Published On: Tue, Feb 21st, 2017
Pati | By

Jenazah KH Nafi’ Kajen Dini Hari Nanti Tiba, Santri di Turki Merasa Rindu

KH Nafi’ Abdillah, wafat pada Minggu (19/2/2017) sekitar pukul 00.30 waktu Istanbul di Rumah Sakit Bakirkoy, Istanbul, Turki. (Istimewa)

 
Koran Muria, Pati – Jenazah KH Nafi’ Abdillah dijadwalkan akan tiba di rumah duka di Kajen, Pati, malam nanti, atau Rabu (22/2/2017) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah sampai ke rumah duka, jenazah mursyid tarekat yang mengasuh Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM), Kajen, Margoyoso, Pati itu rencananya bakal langsung dimakamkan pagi harinya.

KH Nafi’ wafat setelah sempat menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Turki sepulang dari ibadah umroh, Minggu (19/2/2017) lalu.

Menantu KH Nafi’, Gus Nadhif mengatakan, jenazah KH Nafi’ akan dikebumikan di dekat makam KH Abdullah Salam dan Nyai Hj Aisyah. “Estimasi terakhir, Insya Allah (jenazah) tiba pukul 01.00 WIB tengah malam ini,” ucap Gus Nadhif, Selasa (21/2/2017).

Saat ini, kawasan rumah duka masih dipadati pelayat dari berbagai daerah. Dari pantauan di lapangan, pihak kepolisian mendirikan tenda pengamanan di depan Rumah Sakit Islam (RSI) Pati. Sebanyak 700 personil Banser NU juga disiagakan, menjelang jenazah putra KH Abdullah Salam itu tiba di rumah duka.

Pengamanan yang dilakukan Banser dibagi menjadi tiga ring. Yakni di kompleks makam, rumah duka, dan parkir untuk mengamankan lalu lintas dari penunjung yang sejak kemarin berdatangan. Sejumlah santri yang datang dari berbagai daerah juga nampak memadati kawasan rumah duka.

Sementara itu, tahlil untuk mendoakan almarhum KH Nafi’ dilakukan dua kali dalam sehari. Ibu-ibu mengikuti tahlil pada pagi sekitar pukul 09.00 WIB, sedangkan laki-laki mengikuti tahlil pada malam, setelah Isyak.

Suasana rumah duka KH Nafi’ Abdillah di Desa Kajen, Margoyoso, Pati. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono sudah terlebih dahulu datang ke rumah duka untuk menyampaikan bela sungkawa. Dari Mapolda, Irjen Pol Condro bertolak ke rumah duka menggunakan helikopter, mendarat di Lapangan Ngemplak Lor.

Kepergian KH Nafi’ membuat umat Islam di Indonesia berduka. Terutama santrinya, tak hanya di dalam negeri, tapi santri-santrinya yang berada di luar negeri. Bahkan menurut Gus Nadhif, para santri KH Nafi’ yang berada di Turki sempat merindukan sang kiai sebelum wafat.

“Ada rasa kangen dengan Abah. Santri-santri Abah di Turki merasa kangen. Mungkin karena Abah sedang berada di Turki,” ucap Gus Nadhif.

Warga berdatangan di kompleks Makam KH Abdullah Salam, Selasa (21/2/2017), yang akan dijadikan sebagai tempat peristirahatan terakhir almarhum KH Nafi’ Abdillah. (KORAN MURIA / LISMANTO)

Dalam pengurusan jenazah saat di Turki sempat mengalami kendala, karena administrasi di KBRI tutup pada Minggu. Namun, ada perwakilan dari diplomasi RI dan Turki yang kemudian memudahkan urusan administrasi kepulangan jenazah ke Tanah Air.

“Alhamdulillah, saat itu pejabat-pejabat di KBRI ikut membantu lobi ke Turki, sehingga urusan administrasi akhirnya dimudahkan meski pada hari Minggu. Sebelum wafat, Abah sempat di UGD rumah sakit di Istanbul. Kondisinya cukup parah,” ungkapnya.

Lantaran penyakit jantung dan sejumlah penyakit komplikasi lainnya, KH Nafi’ akhirnya menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya. Sampai saat ini, ribuan pelayat memadati rumah KH Nafi’ setiap malam untuk mengikuti tahlil.

KH Nafi’ memang berkunjung ke Uzbekistan dan Turki, selepas menjalankan ibadah umroh. Dikabarkan, udara di Istanbul saat itu sangat dingin sehingga dimungkinkan mengalami sakit jantung, serta sejumlah penyakit komplikasi lainnya.

Jamal Ma’mur, salah satu santri menuturkan, KH Nafi’ adalah sosok guru yang tawadlu’, rendah hati dan sederhana. KH Nafi’ juga dikenal sebagai sosok yang istiqomah, ikhlas, mencintai ilmu, mengayomi dengan hati, teguh memegang prinsip, menjadi teladan, dan tegas mengambil keputusan.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-