Published On: Sat, Mar 18th, 2017

Filosofi Bambangan Cakil Bikin Didik “Geregetan” Atas Gonjang-ganjing Zaman

Didik Kundiantoro, salah satu seniman di Rembang yang getol mengangkat tari bambangan cakil. (KORAN MURIA / EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Rembang – Adalah Didik Kundiantoro (45), salah satu seniman di Kabupaten Rembang yang getol memopulerkan tari tradisional bambangan cakil. Tak banyak lagi pemuda yang mau mempelajari kesenian ini, hingga masa depan tarian penuh makna ini berada di ambang kepunahan.

Dari filosifi tarian ini pula, Didik merasa geram dengan perubahan zaman dan gonjang-ganjing di negeri ini. Padahal jika seseorang bisa mencerna maksud dan pesan yang terkandung dari tarian klasik ini, maka seseorang seharusnya bisa interopeksi diri.

Tari bambangan cakil ini mewakili dua sifat dasar kehidupan, yakni kebenaran dan kebathilan. Dua sifat ini dilambangkan oleh dua sosok yang dihadirkan dalam tari yakni Arjuna dan buta cakil. Sosok buta (raksasa) dalam tradisi Jawa merujuk sebagai sebuang angkara murka, sementara Arjuna, digambarkan sebagai bagian dari kebenaran yang memerangi kebathilan.

Filosofi yang begitu dalam ini sangat merasuk di jiwa Didik, yang sudah mempelajari makna dari tari ini sejak kecil. Budayawan yang tinggal di Dukuh Tawangsari, Kelurahan Leteh, Kecamatan Rembang ini, percaya jika hitam putihnya kehidupan bisa diwakili dari sosok Arjuna dan buta cakil tersebut.

Gonjang-ganjing zaman yang semakin rusak sangat membuatnya prihatin. Di zaman ini kebenaran tak bisa lagi mutlak, hingga selalu kalah dan tertutup dengan keburukan-keburukan.

Dari sini pula ia semakin tergerak untuk terus mengenalkan tarian bambangan cakil. Tak hanya sekadar untuk melestarikan budaya Jawa, melainkan juga ingin menyiarkan pesan yang terkandung dalam tarian tersebut.

Didik Kundiantoro tengah berperan sebagai Arjuna dalam pementasan tari bambangan cakil. (Foto : dokumen pribadi)

Tari bambangan cakil biasa dipentaskan dalam pagelaran wayang orang. Durasinya tak lama, hanya membutuhkan waktu selama 10-15 menit, dengan dua penari yang melakonkan sebagai Arjuna dan buta cakil.

“Meskipun tari bambangan cakil merupakan bagian dari seni wayang orang, namun tari ini menyimpan makna yang begitu dalam, dan menjadi sarana untuk edukasi kepada penontonnya,” katanya kepada Koran Muria, Sabtu (18/3/2017).

Suami Ika Rini Puryanti ini menyebut, sama seperti tarian bambangan cakil, kesenian wayang orang saat ini semakin terpinggirkan, kalah dengan gerusan budaya modern. Dengan merangkul sejumlah seniman ia berusaha untuk kembali mengangkat dan mengenalkan tarian ini, termasuk kesenian wayang orang.

“Kita akui wayang orang yang penuh dengan pesan moral positif yang dilihat dari segi cerita, gerak lambatnya dan kesantunannya kini sudah pudar. Akan tetapi dengan terangkatnya tari bambangan cakil inilah para pemuda bisa mengetahui betapa pentingnya pesan moral yang terkandungnya,” ungkapnya.

Ia memandang, perubahan zaman dengan tergerusnya bduaya Jawa, secara tidaklangsung juga mengikis norma-normal Jawa. Salah satunya norma-norma kesantunan, yang dulu begitu agung.

“Anak-anak zaman sekarang dengan dahulu itu beda jauh. Zaman dulu punya sopan santun adab ashor dan sebagainya, lantaran sering mendengarkan cerita-cerita positif. Lha sekarang, anak-anak mainannya HP, sehingga tatanan moral itu sudah berubah semua,” paparnya.

Dia menambahkan, zaman sekarang juga sudah terbalik. Yakni budaya Jawa semakin hilang, namun budaya barat justru dielu-elukan. “Budaya Jawa justru lebih banyak diparesiasi oleh orang-orang Barat, ini kan sudah kebalik,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-