Published On: Thu, Apr 28th, 2016
Pati | By

SMA PGRI 2 Kayen Pati Siap Produksi Bahan Baku Pesawat dari Singkong

Kepala SMA PGRI 2 Kayen Surata (kanan) mendampingi kedua siswa menunjukkan komposit hasil penelitiannya. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Kepala SMA PGRI 2 Kayen Surata (kanan) mendampingi kedua siswa menunjukkan komposit hasil penelitiannya. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Koran Muria, Pati – SMA PGRI 2 Kayen menyatakan siap memroduksi komposit dari singkong dan serat batang pisang temuan dua siswanya, sebagai alternatif bahan baku pesawat maupun industri otomotif lainnya. Apalagi karya dua bocah desa itu juga sudah dilirik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk dikembangkan.

Undip telah menawarkan kerja sama kepada sekolah itu, untuk bersama-sama mengembangkan karya temuan Suprihatin dan Raafi Jaya Sutrisna. Bahkan tawaran ini sudah datang sebelum dua siswa itu meraih medali emas dalam ajang International Young Inventors Project Olympiad di Georgia, Minggu (24/4/2016) lalu.

Tawaran kerja sama dari Undip sendiri sudah dilakukan saat kedua siswa akan melaju pada Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). Namun hingga saat ini, baik pihak sekolah, maupun kedua siswa dan pembimbingnya, yakni Mohammad Rauf belum memberi jawaban.

“Sebetulnya sudah ada tawaran dari Undip waktu anak-anak melakukan penelitian, sebelum melaju ke ISPO. Namun, kami belum bisa menjawab karena tidak tahu apakah menang di ISPO atau tidak. Ternyata kita juara satu dan melaju ke tingkat internasional di Georgia. Kita malah dapat medali emas di Georgia,” ujar Kepala SMA PGRI 2 Kayen Surata, Kamis (28/4/2016).

Ia mengatakan, pihaknya memang belum bisa memberikan jawaban. Karena kesepakatan untuk mengambil kerja sama diserahkan kepada kedua siswa dan pembimbingnya.

“Sebab, mereka yang berjuang melakukan penelitian dan menemukan produk komposit yang tahan api, awet, tahan korosi, kuat dan ringan dari bahan kulit singkong dan serat batang pisang,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya mengaku siap bekerja sama dengan industri otomotif bila produk komposit temuan kedua siswanya akan digunakan sebagai bahan interior mobil, kapal atau pesawat terbang.

“Awalnya kita ragu kalau produk ini menjadi alternatif untuk bahan interior otomotif. Namun, setelah mendapatkan juara pertama pada ISPO, kami semakin yakin. Keyakinan semakin kuat, setelah juri IYIPO mengakui karya ini sebagai produk yang brilian,” paparnya.

Bahkan, juri sempat memberikan harapan bila karyanya itu bisa menjadi produk alternatif di Indonesia. Karena itu, pihaknya saat ini sanggup bekerja sama bila ada perusahaan otomotif yang melirik komposit buatan siswanya.

“Kalau memang ada yang mau kerja sama, kami akan ambil bahan kulit singkong di Margoyoso. Di sana, setiap harinya mampu memproduksi limbah kulit singkong hingga 350 kilogram. Kalau serat batang pisang bisa ditemukan di mana-mana. Kami siap memproduksi komposit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penggabungan komposisi karbon aktif kulit singkong dan serat batang pisang, bisa menaikkan kuat tarik dan menurunkan titik nyala pada komposit. Dengan begitu, kedua bahan itu bisa dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku industri otomotif.

“Pengujian kekuatan tarik sudah dilakukan di Laboratorium Metalurgi Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang. Sedangkan pengujian ketahanan termal dilakukan di laboratorium sekolah sendiri. Kami siap bila ada industri yang mau bekerja sama,” harapnya.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-