Published On: Fri, Mar 17th, 2017

Cerita Pegawai Kantor Pajak dari Pati yang Tolak Proyek Besar karena Takut Riba

Andika Agus Nugraha. (Foto : dokumen pribadi)

 

Kisah ini diceritakan oleh Andika Agus Nugraha, seorang pegawai di kantor pajak Blora. Pria berusia 34 tahun ini, mempunyai berbagai macam usaha di luar pekerjaan resminya sebagai pegawai pemerintah. Di antaranya mendirikan Kampung Ternak di Kabupaten Pati, yang sudah cukup sukses.

Ia kini juga memulai usaha-usaha baru yang dimulai dengan landasan bebas dari riba. Ada cerita menarik ketika Andika harus rela melepas peluang besar dengan keuntungan menjanjikan karena takut akan riba. Berikut penuturannya yang disampaikan pada Koran Muria:

Setelah menamatkan pendidikan dari perguruan tinggi, alhamdulilah saya bisa langsung bekerja di kantor Pajak. Penempatan pertama saya di Jakarta, di sini pula saya bertemu istri saya yang saat itu bekerja di swasta. Selain bekerja di perusahaan kami mulai merintis usaha kecil-kecilan. Namun sayang usaha ini tak bisa berlangsung lama.

Kemudian sekitar tahun 2013 kami memutuskan kembali ke kampung halaman di Kabupaten Pati. Kebetulan saya juga bisa dipindah tugaskan di kantor pajak Blora. Memang tempat tinggal saya dengan kantor sangat jauh, tapi tak apa, tiap hari bisa tak lajo dengan berangkat lebih pagi. Toh hal seperti ini sudah biasa di Jakarta.

Di sini saya juga tak mau tinggal diam hanya mengandalkan gaji dari kantor. Saya kemudian melakukan riset, melihat kemungkinan bisnis apa yang cukup menjanjikan. Hingga kemudian terbesit ide untuk membuat sebuah kampung ternak yang beda dengan perternakan pada umumnya. Saya memanfaatkan teknologi, media sosial sebagai media pemasaran dan lainnya, yang lebih modern.

Dari sini perkenalan dengan dunia riba dimulai. Untuk membuka usaha ini butuh modal tak sedikit. Ratusan juta dibutuhkan, dan jalan satu-satunya adalah mencari modal dari perbankan. Modal awal Rp 250 juta diterima dengan sistem pembayaran diangsur dengan bunga.

Sekian tahun bisnis yang saya tekuni terus berkembang dengan sokongan modal dari perbankan. Seiring berjalannya waktu, saya kemudian tersadar bahwa apa yang saya lakukan itu terlihat wajar, namun ternyata saya menanggung dosa riba. Ibarat candu, enak, nikmat, tapi dampaknya sangat buruk. Dari sinilah mulai sedikit-demi sedikit menghindari riba.

Kisah Dramatis Pengusaha Properti di Tayu Membebaskan Diri dari Riba Rp 9 Miliar

Bukan tanpa perjuangan untuk melepaskan diri dari riba. Saya juga harus menjual aset tanah untuk menutup utang. Tahun 2016 lalu saya mulai mantap untuk menghindarkan diri dari riba. Memang sampai sekarang saya masih menanggung utang di bank yang belum saya tutup.

Targetnya tahun 2017 ini semua utang saya di bank harus sudah lunas semua. Sembari berposes ini saya sudah meneguhkan diri untuk tak kembali terpikat riba, dan memulai lagi dari nol.

Tantangan yang begitu menggoyahkan pun akhirnya muncul, ketika ada proyek yang cukup besar. Kebetulan saat itu saya bisa memenangkan lelang untuk pengadaan IT di salah satu perusahaan. Nilai lelangnya mencapai ratusan juta rupiah. Nilai itu cukup besar bagi saya.

Terbesit keinginan untuk mencari modal dari perbankan. Namun lembaga keuangan selalu menetapkan bunga dan sistem denda yang saya hindari, karena itu bagian dari riba. Ada pula tawaran kerja sama dari kolega. Harapan saya kolega ini bisa saya ajak bagi hasil atau sharing profit, namun tidak bisa.

Ya mau bagaimana lagi, saya tidak mau kembali terjerembab ke lembah riba. Proyek itu akhirnya saya lepas. Memang ada rasa kecewa, karena nilai proyeknya cukup besar. Tapi saya sangat takut dengan dosa yang bakal saya tanggung dari rezeki hasil riba ini. Saya sekeluarga sudah komitmen untuk hijrah ke luar dari jeratan riba. Saya tidak boleh tergoda, karena ini adalah sebuah tantangan.

Saya yakin Allah pasti memberi petunjuk ketika kita berusaha untuk berjalan di jalan yang sesuai dengan aturan Tuhan. Komitmen saya untuk lepas dari riba, juga bukan tanpa sebab dan keputusan konyol tanpa pertimbangan-pertimbangan.

Saya memulai usaha-usaha baru dengan modal yang lebih halal. Solusi dari semangat hijrah saya dari riba ini, dengan menggerakkan jaringan pengusaha muda untuk saling berbagi dan bekerja sama. Kebetulan di Blora juga ada komunitas bebas riba, yang anggotanya saling berbagi kiat-kiat untuk bangkit setelah melepaskan diri riba.

Sejak cukup lama juga saya dan kawan-kawan telah membentuk sebuah forum pengusaha muslim Indonesia. Dengan forum ini kita mengandalkan jaringan untuk sharing profit, dan bekerja sesuai dengan syariat. Sehingga resolusi bebas riba bukan hanya sekadar slogan semata, tapi juga ada solusi yang nyata. (*)

About the Author

-