Published On: Sun, Jun 12th, 2016

Janda

 

Katie Hoffman

Katie Hoffman

Oleh: Gunoto Saparie

Perempuan itu menarik napas panjang. Lega rasanya. Sejuk hatinya. Siang yang terik tidak begitu terasa baginya. Baru saja Pengadilan Agama mengabulkan gugatan cerainya. Ini berarti, status dia dengan Erwin bukan lagi suami-istri. Kini dia menjadi seorang janda.

“Akhirnya selesai sudah,” ia berbisik kepada dirinya sendiri.

Perempuan berwajah oriental itu keluar gedung Pengadilan Agama yang catnya mulai memudar itu. Tubuhnya yang tinggi semampai dan cantik itu menarik perhatian orang-orang yang duduk di teras kantor tersebut. Bahkan ada yang bersuit. Perempuan itu terus berjalan menuju ke halaman parkir. Dengan sepatu highheel langkahnya berdetak-detak. Rok pendeknya menampilkan keindahan betis dan jenjang kakinya.

Lalu ia membuka pintu mobil Yaris-nya. Duduk di belakang kemudi. Mengulurkan uang Rp2.000 kepada tukang parkir liar yang menjengkelkan. Menjalankan mobil keluar halaman. Melewati jalan raya yang ramai. Masuk jalan tol. Mengebut. Terus menggeber gas. Tak peduli jarum di speedometer menunjuk angka 100, bahkan sampai 120 dan kadang 140. Ia makin mempercepat laju mobilnya sampai bagaikan melayang.

“Merdeka!” tiba-tiba ia berteriak sekeras-kerasnya.

Mobilnya menyalip bus, truk, sedan… Ia membuka kaca jendela, mengeluarkan tangannya, mengepal. Merayakan kemerdekaannya.

“Merdeka!” pekiknya lagi berbareng dengan angin yang bersirobok menampar wajahnya lewat jendela.

Ya, kini perempuan itu merasa bebas dan merdeka. Tanpa terikat siapa-siapa. Kebetulan perkawinannya dengan Erwin tak dikarunai seorang anak pun. Ia pun tak peduli, apakah Erwin yang mandul atau ia sendiri. Kini tak bakal ada lagi sms bernada cemburu Erwin. Tak ada lagi mulut nyinyir Erwin bernada curiga. Tak ada lagi telepon Erwin menanyakan, “Kamu di mana? Sedang apa? Bersama siapa?” Sms dan telepon yang cukup mengganggu dan merepotkan. Membosankan dan memuakkan. Kemerdekaan memang harus diperjuangkan.

“Alangkah indahnya hidupku mulai sekarang. Hidup yang damai tanpa pertengkaran. Tak ada lagi lelaki sialan yang disebut suami,” perempuan itu menggumam sambil memegang kemudi erat-erat. Ia menutup jendela kaca. Gas terus ditekannya dalam-dalam. Mobil pun melaju sangat kencang.

Perempuan itu bernama Dewi. Ia bekerja di sebuah hotel bintang tiga di kotanya. Tentu tak ada yang salah dengan pekerjaannya sebagai manajer pemasaran di hotel itu. Tetapi perkawinannya dengan Erwin boleh dibilang tiada hari tanpa pertengkaran. Ada-ada saja pemicunya. Pulang terlalu malamlah. Makan siang dengan klien gantenglah. Berduaan dengan bos dalam satu mobillah. Menerima sms dari laki-lakilah. Mendapatkan hadiah buku dan bunga dari om-om genitlah…

“Kamu itu keterlaluan, mas. Kamu salahkan aku terus. Nggak pernah tindakanku ada yang kamu anggap benar,” kata Dewi.

“Kamu itu salah kok nggak mau disalahkan. Memang kamu merasa benar?” balas Erwin.

“Kalau aku pulang malam kan memang ada urusan pekerjaan…”.

“Pekerjaan? Berhahahihi dengan laki-laki bukan suami itu pekerjaan? Berpelukan dengan laki-laki lain itu pekerjaan? Pekerjaan apaan tuh?”.

Pertengkaran pun memanas. Apalagi kalau harga diri Erwin sebagai lelaki mulai disinggung.

“Aku bekerja untuk mencari uang. Aku profesional. Aku tahu norma agama. Aku ngerti norma susila. Aku bekerja keras sampai kadang pulang larut malam untuk kebutuhan keluarga. Untuk pendidikan anak-anakku, untuk biaya hidup keluarga, untuk makan  kamu juga. Kalau aku nggak bekerja, kamu mau makan apa hah?”, Dewi tak kalah kerasnya.

“Kamu menghinaku ya? Mentang-mentang punya jabatan di kantor lalu tidak menghargai suami sendiri. Kamu lebih menghargai laki-laki lain. Mulai besok aku, sebagai suamimu, nggak mengizinkan kamu bekerja”.

Dewi tertawa mengejek. Setelah dipecat dari pekerjaannya sebagai karyawan sebuah perusahaan konstruksi karena kasus asusila di kantor, Erwin kini praktis tidak memiliki penghasilan. Sehari-hari ia lebih banyak berada di depan komputer, bersilancar ke dunia maya. Membuka facebook, berkicau di twitter. Kalau suatu ketika keluar rumah, paling-paling bermain ke rumah temannya, mengobrol, minum kopi, main kartu, main gitar, atau menggoda perempuan lewat.

“Kalau aku nggak bekerja, terus istri dan anak-anakmu akan diberi makan apa? Batu? Mikir. Mengaca dong!”.

Erwin mendengus.

“Mau makan batu kek, makan kayu kek, itu urusan kalian. Mulai besok aku nggak akan makan uang harammu.”

“Uang haram? Uang haram apa maksudmu hah?”

“Jangan pura-pura nggak tahu. Jangan kura-kura dalam perahu. Jangan sok alim.”

Pertengkaran tentu saja makin hebat. Dewi masuk kamar. Membanting pintu dan menguncinya. Ia mencoba tidak menangis. Ia mencoba tegar, betapapun sakit dan perih hatinya.

Hidup memang tak semudah melintasi lapangan. Dewi ingat betul itu kata-kata penyair Rusia, Boris Pasternak. Ternyata tidak gampang membangun rumah tangga. Apalagi bersuamikan seorang seperti Erwin. Seorang yang sangat pencemburu. Overprotective. Seorang yang bersumbu pendek. Gampang terbakar. Gampang meledak hanya gara-gara masalah sepele.

Dewi pada mulanya mencoba bersabar. Tetap berusaha menjadi istri yang baik. Menyiapkan sarapan, menyediakan kopi susu kesukaan Erwin. Menyediakan handuk ketika Erwin akan mandi. Menyediakan diri ketika Erwin ingin bercinta. Tetapi kesabaran ternyata ada batasnya.

Memang, sejak Erwin menganggur dan pekerjaannya hanya mencari pekerjaan secara tidak serius, pertengkaran sering terjadi. Karena tidak punya pekerjaan, Erwin menjadi suka usil. Ponsel istrinya dibuka-buka. Kalau menemukan kata-kata yang dianggap mencurigakan, langsung menghardik.

Dewi ingat, suatu ketika pagi-pagi ada sms masuk dari sahabatnya, Sulistyowati. Di phone book-nya tertulis nama Sulis, panggilan Sulistyowati: “Say, selamat pagi. Nanti kita makan siang di mana?”.

Ketika sms itu masuk, Dewi sedang pipis di kamar mandi. Erwin yang memang suka usil itu membuka ponsel istrinya. Ia pun terkejut membaca kalimat mesra. Meskipun Dewi menjelaskan kalau itu sms dari Sulistyowati, Erwin tetap memberondong dengan kata-kata pedas.

“Ternyata selama ini kamu memiliki laki-laki lain ya. Siapa dia? Siapa ini yang mengajakmu makan siang nanti? Sejak kapan kamu menjadi pengkhianat?”

“Itu sms dari Sulis, mas. Itu Sulistyowati. Dia memang biasa memanggilku ‘say’. Itu panggilan biasa. Beberapa teman cewekku pun saling menyebut dan menyapa begitu.”

“Kelihatan bohongnya kan? Nggak mungkinlah sesama perempuan saling menyapa dengan mesra. Emang kalian pasangan lesbian? Sulis itu pasti laki-laki. Entah itu Sulistyanto, Sulistyo…”.

“Hati-hati kalau berbicara, mas. Kamu boleh meneleponnya sekarang kalau nggak percaya.”

“Meneleponnya? Menelepon selingkuhanmu itu? Bilang saja ke dia, kalau aku, suamimu ini, sangat keberatan dengan sms mesra itu. Aku pun nggak mengizinkan kamu makan siang dengannya.”

Emang apa peduliku? Makan siang dengan uangku sendiri kok kamu melarang? Emang uangmu yang kupakai untuk menraktir Sulis? Kita putus saja. Cerai saja. Percuma punya suami kayak kamu!”

Pertengkaran untuk kesekian kalinya pun pecah. Membuka pagi yang seharusnya indah. Dewi pun mengambil tas dan kunci mobilnya. Melangkah dengan cepat ke halaman. Menuju ke mobilnya. Menyalakan mesin dan segera melajukan mobil meninggalkan suaminya yang terus memaki-maki.

“Jadi inikah yang namanya berumah tangga?” Dewi menggumam.

Dewi membuka kaca mobilnya. Ia masih berada di jalan tol. Ia memperlambat laju mobilnya. Pindah ke jalur kiri. Beberapa mobil di belakangnya membunyikan klakson. Dewi mencoba menyalakan rokok. Menghembuskan asapnya ke luar hidungnya yang bangir itu. Ia melirik ke spion. Di belakang ada beberapa mobil ingin menyalip. Ia memberi jalan.

“Jadi beginikah rasanya menjadi janda?”

Dewi mengikik. Tertawa sendiri. Ia ingat teman sekantornya yang juga janda karena ditinggal mati suaminya. Ia ingat cerita temannya itu tentang suara-suara negatif terhadap dirinya karena predikat janda. Tentang pandangan sinis tetangga. Tentang pandangan nakal para lelaki hidung belang. Tentang kakek-kakek tak tahu diri yang mengajak menikah. Tentang kesepiannya malam-malam…

“Tetapi kini aku bebas,” kata temannya itu tertawa. “Dulu untuk memindah channel televisi saja sulitnya bukan main. Apalagi kalau sedang ada siaran sepak bola. Remote control selalu di tangannya.”

Dewi membelokkan mobilnya ke rest area. Dia tak peduli lagi sekarang di mana Erwin. Mungkin pulang ke rumah sehabis sidang perceraian yang melelahkan itu. Atau mungkin pulang ke rumah orang tuanya di kampung. Atau barangkali main ke rumah temannya. Atau mungkin bunuh diri… Entahlah. Dewi tak ambil peduli. Erwin telah menjadi orang lain. Ia hanya bekas suami.

Dewi memesan es jeruk. Mengaduknya. Menyeruputnya. Sejuk di kerongkongan. Hari ini ia tidak masuk kantor. Ia sudah izin ke bosnya. Ia pun tidak ingin pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk menginap di hotel saja. Ia ingin menikmati kesendiriannya. Memanjakan dirinya sendiri. Ah, hari pertama menjadi seorang janda. Ia pun mematikan ponselnya.

“Akhirnya selesai sudah,” gumam Dewi.

Soal rumah dan harta gana gini lain telah ia serahkan segala urusannya kepada seorang pengacara. (*)

 

Oleh: Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Oleh: Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Taman Karonsih Semarang, 2015.

About the Author