya.

Ia mengatakan, kelompok taninya tidak putus asa dan kembali menanam padi dengan metode SRI organik. Panen melimpah akhirnya berhasil dilakukan pada pertengahan Januari, setelah benih mulai ditanam pertengahan Oktober 2015 lalu. (LISMANTO / ALI MUNTOHA)

About the Author