Published On: Wed, Apr 27th, 2016
Kudus | By

Ada Pesan Tersirat dari Masjid Menara tentang Hari Jadi Kudus

Sarasehan bertajuk “Pesan Prasasti Masjid Al-Aqsha Menara Kudus" untuk meneguhkan Hari Jadi Kudus adalah 23 Agustus. (KORAN MURIA / EDY SUTRIYONO)

Sarasehan bertajuk “Pesan Prasasti Masjid Al-Aqsha Menara Kudus” untuk meneguhkan Hari Jadi Kudus adalah 23 Agustus. (KORAN MURIA / EDY SUTRIYONO)

Koran Muria, Kudus – Prasasti di atas mihrab yang ada di Masjid Al Aqsa Menara Kudus, memberi pesan tersirat bagi Hari Jadi Kabupaten Kudus. Dalam prasasti itu menyiratkan bahwa hari terbentuknya Kabupaten Kudus adalah 23 Agustus 1549, bukan 23 September 1549, seperti yang ditetapkan dalam Perda Nomor 11 Tahun 1990.

Hal ini mengemuka dalam sarasehan bertajuk “Pesan Prasasti Masjid
Al-Aqsha Menara Kudus” yang digelar Yayasan Masjid, Menara dan Makam
Sunan Kudus (YM3SK), di kompleks Masjid Menara Kudus, Selasa (26/4/2016) malam.

Munculnya keyakinan bahwa hari jadi Kabupaten Kudus adalah tanggal 23 Agustus, sesuai dengan tanggal dalam prasasti itu yang menyebut 19 Rajab 956 H. Tanggal ini jika disesuaian dengan penanggalan Masehi yakni tepat pada tanggal 23 Agustus 1549.

Mbah Ipud, kiai yang masih aktif sebagai pengajar di Madrasah Qudsiyyah Kudus menerangkan bahwa Masjid Al-Aqsa yang dibangun Sayyid Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus pada 19 Rajab tahun 956 H, merupakan deklarasi berdirinya Kudus. Maka menurut dia, Kudus berdiri pada hari itu, yang jika dikonversi ke tarikh umum menjadi 23 Agustus 1549.

“Kita meneguhkan apa yang terdapat dalam prasasti di atas mihrab Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, bahwa berdirinya Kudus ya 19 Rajab ini. Harapannya masyarakat bisa mengetahui ini dengan bukti prasasti yang ada. Tahun ini kita membawa suasana santri tempo dulu. Kalau tahun depan kita akan sesuaikan dengan fenomena yang ada di masyarakat,” terangnya.

Sementara itu, pakar falak, KH Saifuddin Luthfi, narasumber dalam sarasehan itu menyebut, tanggal 19 mempunyai banyak filosofi. Baik dalam hal beribadah maupun dalam hal pemerintahan.Ia menyebut, angka 19 melambangkan gabungan antara angka paling kecil dan paling besar.

“Kenapa 19 Rajab padahal tanggal 27 Rajab lebih bersejarah? Kira-kira
19 adalah perpaduan angka terkecil dan terbesar,” katanya.

Menurut dia, pesan Sunan Kudus dengan tanggal itu, agar Masjid Al-Aqsa digunakan untuk berjamaah sebanyak-banyaknya. Yakni ditandai dengan 1 imam dan 9 makmumm atau semaksimal mungkin.

Sementara dalam hal pemerintahan, angka 19 mempunyai arti angka 1 adalah pemimpin, dan sembilan adalah rakyat. “Sembilan melambangkan rakyat yang harus mengikuti pemimpinnya yang jumlahnya hanya satu,” ujarnya.

Sementara narasumber lain, Jadul Maula dari Lesbumi PBNU berpendapat, bahwa angka 1 melambangkan Yudhistira dengan pusaka Jamus Kalimosodo. Yang berarti setiap napas seseorang harus dzikir kepada Allah SWT.

“Sedangkan angka 9 adalah bala dewa atau batin kita. Jadi dzikir tidak hanya napas tapi merasuk sampai ke batin,” terangnya.

Sarasehan itu memang sengaja digelar untuk menegguhkan bahwa Kabupaten Kudus berdiri pada 19 Rajab 956 hijriyah atau 23 Agustus 1549 M. Peneguhan tersebut bertolak belakang dengan Hari Jadi Kabupaten Kudus yang ditetapkan melalui Perda Nomor 11 Tahun 1990, yang berbunyi Hari Jadi Kudus adalah 23 September 1549 M.

Selain dua narasumber itu, sarasehan itu juga menghadikan H. Em Nadjib Hassan (Ketua YM3SK), Drs Musaddad M.Hum (Arkeolog UGM), Dr Abdul Jalil MEI (akademisi).

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-