mixing valium and sertraline buy valium valium 5 mg tablets

how ambien is metabolized cheap ambien ambien cr weight gain side effect

what over the counter drugs have phentermine phentermine 37.5mg phentermine los angeles doctor

tramadol in combinatie met wiet buy tramadol how many tramadol to take at once

soma gallery cape may soma drug soma elementos progressão aritmética

1st time xanax dosage order xanax online what happens if you take xanax for too long

get carisoprodol College Station www.ciatec.mx/ordersoma/ aura soma bottle 42

tapering off low dose xanax buy xanax xanax comprimate prospect

soma hakkında sözler buy soma where to buy a somali cat

order soma Arlington buy soma online weather in soma bay egypt in april

Diterbitkan pada: Kam, Feb 25th, 2016

Sego Tewel Mbak Siti Tambakromo Pati, Cukup Jualan 3 Jam Ratusan Porsi Ludes

Reporter:    /  @ 16:38:13  /  25 Februari 2016

 

Siti tengah mengambil sayur tewel untuk disajikan kepada pembeli. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Siti tengah mengambil sayur tewel untuk disajikan kepada pembeli. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Koran Muria, Pati – Kabupaten Pati mempunyai ragam kuliner yang bisa menandingi daerah lain. Selain sego gandhul dan soto Kemiri, ataupun petis Runting, Pati juga terkenal dengan kuliner sego tewel.

Kuliner ini hanya bisa dijumpai di daerah Pati bagian selatan, atau tepatnya di Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo. Di desa itu, ada puluhan penjual nasi tewel yang berjajar di pinggir jalan. Namun dari sekian penjual, nasi tewel Mbak Siti yang paling tekenal.

Pemilik warung ini yakni Siti Sofiah (45), yang berjualan sejak 1998, meneruskan usaha keluarganya. Siti merupakan generasi ketiga, meneruskan mertua dan neneknya. Resep turun temurun inilah yang membuat sego tewel warung ini beda dengan warung-warung lain.

Menu yang disajikan pun hanya sego tewel, tak ada yang lain. Hal ini juga yang membuat warung milik Mbak Siti itu selalu dibanjiri pembeli setiap harinya.

Bahkan hanya dalam waktu tiga jam, ratusan porsi yang disediakan langsung ludes. Padahal ia mulai buka pada pukul 16.30 WIB, dan belum sampai pukul 20.00 WIB sego tewelnya pasti sudah habis.

Dalam waktu yang singkat itu pula, Siti mengaku sudah menyediakan 30 kilogram beras dengan sayur tewel sebanyak 3 panci besar. Kendati begitu, nasinya itu selalu habis tak lebih pukul 20.00 WIB.

“Ini memang turun temurun. Saya termasuk generasi ketiga dari Mbah Warti dan Mbah Rasiah. Menu yang saya jual juga sama dengan generasi sebelum saya,” ujar Siti saat didatangi Koran Muria di warungnya, Rabu (24/2/2016) malam.

Ia mengatakan, sego tewel memiliki cita rasa yang asin, gurih dan pedas sesuai dengan lidah orang Pati. Meski demikian, pengunjung ternyata tak saja berasal dari Pati, tetapi juga wisatawan dari luar daerah seperti Jakarta.

Saat ini, Siti memiliki lima karyawan yang ikut membantu memasak, cuci piring, hingga melayani pembeli. Warungnya tak pernah sepi dari pengunjung.

Sensasi Klasik Tradisional yang Bikin Pelanggan Kepincut

Seorang pengunjung tengah menerima menu sego tewel yang ia pesan di warung Siti Sofiah. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Seorang pengunjung tengah menerima menu sego tewel yang ia pesan di warung Siti Sofiah. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Tampilan sego tewel sangatlah sederhana. Hanya nasi dan kuah tewel saja, tanpa ada lainnya. Meski demikian, kuliner ini mampu memikat pecinta kuliner. Yang ditonjolkan adalah cita rasa klasik warisan kuliner leluhur.

“Semuanya dikemas secara tradisional. Saya sengaja tidak menjual lauk selain tempe. Kalau saya jual lauk selain tempe, itu sama saja mengubah cita rasa dan konsep yang diwariskan pendahulu kami dalam menjual sego tewel,” terangnya.

Dari rasa klasik inilah yang mampu memikat banyak orang. Priyanto misalnya. Penikmat kuliner asal Brebes ini mengatakan, sensasi klasik berbalut tradisional menjadi salah satu alasan dirinya tergila-gila dengan sego tewel. Cita rasa yang gurih dan pedas dianggap menggugah selera makan.

“Di sini, semuanya serba tradisional. Nasinya hanya menggunakan sayur nangka muda atau dikenal dengan tewel. Lauknya cuma ada tempe goreng, kerupuk atau peyek. Nasinya dialasi menggunakan daun jati. Meski begitu, rasanya sangat enak. Justru nuansa tradisional itulah yang saya cari,” tuturnya.

Belum lagi, kata dia, harganya sangat terjangkau. Satu porsi saja, sego tewel dihargai dengan Rp 3 ribu. Tak ayal, satu orang dengan menu sego tewel, minuman, tempe, kerupuk atau peyek bisa dipastikan tak akan lebih dari Rp 10 ribu.

“Harganya juga murah. Meski terkadang saya harus melakukan perjalanan jauh dari Pati Kota menuju Desa Tambakromo yang berada di ujung Pati selatan selama setengah jam, tapi saya rela menempuhnya karena memang suka,” ujar pria yang kebetulan bekerja di wilayah Pati Kota ini.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar

© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status