Published On: Sun, Jun 19th, 2016

Kebijaksanaan dari Si Burung Tidur

f-resensi (E)

Peresensi : Arif Rohman

 

Judul : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis : Eka Kurniawan

Cetakan : Ketiga, Desember 2015

Tebal: 243 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-2470-8

Dicetak lagi dengan sampul baru. Bergambar burung hitam dengan lambang hati di dadanya. Burung itu keok dan bulu-bulunya beterbangan seperti habis ditembak mati oleh pemburu. Begitulah rupa sampul novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan.

Cerita bermula saat Ajo Kawir berumur belasan tahun. Bersama Si Tokek, temannya, mengintip dua polisi yang memerkosa perempuan gila. Ajo Kawir terpeleset dan menimbulkan bunyi keras. Si Tokek berhasil kabur ke semak-semak.  Sedang Ajo Kawir tertangkap dua polisi tersebut. Ajo Kawir dipaksa polisi itu untuk ikut memerkosa perempuan gila. Nahas, mulai saat itu burung di selangkangan Ajo Kawir tertidur pulas.

Setelah membaca Lelaki Harimau dan O, serta novel ini, saya menemukan kecenderungan Eka dalam menulis novel. Ia suka menyampaikan cerita sepotong-sepotong. Mirip permainan Puzzle. Pembaca diajak menyusun gambaran utuh ceritanya sekeping demi sekeping. Gaya bercerita semacam ini kerap membuat pembaca penasaran akan kelanjutan cerita.

Dibanding kedua novelnya yang lebih dulu terbaca, menurut saya, pembagian potongan cerita dalam novel ini kalah menarik. Barangkali, perlu dibaca berulangkali. Dari halaman ke halaman, beberapa kali timbul pertanyaan: ini potongan cerita terkait dengan adegan cerita yang mana?

Eka pernah bilang dalam jurnalnya (ekakurniawan.com), kalau novel bagus, dibaca berulang kali pun tetap enak dibaca. Barangkali itu tujuan Eka menulis dengan gaya “Puzzle” ini.

Sedangkan, ending yang ditawarkan Eka dalam novel ini, menurut saya lebih menarik dari dua novel sebelumnya. Dalam Lelaki Harimau (Cet. 3, 2015) kita mendapati awal cerita adalah akhir cerita pula. Sebuah trik mengakhiri cerita yang tak lumrah. Dalam novel O (Cet. 1, 2016), cerita berakhir dengan datar-datar saja. Klimaks cerita, barangkali ada pada banyak bagian novel itu. Seperti kita tahu novel O merupakan novel yang menaungi banyak cerita di dalamnya seperti Kisah Seribu Satu Malam.

Sedangkan dalam novel yang bercap 21+ ini, akhir cerita adalah klimaks dari masalah yang timbul di permulaan cerita: dari Si Burung yang tertidur sampai terbangun. Meskipun akhirnya, Si Burung kembali bangun, ending cerita tidak cocok disebut Happy Ending.

Kemesuman dan Kebijaksanaan

Walau kepingan cerita disampaikan tak semenarik dua novel Eka yang lain. Novel ini lebih cepat saya selesaikan membacanya. Apakah karena mirip buku stensilan? Mungkin. Haha.

“Iwan Angsa memberinya buku-buku tipis stensilan, karya Valentino, yang sekali waktu dibelinya dari terminal bis. …. Tangannya sibuk membuka buku itu, halaman demi halaman. Jelas ia sangat menikmatinya. Tak ada orang yang tak menikmati buku seperti itu.” (hlm 36-37)

Membaca novel ini kita teryakinkan atas pengakuan Eka yang suka dengan gaya kepenulisan buku horor-mesum milik Abdullah Harahap. Adegan demi adegan buku ini, kerap kali mencipta imaji “porno”. Meski kalimat terbentuk dari kata-kata yang tak sepenuhnya porno. Selagi pembaca menikmati cerita mirip buku stensilan, juga bisa merenungi dan mengambil pelajaran dari kemaluan Ajo Kawir, sebagaimana tokoh utama itu beranggapan.

“Ia hampir lupa telah berapa lama Si Burung tidur. Belasan tahun? Dua puluh tahun? Tuhan pernah membuat orang-orang saleh tertidur selama ratusan tahun di gua, pikirnya. Tepatnya tiga ratus sembilan tahun. Jika di dunia ini ada kemaluan yang budiman, ia berpikir sambil tersenyum menertawakan dirinya, itu adalah Si Burung. Si mahaguru yang menjalani langkah sunyi.” (hlm 127)

“Hidup adalah kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apa pun. Aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung.” (hlm 123)

*)Penulis resensi tinggal di Kudus.

About the Author