Published On: Mon, Jan 9th, 2017
Kudus | By

Begini Cara Koramil 03/Undaan Wujudkan Ketahanan Pangan di Kudus

Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo menunjukkan tanaman cabai yang ditanamnya di halaman samping kantor Koramil setempat, Senin (9/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo menunjukkan tanaman cabai yang ditanamnya di halaman samping kantor Koramil setempat, Senin (9/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

 

Koran Muria, Kudus – Ketahanan pangan saat ini masih menjadi persoalan klasik yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Hal ini terlihat jelas dengan melambungnya harga berbagai komoditas. Baik karena jumlah komoditas berkurang hingga menimbulkan kelangkaan ataupun permainan harga.

Hanya saja, hal tersebut saat ini mulai berkurang di Kecamatan Undaan. Dengan mengembangkan sistem Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPS), Koramil 03/Undaan berhasil mengatasi kelangkaan.

Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo menjelaskan, penerapan sistem MKRPS adalah dengan memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanami komoditas tertentu. Baik itu sayuran, ataupun palawija. Hal tersebut pun sudah diterapkan di halaman samping kantor Koramil setempat.

”Kami menanam cabai, tomat, terong, serta kangkung. Ini adalah tanaman sayur yang kami tanam selain buah-buahan. Itu sudah kami galakkan sejak Mei 2016 silam,” katanya, Senin (9/1/2017). 

Dalam setahun ini sudah berhasil memanen hingga beberapa kali. Bahkan untuk cabai yang harganya kini lambung tinggi, tidak terlalu berpengaruh. Sebab tanaman cabai cukup banyak dibanding tanaman lainnya. Sedikitnya 70 tanaman cabai sudah ditanam di halaman.

Berbagai jenis cabai yang ditanam, adalah cabai kriting, cabai merah, cabai rawit dan cabai hijau. Semuanya tumbuh subur lantaran mendapat perawatan yang serius. Termasuk juga dengan pemupukan yang dilakukan secara teratur.

Dikatakan, penanaman ini juga termasuk dalam Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPS). Yakni minimal anggota TNI harus mampu mencukupi kebutuhan secara sendiri, minimal untuk anggota sendiri.

Belakangan ini terdapat instruksi dalam perihal perwujudan ketahanan pangan. Dengan yang demikian, maka pihaknya tinggal melanjutkan kegiatan penanaman sayuran, yang mampu dimanfaatkan oleh anggota.

“Peningkatan tetap dilakukan, dan dengan penanaman sayuran ini maka 18 petugas termasuk saya juga dapat memanfaatkannya di kebutuhan harian,” jelasnya.

Diceritakan, sebenarnya dulu pernah ada yang bilang kalau tanaman bakalan mati sebelum berbuah. Karena, tanah yang digunakan adalah tanah padas yang dianggap tak cocok untuk bercocok tanam. Namun pernyataan itu ditepis dengan hasilnya yang melimpah.

“Meski berbuah banyak namun kendala masih juga banyak. Seperti serangan hama tikus, yang banyak merusak tanaman yang ada. Khususnya tanaman kangkung,” ujarnya.

Selain hama, curah hujan tinggi, juga mampu merusak sebagian lahan tanaman. Sehingga belakangan produksi panen mengalami penurunan jumlah.

Editor: Supriyadi

About the Author

-