Published On: Wed, Apr 27th, 2016
Pati | By

Mabes TNI Punya Permintaan Khusus pada Bulog Pati

Rombongan dari Mabes TNI AD mengunjungi Kodim 0718/Pati untuk membahas masalah serapan gabah petani di Pati. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Rombongan dari Mabes TNI AD mengunjungi Kodim 0718/Pati untuk membahas masalah serapan gabah petani di Pati. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Koran Muria, Pati – Tim dari Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) Mabes TNI AD, medatangi Kabupaten Pati. Kedatangan tim ini mempunyai misi khusus, yakni untuk meminta Bulog Pati, agar mau meyerap gabah dari petani. Agar tak tidak jatuh di tangan tengkulak atau pebisnis yang kerap mempermainkan harga gabah.

Personel Mabes TNI AD yang datang itu merupakan bagian dari tim Sergap (Serap Gabah Petani) Pusterad TNI AD. Mereka meminta Bulog minimal harus menyerap 75 persen beras dari petani.

“Saat ini, kita masih perlu kerja keras. Setidaknya, 75 persen hasil panen harus diserap Bulog. Jangan sampai lepas ke tengkulak atau pebisnis,” ujar salah Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD Kol Czi Hilda Risman.

Bahkan, pihaknya menyatakan bila tengkulak sudah bisa dikatakan sebagai musuh bersama. Karena itu, ia meminta agar jajaran Kodim 0718/Pati bisa bekerja sama dengan lintas sektor untuk membenahi masalah tersebut.

“Serapan gabah petani ke Bulog saat ini masih belum terorganisir dengan baik. Kami meminta agar Danramil di masing-masing kecamatan bisa memetakan masalah tersebut. Komunikasi dengan Bulog, Dinas Pertanian, dan mitra bulog mesti ditingkatkan,” imbuhnya.

Ketua Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD Brigjen Basuki Abdullah mengatakan, saat ini Bulog Subdivre II Pati sampai saat ini baru menyerap gabah dari petani berkisar di angka 40 persen. Kendati begitu, Bulog Subdivre II Pati dianggap sudah cukup baik ketimbang Bulog Sub di daerah lainnya yang hanya mencapai angka 33 persen saja. Penyerapan gabah dari petani dinilai penting untuk stok pangan nasional.

“Bulog Subdivre sudah cukup baik ketimbang sub di daerah lainnya yang hanya berada di angka 33 persen dalam menyerap gabah dari petani. Kalau bisa, semua gabah dari petani diserap Bulog semua. Bila belum mampu, kita targetkan bisa menyerap minimal 75 persen,” ujarnya.

Ia mengatakan, TNI sekarang diberi mandat untuk mendampingi Bulog terkait dengan serapan gabah dari petani. Hal itu diharapkan agar stok pangan nasional bisa terpenuhi sehingga impor beras dari luar negeri dapat diantisipasi.

“Operasi Sergap akan selesai hingga akhir Mei 2016 mendatang. Dalam waktu sekitar 30 hari ke depan, Bulog harus bisa meneyarap gabah dari petani minimal 75 persen. Masih perlu kerja keras agar target itu bisa tercapai untuk stok beras nasional,” ungkapnya.

Stok beras dari Bulog tersebut akan dikeluarkan bila sejumlah hal yang tidak diinginkan, seperti harga beras melonjak tajam dan bantuan bencana. “Stok beras nasional itu nantinya digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Misalnya, saat harga beras naik atau bencana yang tidak diduga yang membutuhkan stok beras,” pungkasnya.

Sementara itu, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma menyatakan, akan mengerahan Bintara Pembina Desa (Babinsa) agar segera berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), gabungan kelompok tani (gapoktan), dan kepala desa.

“Kita akan tingkatkan komunikasi terkait dengan hasil panen dan kapan ditebasnya padi, termasuk komunikasi dengan pihak Bulog. Kita juga selalu mencari informasi apakah masih ada hasil panen yang dijual tengkulak atau tidak,” katanya.

Ia menambahkan, Bulog merupakan representasi dari pemerintah. Karenanya, pemerintah mesti dikawal untuk mengamankan swasembada pangan yang pada akhirnya diharapkan bisa menyejahterakan masyarakat.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-