Published On: Sun, May 1st, 2016
Piknik | By

Berlibur ke Lombok, Mampirlah ke Permukiman Suku Sasak

Tenun Sasak Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. (KORAN MURIA /RIFQI GOZALI)

 

Koran Muria – Mengeksplorasi Indonesia memang tidak pernah ada habisnya. Mulai dari alam hingga budayanya. Bagi kalian para traveler yang belum pernah menyambangi pulau Lombok, mungkin perlu merencanakan diri kesana. Segeralah menabung demi membuka cerita petualanganmu di pulau Seribu Masjid itu.

Di antara kekayaan Lombok adalah keberadaan Suku Sasak. Mereka berdarah asli Burma. Jika ada kesempatan, pergilah ke sebuah Desa di Lombok Tengah, yakni Desa Rembitan, Pujut.

Desa itu masih menjunjung tinggi nilai adat Suku Sasak. Mereka hidup di rumah khasnya, Bale. Ada beberapa Bale di kawasan tersebut. Di antaranya Bale Tani, merupakan rumah yang biasa ditinggali Suku Sasak yang berprofesi sebagai petani.

Selain itu ada juga Bale Lumbung, bentuknya yang sangat unik dan menarik yaitu berupa rumah panggung dengan ujung atap yang runcing kemudian melebar sedikit, lalu lurus ke bawah dan bagian bawahnya melebar kembali dengan jarak atap 1,5 sampai 2,0 meter dari tanah dan diameter 1,5 sampai 3,0 meter.

Atap dan bubungannya dibuat dari jerami atau alang – alang, dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bedek), lantainya menggunakan papan kayu dan bale lumbung ini disangga oleh empat tiang yang terbuat dari tanah dan batu sebagai fondasi.

Bagian atap dari Bale Lumbung merupakan suatu ruangan yang digunakan untuk menaruh padi hasil dari beberapa kepala keluarga. Bentuknya berupa rumah panggung, dimaksudkan untuk menghindari hasil panen rusak akibat banjir dan serangan tikus.

 

Sedangkan, untuk Bale Tani, di tengahnya terdapat tangga yang menghubungkan antara sesangkok (serambi) dan Bale Dalem (kamar) serta Pawon (dapur). Dari tangga tersebut terdapat tiga anak tangga yang memiliki makna, bahwa mayarakat Sasak memiliki ajaran Islam Wetu Telu. Penggabungan antara Islam, Hindu dan Budha. Ajaran Islam tradisional yang konon sampai saat ini masih dilestarikan masyarakat Sasak.

Bale Tani ini memiliki satu pintu masuk yang kecil dan tanpa jendela. Atapnya terbuat dari alang – alang membentuk limasan yang memanjang hingga ujung atapnya (serambi) mendekati tanah. Dinding dan penyekat setiap ruangan terbuat dari Bedek (anyaman bambu), sedangkan tiang penopang rumah terbuat dari batangan bambu dan selain itu bambu juga digunakan membuat paku.

Bale Tani memiliki lantai yang terbuat dari kombinasi antara tanah liat, batu bata, abu jerami, getah pohon dan kotoran sapi atau kerbau. Kombinasi antara tanah liat dan kotoran ternak dilakukan karena dapat membuat lantai tanah mengeras, selain itu mereka terbiasa melapisi lantai dengan kotoran ternak untuk menjaga agar lantai tidak retak, rumah menjadi lebih hangat dan pengusir nyamuk. Walaupun dilapisi oleh kotoran ternak tetapi rumah tidak menjadi bau karena kotoran sudah dibakar dan dihaluskan terlebih dahulu.

Ruangan pada Bale Tani terdiri dari Bale Luar atau disebut juga Sesangkok (serambi) yang digunakan sebagai tempat menerima tamu dan kamar tidur dan juga Bale Dalam yang terbagi lagi menjadi Dalem Bale (kamar) dan Pawon (dapur). Dalem Bale ini khusus digunakan oleh anggota keluarga perempuan, di antaranya tempat menaruh harta berharga, ruang tidur anak gadis, ruang persalinan, dan ruang menaruh jenazah sebelum dikuburkan.

Di setiap rumah adat Sasak, pasti terdapat Gazebo. Orang Sasak biasa menyebut Brugag. Bagi kaum bangsawan, ada Brugak Sekenem di depan rumah mereka. Brugag Sekenem merupakan gazebo dengan enam tiang.

Sementara bagi masyarakat Sasak kalangan biasa terdapat Brugag Sekepat di depan rumah mereka. Brugag Sekepat, merupakan gazebo dengan empat tiang. Fungsi dari Brugag amatlah vital bagi kearifan lokal masyarakat Sasak. Biasanya untuk menjamu tamu, berkelakar ringan antartetangga, bahkan makan pun biasa dilakukan di Brugag.

Bisa dikatakan, bahwa Brugag merupakan media untuk saling tukar pikiran maupun komunikasi ringan yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat sasak.

KORAN MURIA/RIFQI GOZALi

KORAN MURIA/RIFQI GOZALi

Begitulah kenampakan fisik rumah adat suku sasak. Selain keunikan rumah adatnya juga terdapat budaya unik khas Suku Sasak. Dedare, sebutan gadis bagi masyarakat Suku Sasak, yang hendak menikah dengan Terune, atau jejaka, harus bisa mengusai perihal tenun-menenun.  Jika Dedare belum mahir, maka, belum bisa melangsungkan pernikahan.

Adat istiadat suku sasak dapat disaksikan pada saat resepsi perkawinan. Perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu ke rumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan Merarik atau pelarian.

Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman.

Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki.Tentu menikahi gadis dengan meminta izin kepada orang tuanya (redaq) lebih terhormat daripada mencuri gadis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, namun proses seperti ini sudah sangat jarang ditemukan karena kebiasaan orang Sasak lebih dominan mencurinya supaya tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak disetujui orang tua gadis atau keterbatasan kemampuan dalam hal materi karena proses “redaq” biasanya menghabiskan biaya yang lebih besar daripada melarikan gadis (merarik) tanpa izin.

Dalam proses pencurian gadis, setelah sehari menginap, pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. ‘Nyelabar’, istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orang tua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.

Rombongan ‘Nyelabar’ terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang ke keluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekadar rasa penghormatan kepada Kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila di halaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.

Editor : Akrom Hazami

About the Author

-