Published On: Sat, Mar 18th, 2017

Trauma dengan Laki-laki

 

AYudo Prihartono, SH, MH. MM, CHt, CT

 

Pertanyaan

Dear, Pak Yudho

Saya adalah salah seorang yang melihat soal konsultasi bapak di koranmuria.com. Kebetulan saya membacanya, dan merasa tertarik untuk ikut menyampaikan apa yang saya sebut ”persoalan” dalam diri saya, yang hanya saya bisa pendam sendiri.

Saya adalah seorang perempuan yang trauma dengan laki-laki. Usia saya 25 tahun, dan tinggal di Kabupaten Pati. Saya merasa bahwa mereka hanya membuat penderitaan bagi kaum perempuan saja. Karenanya, saya cenderung tidak mau terbuka ataupun menanggapi kalau kemudian ada laki-laki yang mencoba mendekati saya.

Mungkin hal ini disebabkan oleh perselingkuhan bapak saya, yang dilakukannya saat saya kecil. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana bapak saya meninggalkan ibu saya di tengah hanya demi perempuan lain. Bahkan, mereka bisa bermesraan dengan bebas, meski di lingkungannya ada ibu saya.

Saat masa sekolah dulu, waktu SMA kalau tidak salah, saya juga sempat pacaran dengan laki-laki, namun kemudian juga dikhianati. Dia malah pacaran dengan sahabat saya sendiri. Dan kejadian itu terulang saat saya kuliah. Sehingga makin lengkaplah kalau kemudian, saya trauma dan kemudian sejak semester 3 kuliah dulu, saya tidak mau pacaran lagi.

Saat ini ada seorang laki-laki yang mendekati saya. Rasanya saya juga suka. Namun, entah kenapa saya justru merasa bahwa, laki-laki ini akan sama dengan mereka yang sebelum-sebelumnya mengkhianati saya. Itu sebabnya, meski dia begitu baik dan memperlihatkan tanggung jawabnya, namun tetap saja keraguan besar menghampiri saya. Menerima atau tidak.

Pak Yudho, saya tahu bahwa itu bukan hal yang baik. Namun, seolah ada benteng atau tembok besar yang saya bangun sendiri, yang kemudian menghalangi saya untuk mau menerima dia dalam kehidupan saya. Karena saya berpikir bahwa, nanti ujung-ujungnya pasti juga akan menyakiti saya. Tapi, sejauh ini, pikiran itulah yang sering menghantui saya.

Karenanya Pak Yudho, apakah ada jalan lain yang bisa saya tempuh, untuk mengatasi hal ini. Dengan demikian, saya tidak akan terkungkung dengan pemikiran-pemikiran seperti itu. Saya sangat berharap ada solusinya. Untuk itu, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian bapak.

Salam hormat saya

Amelia, 25 tahun, Warga Kabupaten Pati

 

JAWABAN:

Dear Amelia,

Saya sebagai hipnoterapis bisa mengerti dan memahami apabila Amelia mempunyai pendapat bahwa: “Laki-laki mereka hanya membuat penderitaan bagi kaum perempuan saja?”. Pendapat ini menjadi begitu kuat setelah adanya kejadia-kejadian yang membuat Amelia trauma, kejadian yang berulang ketika Amelia mengenal seorang laki-laki atau berpacaran, hal ini membuat pikiran bawah sadar Amelia menjadi makin yakin, dan keyakinan inilah yang kemudian menjadi program pikiran Amelia, selanjutnya pikiran bawah sadar Amelia perlu melindungi agar Amelia tidak mengalami penderitaan disakiti laki-laki lagi, sehingga sulit menerima kehadiran dan mempercayai seorang laki-laki yang akan mendampingi hidup Amelia, akhirnya menjadi mental block Anda: “tidak percaya atau sulit menerima laki-laki” menjadi pendamping hidup Amelia.

Amelia menyebut: “seolah ada benteng atau tembok besar yang saya bangun sendiri, yang kemudian menghalangi saya untuk mau menerima dia dalam kehidupan saya. Karena saya berpikir bahwa, nanti ujung-ujungnya pasti juga akan menyakiti saya. Tapi, sejauh ini, pikiran itulah yang sering menghantui saya”, inilah yang saya sebut “mental block” tersebut.

Mental Block adalah Perasaan yang menghalangi atau membebani Diri Anda dalam melakukan sesuatu. Rasa Takut, Rasa Malu, Tidak Percaya Diri, Sungkan, Enggan, dan lainnya adalah sekian contoh dari Mental Block dalam Diri Anda.

Oya sebagai gambaran, Amelia sudah melihat film AADC 2 (Ada Apa Dengan Cinta 2)? Pada film yang menceritakan hubungan asmara antara Rangga dan Cinta, ada hal yang menarik untuk dibahas. Dimana kehidupan masa lalu sangat berdampak untuk masa depan. Kehidupan keluarga Rangga yang bisa dikatakan kurang harmonis, semenjak ayahnya Rangga meninggal dunia, ibunya menelantarkan Rangga (meninggalkan Rangga tanpa kejelasan). Hal ini sangat membuat Rangga marah, kecewa, benci terhadap ibunya.

Kekecewaan terhadap ibunya ini tergeneralisasi terhadap semua wanita, yang melahirkan image bahwa wanita itu jahat. Ketakutan akan masa depan membuat Rangga meninggalkan Cinta. Ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang tersayang membuat Rangga memutuskan untuk menjauh dari Cinta, seperti yang telah dilakukan ibunya Rangga. Ketakutan tidak mampu membahagiakan Cinta membuatnya (Rangga) tidak berani mengambil keputusan untuk melanjutkan hubungannya dengan Cinta.

Kembali ke Amelia, bahwa masalah Amelia ini adalah hal biasa dan banyak yang mengalami hal ini, dan kabar baiknya adalah masalah Amelia ini bisa diatasi dengan cepat dengan teknik-teknik dalam hipnoterapi. Solusi dan saran saya: silakan Amelia menghubungi hipnoterapis terdekat di kota Anda, atau bila bisa saja ke Rumah Hipnoterapi di Jalan Jend. Sudirman 37B Kudus.

Demikian, jawaban dan penjelasan singkat saya. Semoga memberikan harapan dan kesembuhan dari mental block Anda.

Salam, 

AYP

 

About the Author