Published On: Sat, Dec 10th, 2016

Grobogan Diberi Tambahan 6.750 Ton Pupuk 

Petani tengah menebar pupuk di sawah. Kabupaten Grobogan mendapat tambahan sebanyak 6.750 ton pupuk untuk mengurai kelangkaan yang terjadi sejak beberapa waktu lalu. (KORAN MURIA / DANI AGUS)

Petani tengah menebar pupuk di sawah. Kabupaten Grobogan mendapat tambahan sebanyak 6.750 ton pupuk untuk mengurai kelangkaan yang terjadi sejak beberapa waktu lalu. (KORAN MURIA / DANI AGUS)

 

 

Koran Muria, Grobogan – Bupati Sri Sumarni memastikan Grobogan mendapat tambahan alokasi pupuk dari pemerintah pusat sebanyak 6.750 ton, untuk memecah masalah kelangkaan pupuk. Sehingga jika ada petani yang kesulitan mendapatkan pupuk, diminta untuk segera melapor pada perangkat desa.

Hal ini ditegaskan Sri Sumarni saat menghadiri acara temu lapang inovasi teknologi perbenihan bawang merah di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Sabtu (10/12/2016).

“Beberapa pekan lalu memang sempat ada kesulitan mendapat pupuk, karena persediaan sudah menipis. Setelah kita laporkan ke pusat, sekarang alokasinya sudah ditambahi. Jadi, sekarang ini tentunya sudah tidak ada lagi kelangkaan pupuk. Kalau masih sulit cari pupuk, segera laporkan,” katanya.

Dikatakan, permintaan tambahan alokasi itu dilakukan karena saat ini para petani sudah memasuki musim tanam I. Dengan kondisi itu maka kebutuhan pupuk dipastikan meningkat hingga penghujung tahun 2016.

“Saya tahu persis kondisi dilapangan. Soalnya, dulu sempat berkecimpung lama dalam urusan pupuk,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, alokasi tambahan pupuk yang didapat totalnya sebanyak 6.750 ton. Terdiri, 1.100 ton pupuk jenis SP-36, 850 ton ZA, 1.500 ton organik, dan 4.280 ton NPK atau Phonska.

“Untuk pupuk jenis Urea tidak ada tambahan alokasi karena persediaan atau stoknya masih mencukupi. Dengan tambahan alokasi ini kita perkirakan sudah mencukupi kebutuhan petani hingga akhir tahun,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu penyebab kelangkaan pupuk disejumlah wilayah itu disebabkan adanya perubahan iklim. Dimana, kondisi musim kemarau tahun ini yang cenderung basah karena banyak curah hujan, mengakibatkan ada penambahan areal tanaman padi.

Hal ini menjadikan kebutuhan pupuk dilapangan naik dari yang sudah disusun dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) awal tahun lalu. 

“Perubahan iklim yang terjadi di pertengahan tahun memicu peralihan pola tanam sebagian petani. Yakni, biasanya tanam palawija menjadi tanam padi. Hal ini dilakukan lantaran tanaman palawija rentan gagal panen apabila ada curah hujan tinggi,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-