Published On: Tue, Apr 26th, 2016
Pati | By

Anak-anak PAUD Desa Wotan Pati Dikenalkan dengan Kartini Melalui Fashion Show Baju Adat

Pasangan peserta lomba fashion show dari anak-anak PAUD di Desa Wotan, Sukolilo tengah memperagakan busana tradisional. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Pasangan peserta lomba fashion show dari anak-anak PAUD di Desa Wotan, Sukolilo tengah memperagakan busana tradisional. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Koran Muria, Pati – Rangkaian kegiatan peringatan Hari Kartini masih dirayakan secara meriah oleh anak-anak pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan mengikuti lomba fashion show di Balai Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Pati, Selasa (26/4/2016).

Anak-anak PAUD itu bergaya seperti model berjalan di catwalk. Mereka berjalan meliuk-liuk di atas panggung dengan mengenakan kebaya tradisional khas Jawa.

Sontak, aksi bocah-bocah PAUD ini mengundang gelak tawa dari para penonton. Mereka gemas melihat anak-anak yang lucu mengenakan kebaya berjalan di atas panggung dengan gaya mirip orang dewasa.

“Kegiatan ini diharapkan bisa melatih mental anak-anak. Dengan bergaya di depan orang banyak, anak-anak akan semakin berani tampil di depan publik. Kami berharap kemandirian akan terlatih sejak dini,” ujar Siti Ngareni, salah satu juri lomba fashion show.

Peserta laki-laki didandani dengan pakaian tradisional dengan mengenakan bangkon. Mereka ada yang mengenakan jarik batik maupun celana. Sementara itu, peserta perempuan mengenakan kebaya lengkap seperti pada era Kartini.

Dalam kegiatan itu, anak-anak dikenalkan RA Kartini dan nilai-nilai luhur yang dirintisnya kepada generasi anak-anak. Penanaman nilai-nilai luhur kepada anak diperlukan, karena mereka dianggap cenderung lebih mudah menangkap pesan untuk menjadi bekal saat dewasa nanti.

“Anak-anak PAUD adalah generasi emas. Usia itu merupakan usia yang mudah ditanamkan nilai-nilai luhur dan kepribadian yang baik. Usia itu juga karakter seseorang akan terbentuk. Itulah kenapa peringatan RA Kartini ini kami adakan dengan melibatkan anak-anak PAUD,” ujar Ida Nurningsih, istri kades setempat.

Ia mengatakan, dewasa ini arus globalisasi begitu deras. Banyak busana modern dari barat yang berdatangan. Padahal, busana barat cenderung membuka aurat dan tidak sesuai dengan budaya timur.

Dengan lomba peragaan busana kebaya khas Jawa, anak-anak diharapkan bisa mengikuti tradisi tersebut. “RA Kartini sangat sopan. Busananya yang sopan mencerminkan kepribadian orang timur. Saya harap generasi ke depan bisa bangga mengenakan kebaya ketimbang busana tren terbaru yang justru bertentangan dengan budaya kita sebagai orang timur,” harapnya.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-