Published On: Fri, Apr 29th, 2016

Diajak Curhat Bupati, MUI Minta Lokalisasi di Grobogan Ditutup

 

Kegiatan ramah tamah yang digelar Bupati Grobogan Sri Sumarni dengan ulama, tokoh masyarakat dan lainnya. (KORAN MURIA / DANI AGUS)

Kegiatan ramah tamah yang digelar Bupati Grobogan Sri Sumarni dengan ulama, tokoh masyarakat dan lainnya. (KORAN MURIA / DANI AGUS)

 

Koran Muria, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni mempunyai cara sendiri untuk menampung keluhan maupun aspirasi dari rakyatnya. Jumat (29/4/2016) pagi tadi, bupati perempuan pertama di Grobogan itu, mengajak warga saling curhat.

Mereka diundang di pendapa kabupaten, dan saling menyampaikan apa yang diinginkan dan dikeluhkan. Acara itu digelar tak begitu formal, baik bupati dan warga saling curhat dengan duduk lesehan di pendapa kabupaten.

Perwakilan warga, organisasi kemasyarakatan (ormas), LSM maupun awak media, diajak berembug bareng tentang pembangunan Kabupaten Grobogan. Sekitar 200 orang hadir dalam acara yang digelar lesehan tersebut. Selain itu, hadir pula hampir semua pimpinan SKPD setempat.

Termasuk di antaranya para ulama di dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Grobogan, juga hadir dalam kegiatan itu. Dalam kesempatan ini MUI meminta pemerintah tegas menutup lokalisasi di daerah itu, karena menyumbang peredaran HIV/AIDS di Grobogan.

Salah satu usulan yang dilontarkan adalah dengan menutup lokalisasi yang ada di kawasan kota. Tepatnya, di kompleks tanah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang selama ini disewa Pemkab Grobogan, untuk kepentingan umum.

“Adanya lokalisasi di tengah kota itu sungguh memprihatinkan sekali. Sebaiknya, lokalisasi itu ditutup saja,” kata Sekretaris MUI Grobogan Mahbub Ulil Albab.

Usulan penutupan lokalisasi di bekas stasiun itu dinilai cukup rasional. Sebab, tempat itu sangat mudah diakses banyak orang. Masalahnya, di sekitarnya digunakan untuk berjualan pedagang sayuran, pertokoan dan sebagian juga dijadikan rumah. Selain itu, lokalisasi tersebut juga berhimpitan dengan perkampungan warga.

“Adanya lokalisasi dan kafe karaoke ini mengurangi citra Grobogan sebagai salah satu wilayah religius. Hal ini hendaknya disikapi dengan tegas,” cetusnya.

Selain itu, ada beberapa masukan lainnya yang disampaikan pada bupati. Seperti soal pupuk, jalan rusak, perizinan, dan kesehatan.

Sementara Sri Sumarni menyatakan, acara ramah tamah digelar untuk mendekatkan diri dengan berbagai komponen masyarakat. Dengan upaya ini, diharapkan bisa saling mengenal dan berbagi informasi berbagai bidang yang ada di Grobogan.

“Seperti diketahui, saya baru sebulan menjabat bupati. Jadi perlu mengenal dan bertatap muka secara langsung dengan berbagai komponen masyarakat. Di antaranya dengan LSM, ormas dan awak media,” katanya.

Sri juga memberikan kesempatan pada peserta yang hadir untuk menyampaikan secara langsung masukan, kritik dan saran. Namun, sebelumnya dia sudah menegaskan jika masukan tersebut belum tentu bisa diselesaikan saat itu juga.

“Semua kepala SKPD kita datangkan semua. Mereka ini akan menjawab semua masukan atau pertanyaan. Kalau bisa kita selesaikan sekarang akan langsung ditindaklanjuti. Tetapi kalau butuh proses tentu butuh waktu untuk melakukan penanganan,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-