Published On: Sat, Jul 2nd, 2016

Grobogan Ingin Salip Blora dalam Urusan Sapi

grobogan bupati (E)

Bupati Grobogan Sri Sumarni melihat bantuan peralatan dan ternak yang akan diserahkan pada kelompok, Sabtu (2/7/2016). (Koran Muria/Dani Agus)

Koran Muria, Grobogan – Kabupaten Grobogan Ingin sekali bisa menyalip Kabupaten Blora, dalam urusan sapi. Karena itu, pemerintah membuat sentra peternakan rakyat (SPR) atas ternak ini.

Saat ini, potensi sapi potong di Grobogan, masih nomor dua di Jawa Tengah. Tepatnya di bawah Blora. Pemkab sendiri terus menggenjot dan meningkatkan populasi yang ada, sehingga nantinya bisa menyalip Blora.

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengatakan hal itu saat menghadiri launching dan deklarasi Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Subur Makmur Sejati, serta penilaian lomba inseminator dan penyerahan hibah kelompok ternak yang dilangsungkan di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan, Sabtu (2/7/2016).

”Sejauh ini, populasi sapi kita mencapai 170 ribu ekor. Di tingkat Jateng, banyaknya sapi di Grobogan ini nomor dua setelah Blora. Dengan adanya SPR ini, populasi sapi harus bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap daging ini makin meningkat. Tetapi sebagian daging itu terpaksa didatangkan dari luar, karena produksi dalam negeri belum mencukupi.

”Kondisi ini, di sisi lain merupakan peluang untuk mengembangkan sapi potong. Selain dengan SPR, untuk mempertahankan populasi sapi, saya meminta Disnakkan memaksimalkan program inseminasi buatan,” tegasnya.

Program inseminasi buatan, disebut Sri Sumarni, terbukti bisa menghasilkan sapi yang berkualitas. Selain itu, upaya lainnya adalah menekan tingkat penyembelihan sapi betina. Khususnya sapi yang masih dalam usia produktif.

”Saya minta agar Disnakkan terus mengawasi masalah ini. Pemotongan sapi betina ini harus dicegah agar tidak memotong rantai produksi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto menambahkan, SPR yang ditempatkan di Desa Boloh, Kecamatan Toroh, adalah pusat pertumbuhan komoditas peternakan dalam satu kawasan.

”Ini sebagai media pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Di mana, di dalamnya terdapat populasi ternak tertentu yang dimiliki oleh sebagian besar peternak, yang bermukim di satu desa atau lebih,” imbuhnya.

Editor: Merie

About the Author

-