Published On: Fri, Mar 3rd, 2017

Gamal Haris, Bangkit dari Riba dengan “Skenario” Luar Biasa (2-habis)

 

Gamal Haris. (foto: dokumen pribadi)

 

 

Gamal Haris, seorang pengusaha properti di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, harus melepas semua aset-asetnya untuk menutup utang Rp 9 miliar, agar terbebas dari riba. Kebulatan tekadnya untuk mencari rezeki di jalan yang halal (tanpa riba), mampu menciptakan berbagai peluang-peluang yang di luar dugaan.

Kisah-kisah inspiratif muncul dari pengalaman Gamal yang  akhirnya membuatnya dalam waktu cepat bangkit dari keterpurukan. Berikut kelanjutan kisahnya :

Setelah menjual semua aset-aset seperti rumah, toko material dan pabrik beton, orang langsung menempatkan stempel bangkrut pada diri saya. Tapi itu tak masalah, karena saya yakin Tuhan akan memberikan jalan.

Bukan tanpa pertimbangan saya berani melepas semua aset untuk bebas riba. Kalkulasi-kalkulasi saya gunakan agar bisa segera bangkit dan mandiri. Dan luar biasa, mungkin ini skenario Allah yang di luar dugaan saya, berbagai macam pertolongan dan usaha yang saya lakukan selalu dimudahkan.

Hijrah dari bank yang saya pikir aset-aset saya habis, ternyata Allah memberi jalan yang tak disangka-sangka. Ketika itu saya mempunyai sisa dana dari hasil menjual pabrik beton. Setelah saya gunakan untuk menutup utang, sisanya saya gunakan untuk recovery.

Ketika saya membangun bisnis properti di sini saya ketemu modal-modal yang tak harus berbentuk fisik berupa uang. Modal itu bisa berbentuk kerja sama, sharing hasil atau lainnya. Ada seseorang yang menawarkan lahan untuk saya bangun perumahan, ndilalah orang tersebut berkenan pembayarannya saya utang dan diangsur, tentunya tanpa bunga.

Begitu juga ketika hendak membangun perumahan, karena toko bangunan sudah saya jual, saya diberi jalan oleh Allah dengan menunjukkan pengusaha toko bangunan yang materialnya boleh diutang dan tanpa bunga pula.

Dan memang saat ini masih banyak orang yang menganggap modal itu harus berwujud uang. Mindset seperti ini harus diubah jika ingin sukses lepas dari riba. Modal memang utama, namun datangnya bisa dari mana saja, sehingga tidak harus bergantung dengan kucuran utang berbunga.

Perlahan-lahan ekonomi saya mulai bangkit, dan usaha property cukup berkembang. Dalam membangun dan menjual rumah saya juga tak menggantungkan dengan bank. Pembelian rumah yang dilakukan secara mengangsur pun, saya terapkan sistem syariah, tanpa bunga, dan tanpa ancaman denda ataupun penyitaan.

Contoh mudahnya, satu unit rumah saya hargai Rp 100 juta jika dibeli secara cash. Dari sini saya sudah dapat keuntungan. Jika dikredit selama katakanlah 120 bulan, harga rumahnya saya naikkan jadi Rp 200 juta. Jadi tinggal harga Rp 200 juta dibagi 120, itu yang jadi angsuran tiap bulannya.

Karena dalam Islam jual dengan harga mahal itu boleh. Yang tidak boleh jika ada bunga, telat membayar didenda, atau tak bisa membayar rumah disita, dan inilah yang membedakan dengan KPR dari bank.

Orang pasti lantas bertanya bagaimana jika terjadi masalah dalam pembayaran, telat mengangsur, atau sama sekali tak bisa mengangsur karena kondisi tertentu, misal kecelakaan atau lainnya.

Terus terang saya pernah mengalaminya. Baik yang telat mengangsur ataupun tak mampu mengangsur. Yang saya utamakan yakni kesabaran dan kepercayaan pada pembeli. Kebanyakan konsumen saya itu petani, ada kalanya mereka tak bisa bayar angsuran tepat waktu. Tapi mereka punya iktikad baik untuk membayar, misal saat panen.

Ada juga konsumen yang tak mampu membayar angsuran setelah kecelakaan. Awalnya yang pendapatannya Rp 4 juta per bulan turun jadi Rp 1 jutaan. Selama dua tahun macet pembayaran. Namun akhirnya pemilik rumah dengan inisiatif sendiri menawarkan untuk menjual rumah tersebut untuk nutup angsuran.

Akhirnya rumah itu kami jual. Hasilnya bukan untuk menutup angsuran. Tapi uang yang dibayarkan sebagai DP dan angsuran saya kembalikan semua, termasuk biaya perbaikan rumah. Karena beliaunya sempat membangun dapur di rumah itu. Jadi kita sama-sama untung.

Saya dapat untung karena rumah yang 2 tahun sebelumnya seharga Rp 100 juta, kini laku dijual dengan harga Rp 175 juta. Beliau juga untung karena punya modal usaha dari pengembalian DP dan angsuran yang totalnya sekitar Rp 75 juta.

Selain itu dia juga berterimakasih karena selama dua tahun ini dia merasa seperti ngontrak gratis, karena semua uang yang dibayarkan saya kembalikan semua. Jadi tidak ada pinalti, denda, apalagi penyitaan. Semuanya dibicarakan dan diselesaikan dengan kekeluargaan.

Dari sini yang ingin saya sampaikan, untuk terbebas dari riba itu dimulai dari niat yang kuat. Karena memang awalnya berat, namun ada trik-trik dan solusi agar resolusi untuk bebas riba itu tak berujung pada kemiskinan. Ini pula yang selalu kami sebarkan di komunitas bebas riba Subulussalam. Kami tak hanya mendakwahkan untuk bebas riba, tapi kami juga mengajarkan solusinya. (*)

Kisah Dramatis Pengusaha Property di Tayu Membebaskan Diri dari Riba Rp 9 Miliar

About the Author

-