Diterbitkan pada: Ming, Mar 27th, 2016

Ada Cerita Kemerdekaan dari Kue Moho Jajanan Khas Pati

Reporter:    /  @ 19:30:48  /  27 Maret 2016

 

Muhaji tengah menyusun kue moho yang baru selesai dimasak. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Muhaji tengah menyusun kue moho yang baru selesai dimasak. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Koran Muria, Pati – Kue moho yang merupakan jajanan tradisional khas Pati ternyata kaya akan filosofi. Tak sekadar menawarkan rasa yang manis, legit dan melekat di mulut, warna kue moho terinspirasi dari bendara Indonesia, yaitu merah dan putih.

Hal itu diakui Muhaji, produsen kue moho asal Desa Blaru, Kecamatan Pati Kota. Ia mengatakan, kue moho dibuat separuh merah dan putih terinspirasi dari kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Kue moho eksis mulai sekitar tahun 1970 an. Itu terinspirasi dari semangat kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena itu, kita kasih pewarna alami berwarna merah, sehingga hasilnya merah putih. Warna putih berasal dari warna alami tepung terigu,” kata Muhaji kepada Koran Muria.

Ia menambahkan, kue moho hanya dibuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana. Yaitu tepung terigu, gula, soda kue, dan pewarna alami yang diambil dari tumbuhan tertentu.

Salah satu ciri khas dari kue moho adalah cita rasanya yang manit mengigit dan melekat di rongga-rongga mulut. Orang Pati kadang menyebutnya “nyetak” atau melekat dan menempel.

“Orang Pati sudah mengenalkan sebagai jajanan yang melekat di mulut. Itu memang menjadi karakter dan ciri khas kue moho. Beda dengan kue lainnya, karena ini dibuat tanpa memakai telur,” imbuhnya.

Kue moho jajanan khas Pati yang terinspirasi dari warna bendera Indonesia. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Kue moho jajanan khas Pati yang terinspirasi dari warna bendera Indonesia. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Di pasar tradisional, kue moho bisa didapatkan dengan harga Rp 500. Sementara itu, harga dari produsen Rp 350 per biji. Kendati tidak terkenal di kota-kota besar, tetapi kue ini menjadi andalan bagi warga Pati.

“Peminat terbesar dari kalangan pedagang kecil di pasar-pasar tradisional. Tidak sampai keluar daerah. Kalaupun ada, cuma di Rembang dan Blora. Selain itu, tidak ada yang ambil. Ini masih menjadi jajanan yang menarik bagi kalangan petani di Pati,” jelasnya.

Selama 40 tahun bergelut memproduksi kue moho, Muhaji mengaku bisa cukup untuk menopang perekonomian keluarga. “Ini usaha warisan dari generasi ke generasi. Saya sendiri generasi ketiga. Alhamdulillah bisa mencukupi ekonomi keluarga,” pungkasnya.
Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar



© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status