Published On: Sun, Apr 10th, 2016

Memahami Kritik Sastra Poskolonial

Oleh: Gunoto Saparie, adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Oleh: Gunoto Saparie, Ketua Bidang Kerja Sama Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)

Teori poskolonialisme merupakan suatu kajian yang merefeksikan kembali masa kolonial, yakni interaksi antara penjajah (dalam hal ini Barat) dengan masyarakat pribumi (Timur). Ketika itu memang terjadi penguasaan dan penundukan secara totalitas terhadap masyarakat pribumi yang meliputi segala aspek, baik secara fisik maupun mental. Kondisi sosial kultural juga tidak luput dari hegemoni Barat.

Terbitnya buku Edward W. Said Orientalism (1978) boleh dibilang merupakan tonggak kelahiran teori poskolonial. Said menggunakan pendekatan hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Ia mengkritik secara sangat tajam hegemoni Barat terhadap Timur. Ia mengkritik kontruksi ideologis Barat atas Timur. Ia menelanjangi kepentingan-kepentingan Barat.

Mengacu pada pengantar Michael Foucault dalam The Archeology of Knowledge (1972) dan Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977), kaum orientalis berpendapat bahwa masalah studi ilmiah Barat mengenai Timur tidaklah semata-mata didorong oleh kepentingan pengetahuan, tetapi juga kepentingan kolonialisme. Pengetahuan bagi kaum orientalis adalah untuk mempertahankan kekuasaannya, yakni pengetahuan yang dipenuhi dengan visi dan misi politis ideologis. Studi tersebut juga semata-mata merupakan bentuk lain atau kelanjutan dari kolonialisme. Bangsa Timur dikontruksikan sebagai bangsa yang identik dengan irasionalitas, berakhlak bejat, kekanak-kanakan, dan “berbeda” dengan Barat yang rasional, bijaksana, dewasa, dan “normal”.

Gayatri Chakrovorty Spivak menulis pengantar untuk buku Jacques Derrida Of Grammatology (1982).  Spivak menolak segala kekuasaan yang menghambat dan membatasi, sekaligus mengungkapkan pengutamaannya atas kebebasan. Masyarakat yang tertekan dan terjajah, subaltern, harus berbicara, harus mengambil inisiatif, dan menggelar aksi atas suara mereka yang terbungkam.

Kritik poskolonial yang dikembangkan Spivak meliputi pemikiran posstruktualisme pada kritik sastra, filsafat kontinental, psikoanalisis, teori feminis, marxisme, dan posmarxisme. Secara umum poskolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam pengertian yang lebih luas, poskolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Dalam kaitan dengan kritik sastra, poskolonial dipahami sebagai suatu kajian tentang bagaimana sastra mengungkapkan jejak perjumpaan kolonial, yaitu konfrontasi antarras, antarbangsa, dan antarbudaya dalam kondisi hubungan kekuasaan tidak setara, yang telah membentuk sebagian yang signifikan dari pengalaman manusia sejak awal zaman imperialisme. Eropa.

 

Rekam Jejak Nasionalisme

Ini berarti, sesungguhnya kritik poskolonial adalah suatu jaringan sastra atas rekam jejak kolonialisme. Apabila ditelusuri dengan cermat, tentu banyak karya sastra Indonesia modern yang merekam jejak kolonialisme bangsa Barat dan Asia Timur Raya sepanjang sejarahnya. Atas dasar kenyataan sejarah bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari kolonialisme atau bangsa yang terjajah hingga ratusan tahun dan banyaknya karya sastra yang merekam jejak penjajahan, tentu sastra Indonesia modern menjadi gudang penelaahan poskolinialisme. Beberapa novel yang merekam jejak kolonialisme di Indonesia dapat dijadikan contoh telaah poskolonialisme.

Hal itu telah dilakukan Nyoman Kutha Ratna  dalam buku Postkolonialisme Indonesia: Relevansi Sastra (2008). Dalam buku itu Nyoman menelaah tiga belas novel yang merekam jejak kolonialisme, yaituCerita Nyai Dasima (G. Francis, 1896), Cerita Nyai Paina (H. Kommer, 1900), Max Havelar(Multatuli, 1860), Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspita, 1940), Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1922), Salah Asuhan (Abdoel Moeis, 1928), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisyahbana, 1937), Belenggu (Armijn Pane, 1940), Atheis (Achdiat Kartamihardja, 1949), Pulang (Toha Mohtar, 1958), Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer, 1981), Burung-Burung Manyar (Y.B. Mangunwijaya, 1981), dan Para Priyayi (Umar Kayam, 1992). Dalam ketiga belas karya sastra itu terekam secara jelas jejak kolonial bangsa Barat terhadap bangsa Indonesia, terutama masalah identitas bangsa.

Keith Foulcher dan Tony Day juga mengumpulkan beberapa artikel atau kertas kerja tentang kritik sastra postkolonial dalam buku Sastra Indonesia Modern: Kritik Postkolonial (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Koesalah Soebagiyo Toer dan Monique Soesman, yang diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2004). Beberapa karya sastra Indonesia yang dibicarakan dalam buku tersebut dan dianggap memilki kaitan dengan poskolonial adalah Sitti Noerbaja, Salah Asoehan, dan Durga Umayi karya J.B. Mangunwijaya.

Menurut Keith Foulcher dan Tony Day, ada dua topik utama pembicaraan tentang kritik poskolonial dalam sastra Indonesia, yaitu masalah bahasa dan identitas. Masalah bahasa berkaitan dengan pengaruh bahasa kolonial terhadap bahasa terjajah, cara pengungkapan postkolonilitas dalam teks sastra Indonesia, dan cara yang digunakan oleh para penulis bekas jajahan dalam mendekolonisasi (kesadaran kebangsaan) bahasa penjajahan besar. Sementara itu, masalah identitas berkaitan dengan masalah hibriditas, yakni masalah jati diri bangsa yang berubah karena adanya pengaruh budaya dari bangsa kolonial, termasuk mimikri (tindakan meniru) budaya kolonial oleh bangsa terjajah dan subaltern (kaum yang terpinggirkan atau orang yang terjajah).

 

Seluruh Aspek Kebudayaan

Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, meliputi hampir seluruh aspek kebudayaan, di antaranya politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik di lapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain. Sebagai akibat luasnya wilayah kajian wacana di satu pihak, perkembangan teori di pihak lain, sebagai traveling theory, poskolonialisme pada gilirannya meliputi hampir seluruh aspek kehidupan, khususnya aspek-aspek yang ada kaitannya dengan kolonialisme.

Karena itu, teori poskolonialisme, khususnya poskolonialisme Indonesia, melibatkan tiga pengertian. Pertama, abad berakhirnya imperium kolonial di seluruh dunia. Kedua, segala tulisan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman kolonial sejak abad ke-17 hingga sekarang. Ketiga, segala tulisan yang ada kaitannya dengan paradigma superioritas Barat terhadap inferioritas Timur, baik sebagai orientalisme maupun imperialisme dan kolonialisme.

Pengertian pertama di atas memiliki jangkauan paling sempit, poskolonialisme semata-mata sebagai wakil masa poskolonial. Di Indonesia mulai pertengahan abad ke-20, sejak Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus tahun 1945 hingga sekarang.  Pengertian kedua lebih luas, meliputi semua tulisan sejak kedatangan bangsa-bangsa barat di Indonesia untuk pertama kali, diawali dengan kedatangan bangsa Portugis dan Spayol awal abad ke-16 disusul oleh bangsa Belanda awal abad ke-17.  Sedangkan pengertian ketiga paling luas, dimulai sebelum kehadiran bangsa Barat secara fisik di Indonesia, tetapi telah memiliki citra tertentu terhadap bangsa Timur.

Sebagai cara pandang baru, poskolonialisme telah mampu menjelaskan objek secara berbeda, sehingga menghasilkan makna yang berbeda. Sebagai negara yang pernah menjadi kolonisasi selama hampir tiga setengah abad, jelas dalam khazanah kultural Indonesia terkandung berbagai masalah yang perlu dipahami sesuai dengan teori poskolonial.  Karya sastra merupakan objek yang dapat dianalisis dengan teori poskolonial, dan dengan sendirinya akan memberikan makna yang berbeda dibandingkan dengan teori-teori lain.

Teori poskolonialisme memiliki arti sangat penting, di mana mampu mengungkap masalah-masalah tersembunyi yang terkandung di balik kenyataan yang pernah terjadi. Secara definitif, poskolonialisme menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial. Poskolonialisme sangat sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang merdeka baru 70 tahun. Jadi, masih sangat banyak masalah yang harus dipecahkan, bahkan masih sangat segar dalam ingatan bangsa Indonesia.

Di samping itu, poskolonialisme memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, sedangkan kita sendiri juga sedang diperhadapkan dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Teori poskolonialisme dianggap dapat memberikan pemahaman terhadap masing-masing pribadi agar selalu mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan, kepentingan golongan di atas kepentingan pribadi.

Teori poskolonialisme juga memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan. Bahkan ia membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan psikis. WAJIB ADA DI OPINITeori poskolonialisme merupakan suatu kesadaran itu sendiri, bahwa masih banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperialisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya, baik material maupun spiritual, baik yang berasal dari bangsa asing maupun bangsa sendiri. (*)

About the Author

-