Diterbitkan pada: Sen, Jan 2nd, 2017

BPBD Jepara Duga Ada Prosedur yang Tidak Dijalankan JOP hingga Tewaskan Dua Bocah Asal Klaten

Reporter:    /  @ 19:19:05  /  2 Januari 2017

 Jenazah salah seorang korban tewas tenggelam di Jepara Ourland Park (JOP) saat dibawa pulang ke kediamannya di Kabupaten Klaten, pada Minggu (1/1/2017). (Koran Muria/Edy Sutriyono)

Jenazah salah seorang korban tewas tenggelam di Jepara Ourland Park (JOP) saat dibawa pulang ke kediamannya di Kabupaten Klaten, pada Minggu (1/1/2017). (Koran Muria/Edy Sutriyono)

 

Koran Muria, Jepara – Tewasnya dua bocah asal Kabupaten Klaten yang tenggelam di wahana air Jepara Ourland Park (JOP) pada Minggu (1/1/2017) kemarin, menimbulkan keprihatinan tersendiri. Diduga, ada prosedur yang tidak dijalankan manajemen wahana air itu, hingga mengakibatkan kecelakaan itu terjadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, permainan atau wahana di JOP, harus bersertifikasi. Termasuk juga sumber daya manusia yang mengelolanya. ”Selain itu, setiap wahana perlu diuji,” tegasnya, Senin (2/1/2016).

Dua bocah asal Desa Jetis Wetan, RT 12/RW 05, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Naila Khansa Aqila Dahabiyah (6), dan Zulfa Fitria Maharani (7), diketahui tewas tenggelam di salah satu kolam yang ada di JOP. Mereka datang bersama rombongan untuk melewatkan liburan tahun baru.

Rombongan korban dan keluarganya datang sekitar pukul 09.30 WIB ke JOP. Mereka sempat transit di resto yang ada di dekat pantai. Kedua korban dan sebagian besar anggota rombongan, lantas menghabiskan waktu bermain air di pantai. Termasuk mencoba jetski yang ada di sana. Ayah korban Naila yang bernama Agus Wahyudi, ikut mendampingi kedua korban.

Setelah selesai bermain air, kedua korban lantas diminta untuk istirahat. Keduanya diminta untuk menemui pamannya yang ada di resto lokasi wahana air itu. Sementara ayahnya Agus Wahyudi, masih menunggu kakak korban yang masih bermain banana boat.

Kakak korban yang selesai bermain banana boat, lantas bersama ayahnya menyusul ke resto yang ada di JOP. Namun korban tidak ditemukan di sana, sehingga ayahnya lantas mencari-cari keberadaan korban. Tidak lama kemudian, terdengar kabar bahwa ada orang tenggelam di kolam renang. Ayah korban lantas mencoba untuk mencari tahu kebenaran informasi tersebut. Dan setelah diperiksa, memang benar jika yang tenggelam adalah kedua korban.

Usai diperiksa di RSI Sultan Hadlirin Jepara sekitar pukul 15.00 WIB, kedua korban kemudian dibawa pulang ke kediamannya di Klaten, dengan bantuan dari tim SAR.

Lulus mengatakan, keamanan suatu tempat wisata harus memenuhi tiga unsur. Mulai dari fasilitas, sumber daya manusia, dan manajemennya. ”Tentunya semua itu harus diuji. Supaya nantinya bisa menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi pengunjung,” tuturnya.

Karenanya, Lulus menduga ada yang tidak dijalankan dari tiga unsur utama tersebut, oleh pihak JOP. Pengelola tidak memperhatikan keseluruhan dari ketiga unsur, sehingga menimbulkan kecelakaan tersebut.

Selain itu, ia juga menyarankan supaya manajemen harus aktif menanyakan kepada pengunjung. Apakah pengunjung tersebut bisa berenang atau tidak. ”Di sisi lain, setiap wahana air atau kolam renang juga harus diberikan informasi atau tulisan, bahwa kolam ini berkedalaman berapa. Cocok tidak untuk anak-anak atau orang dewasa. Supaya nantinya kesenangan yang ada, tidak berubah menjadi kesedihan semacam ini,” paparnya.

 

Kasatreskrim Sebut Murni Kecelakaan, JOP Sudah Santuni Keluarga Korban

Kecelakaan dua bocah tewas di JOP pada Minggu (1/1/2017), seolah menambah panjang daftar kecelakaan di Kabupaten Jepara, saat libur Natal dan Tahun Baru.

Sebelumnya, saat liburan Natal kemarin, yakni Minggu (25/12/2016), dua orang pengunjung pantai di Jepara juga tewas terseret ombak. Mereka tenggelam, saat ombak yang besar menyapu pantai saat banyak orang berenang di sana.

Dan pada libur tahun baru, Minggu (1/1/2017), dua bocah tewas tenggelam di salah satu wahana air yang ada di Jepara Ourland Park (JOP), yang ada di Desa Mororejo, Kecamatan Mlonggo.

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwasana mengutarakan, dalam kejadian di JOP itu, adalah murni kecelakaan. Dan tidak ada tanda-tanda kekerasan. ”Saat itu kedua orang tua korban dan keluarganya juga ada. Selain itu, pihak keluarga juga tidak menuntut apapun dari pihak JOP,” paparnya.

Selain pengamanan dari petugas setempat, pihaknya juga mengutarakan bahwa pengamanan saat kejadian, juga sudah ada dari pihak Polsek Mlonggo. ”Sebelumnya juga ada petugas dari Polsek Mlonggo. Namun luasnya wahana permainan yang ada di sana, serta ramainya pengunjung, membuat pemantauan jadi terbatas,” tuturnya.

Kasatreskrim mengatakan, untuk kejadian semacam ini, tentunya harus ada pengamanan lagi yang ketat dari pihak manajemen. Namun, ditegaskan bahwa kejadian itu memang murni kecelakaan. ”Dan pihak manajemen JOP juga sudah memberikan santunan terhadap keluarga korban,” jelasnya.

Sementara itu, Manajer JOP Rohman mengutarakan, pihaknya memang sudah memberikan santunan, sebagai bentuk tanggung jawab manajemen kepada korban. ”Kami berharap bisa meringankan duka keluarga korban,” ujarnya.

Namun, Rohman menegaskan jika pihaknya akan mengevaluasi kembali manajemen JOP, serta wahana-wahana yang ada. Sehingga ke depannya, pengunjung bisa aman dan nyaman.

Hal itu juga disinggung Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayetno. Menurutnya, manajemen memang harus mengevaluasi seluruh hal yang ada si sana. ”Termasuk juga petugas jaga atau keamanan JOP, yang harus sudah bersertifikasi. Mereka juga harus bersertifikasi. Ini demi kenyamanan pengunjung,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar

© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status