what does 3mg xanax look like xanax alprazolam que contiene xanax

is 25 mg of valium too much valium online valium peach color

how to safely stop taking tramadol tramadol 50mg tramadol patente

tramadol immunity tramadol 50 mg tramadol vs dilaudid

abrupt cessation of ativan buy ativan online ativan pros and cons

soma health solutions sdn bhd soma online soma ilçesi hangi ilimizdedir

xanax bars much xanax 2mg xanax addiction problems

drug interactions ambien vicodin buy ambien order ambien Nebraska

can xanax cause twitching buy alprazolam xanax for spasticity

equação por soma e produto buy soma kallmeyer soma

Diterbitkan pada: Sab, Jan 7th, 2017

Suka Bawa Tongkat Komando, Kepala SMA 1 Mlonggo Pasrah Tunggu Sanksi Atas Pingsannya 12 Siswa yang Dihukum saat Hujan Lebat

Reporter:    /  @ 19:11:21  /  7 Januari 2017

Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah (dua dari Kiri) saat audiensi dengan wali murid, Pemkab, dan Dewan di Ruang Komputer, Sabtu (7/1/2017). (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah (dua dari Kiri) saat audiensi dengan wali murid, Pemkab, dan Dewan di Ruang Komputer, Sabtu (7/1/2017). (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

 

 

Koran Muria, Jepara – Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah mengaku pasrah akan sanksi yang akan dijatuhkan padanya usai insiden pingsannya 12 siswa setelah dihukum lari saat hujan deras karena terlambat. Ia pun menyerahkan sepenuhnya karir dan jabatannya kepada pihak terkait.

”Ini pelajaran bagi saya. Akan saya ambil hikmahnya. Apapun itu saya pasrah,” kata Gunawan saat audiensi dengan Pemkab, Dewan, dan wali murid di Ruang Komputer SMAN 1 Mlonggo, Sabtu (7/1/2017).

Ia menjelaskan, hukuman lari dilakukan sepontan untuk menerapkan kedisiplinan terhadap anak yang terlambat. Itu karena, di SMA 1 Mlonggo terdapat program Jumat bersih yang dilaksanakan pukul 06.30 WIB.

”Karena sudah jadi rutinitas, pukul 06.30 WIB gerbang kami tutup. Mereka akhirnya dihukum di depan gerbang,” ujarnya yang diketahui sering membawa tongkat komando itu.

Saat itu, lanjutnya, saat hukuman dilakukan belum turun hujan. Karena itu hukuman lari bolak balik dari gerbang hingga gapura sekolah sekitar 100 meter dilakukan. Hukuman tersebut diberikan tanpa pandang bulu.

Hanya jumlahnya yang berbeda. Untuk siswa putra dihukum lari sebanyak 10 kali dan siswa perempuan sebanyak 5 kali

Sayangnya setelah berjalan selama 30 menit, hujan lebat turun. Sehingga dengan keadaan itu belasan siswa merasa kedinginan dan ahirnya jatuh pingsan.

”Sebelumnya cuacanya cerah. Tapi setelah pukul 07.00 WIB tiba-tiba hujan lebat. Namun, saya juga mengimbau kepada siswa yang tak tahan dengan hujan, boleh berhenti. Tapi tak ada yang berhenti hingga terjadilah kejadian itu,” paparnya.

Ia menilai hukuman tersebut juga tidak serta merta untuk menyiksa anak. Namun untuk memberikan kedisiplinan dan pendidikam karakter.

”Saya juga punya hati nurani. Itu kenapa saya imbau kepada anak untuk berhenti bagi yang sudah tidak kuat. Namun siswa itu pada tidak berhenti,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi C DPRD Jepara Sunarto meminta semua guru untuk menggunakan sistem pendidikan yang wajar. Hal ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

”Peristiwa Ini harus menjadi pembelajaran bagi yang bersangkutan. Sehingga kedepannya bisa menggunakan aturan pendidikan yang ada. Dan bukan menggunakan sistem penghukuman siswa seperti ini,” kata Narto.

Di saat yang sama, salah satu wali Murid SMA N 1 Mlonggo Yusuf Mualim mengatakan, seharusnya kasus ini harus diproses dengan sistem yang ada. Supaya kedepannya tak ada kejadian yang serupa.

“Meskipun anak saya tak di hukum, namun anak saya juga terkena imbasnya. Yakni sakit panas. Sebab rata rata siswa di sini itu ikut solidaritas hujan hujanan lantaran tidak tega melihat temannya yang dihukum di saat hujan,” tambah Mualim.

Pemkab Siapkan Laporan ke Gubernur

Para wali murid mengikuti Audiensi di SMA N 1 Mlonggo bersama Pemkab dan Dewan di Ruang Komputer, Sabtu (7/1/2017). (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Para wali murid mengikuti Audiensi di SMA N 1 Mlonggo bersama Pemkab dan Dewan di Ruang Komputer, Sabtu (7/1/2017). (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Sementara, Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat meminta kepada pihak Dinas Pendidikan Provinsi untuk membentuk tim identivikasi mengenai kejadian tersebut.

”Kita juga sudah mengusulkan kepada  pihak dinas untuk bisa membentuk tim husus untuk menangani hal ini. Sehinga nantinya bisa menghasilkan data akurat untuk menentukan sanksi,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, pemprov harus bisa memberikan sanksi tepat atas kelalaian yang dilakukan. Hanya sanksi tersebut tak serta merta dilakukan asal-asalan. Karena itu perlu dibentuk tim investigasi untuk tidak salah langkah dalam melakukan tindakan.

”Tentunya mengambil sikap itu jangan salah langkah. Supaya nantinya siswa tersebut juga tak serta merta menghujat guru. Siswa juga harus bisa saling menghormati guru. Selain itu, dengan adanya langkah atau sanksi tersebut jangan sampai berimbas kepada nama baik guru itu sendiri,” ucapnya.

Dia melanjutkan, sebenarnya sanksi itu ada tiga jenis. Pertama yakni sanksi ringan berupa teguran, kedua sanksi sedang berupa penurunan pangkat (tidak menjadi kepala) dan yang ketiga yakni sanksi berat atau pemecatan.

Sementara itu, saat memaparkan ke tiga sanksi tersebut, ia tak secara gamblang apakah kepala sekolah atas nama Gunawan Amrillah tersebut akan mendapatkan sangksi yang bagaimana.

”Saya tidak bisa berpendapat hal itu. Sebab nanti mekanismenya ada sendiri. Namun yang penting kita sebagai pemerintah menggelar audiensi pertanda kita tak diam melihat kejadian tersebut,” pungkasnya.

Pasca Insiden, SMA N 1 Mlonggo Tak Ada Kegiatan Belajar Mengajar

Situasi lengang pada SMA N 1 Mlonggo seusai insiden pingsannya belasan siswa lantaran dihukum lari dan baris berbaris saat hujan lebat. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Situasi lengang pada SMA N 1 Mlonggo seusai insiden pingsannya belasan siswa lantaran dihukum lari dan baris berbaris saat hujan lebat. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Di sisi lain, pascainsiden SMA 1 Mlonggo tidak ada kegiatan belajar mengajar (KBM). Wakil Kepala Bagian Kesiswaan Laili Rosyad mengatakan, sebenarnya hari Sabtu (7/1/2017) ini tidak libur. Namun rata rata mereka tak masuk lantaran bajunya ada yang basah dan belum kering.

Selain itu, ia juga mengutarakan bahwa KBM di sekolah ini kurang efektif lantaran ada audiensi dengan wali murid.

”Memang KBM ini kurang efektif. Sebab kita fokus pada audiensi terlebih dahulu. Selain itu, di sini juga ada beberapa anak anak yang masuk sekolah. Meskipun jam kosong saat audiensi dengan wali murid berlangsung,” kata Laili.

Salah satu siswi kelas XII Kintan mengatakan, memang saat ada hukuman itu secara spontanitas semua siswa langsung keluar untuk melakukan hujan-hujan secara bersama-sama. Tindakan itu sebagai bentuk solidaritas antarsesama teman.

Hanya saja, siswa yang ikut solidaritas sesama teman yang mendapatkan hukuman tersebut mereka berhujan hujanan di dalam area sekolah atau dalam pintu gerbang. Sedangkan yang dihukum berada di luar sekolah atau di luar gerbang.

”Saat itu memang kita hujan-hujanan di dalam gerbang untuk solidaritas. Sedangkan yang dihukum itu berada di luar gerbang dengan cara lari bolak balik mulai dari gerbang sekolah hingga gapura sekolah sejauh 100 meter. Untuk siswa laki laki sebanyak 10 kali dan perempuan sebanyak 5 kali,” ungkapnya.

Empat Siswa Masih Dirawat

Rafika Dwi Pratiwi terlihat lemas dan masih menjalani perawatan di RSI Sultan Hadlirin seusai dihukum lari dan baris berbaris saat hujan lebat. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Rafika Dwi Pratiwi terlihat lemas dan masih menjalani perawatan di RSI Sultan Hadlirin seusai dihukum lari dan baris berbaris saat hujan lebat. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Sementara itu, saat ini siswa yang tengah masih dirawat di puskesmas Mlonggo dan RSI Sultan Hadlirin masing masing ada 2 siswa. Di antaranya ialah Elizabeth (17) Karanggondang  RT 1 RW 7, dan  Zahrotul Ula (17) Suwawal RT 3 RW 3 yang ada di Puskesmas Mlonggo.

Sedangkan yang ada di RSI Sultan Hadlirin yakni Rafika Dwi Pratiwi (18) Suwawal RT 2 RW 1
dan Kent Ariski (18) Jambu Timur RT 18 RW 4. Sedangkan yang lainnya sudah pulang ke rumah.

Korbann pingsan yang kini masih dirawat di RSI Sultan Hadlirin Rafika Dwi Pratiwi (18) mengatakan, sebenarnya Pak Gunawan itu sangat tegas dan disiplin.

”Ketegasan dan kedisiplinan yang diterapkan di sekokah tersebut membuat kaget dan siswa memberontak. Sehingga siswa juga agak merasa gimana gitu,” paparnya.

Dia menambahkan, sebenarnya, penghukuman itu selesai lantaran banyak guru guru yang ikut menangis melihat kejadian itu. ”Sehingga adanya banyak siswa dan guru yang menangis melihat hukuman itu, maka pak gunawan menghentikan hukuman tersebut. Tentunya dengan adanya kejadian itu, saya harap ada pembenahan terhadap sistem yang ada,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar

© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status