Diterbitkan pada: Rab, Jan 11th, 2017

Cuaca Tak Menentu, 10 Hektare Tanaman Cabai di Undaan Kudus Gagal Panen 

Reporter:    /  @ 18:44:45  /  11 Januari 2017

Para petani cabai di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan saat memetik cabai di sebagian lahan yang tidak terkena jamur akibat cuaca yang tak menentu, Rabu (11/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

Para petani cabai di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan saat memetik cabai di sebagian lahan yang tidak terkena jamur akibat cuaca yang tak menentu, Rabu (11/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

 

Koran Muria, Kudus – Sedikitnya 10 hektare tanaman cabai yang berada di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan mengalami gagal panen. Gagal panennya para petani cabai tersebut disebabkan cuaca yang tak menentu selama beberapa bulan terakhir.

Kades Kutuk Supardiyono menyebutkan, total lahan pertanian warganya yang ditanami cabai, seluas 20 hektare. Namun, belakangan ini sekitar 50 persen dari petani gagal panen lantaran diserang jamur.

”Gara-gara cuaca tak menentu, sebagian besar tanaman cabai diserang jamur. Akibatnya cabai menjadi kusut dengan membusuk. Biasanya kami memanggil cabai yang kena jamur itu sebagai cabai patek,”katanya, Rabu (11/1/2017).

Menurutnya, cabai Patek bukannya tidak laku dijual. Namun harganya sangat murah dan tergantung oleh pembelinya melihat kondisi. Hanya, ada pula yang sama sekali tak laku dan terpaksa dibuang, Sehingga petani cabai sebagian merugi.

Petani cabai wilayahnya, kata dia memang cukup banyak. Selama ini, penyakit yang paling diwaspadai petani memang Patek. Penyakit itu disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan dan panas yang tinggi.

Camat Undaan Catur W juga membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan selama ini daerah penghasil cabai yang bagus dan jumlah yang banyak memang berasal dari Desa Kutuk. Bahkan cabai juga sampai dibawa keluar kota oleh tengkulak.

”Ada juga cabai dibeli oleh tengkulak diwilayahnya. Untuk kemudian cabai dijual kembali ke sejumlah tempat di kota-kota sebelah seperti Pati, Demak,” ujarnya.

 

Harga Cabai di Petani Dihargai Rp 37 Ribu Per Kilogram

Camat undaan memperlihatkan cabai hasil panen petanidi Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Rabu (11/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

Camat undaan memperlihatkan cabai hasil panen petanidi Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Rabu (11/1/2017). (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

Meski begitu, ada juga petani yang kebanjiran untung dengan harga cabai tinggi. Para petani mendapatkan untung yang berlimpah karena harga jual cabai di pasaran melejit tinggi.

Sudarman, seorang petani di Desa Kutuk, Undaan mengatakan kalau pihaknya diuntungkan dengan harga cabai yang tinggi. Seperti sekarang ini, harga cabai miliknya dibeli oleh tengkulak sejumlah Rp 37 ribu per kilogramnya.

”Cabai yang saya tanam merupakan jenis cabai merah besar keriting. Saya menanam dalam jumlah 3 ribu meter persegi,” katanya.

Harga beli Rp 37 ribu itu merupakan harga yang tinggi. Mengingat, biasanya harga beli untuk sekilo cabai miliknya hanya kisaran Rp 20 ribuan saja. Untuk itu, jumlah yang tinggi itulah membuat para petani untung besar.

Dikatakan, dalam menanam cabai membutuhkan waktu dua bulan hingga tiga bulan sebelum bisa dipanen. Namun, setelah itu petani tinggal memanennya selama empat bulan lamanya dengan hitungan dua hari sekali.

”Tiap dua hari panen, untuk ukuran 3000 meter persegi, sekali panen dalam dua hari sekali bisa mendapat lima kwintal,” ungkapnya.

Ditambahkan, untuk merawat tanaman cabai miliknya, memakan biaya sekitar Rp 30 jutaan. Namun, dengan modal yang besar itu, keuntungan juga menggiurkan dengan omzet ratusan juta.

”Itu kalau harga bagus seperti ini. Jika harga turun, maka kami rugi besar. Seperti harga cabai dibawah Rp 20 ribu kami sudah pastikan rugi,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Komentar

komentar



© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status