Published On: Thu, Mar 30th, 2017

Jurus Koesnanto Bikin Moncer Kinerja BPR BKK Purwodadi

Koesnanto, Direktur Utama BPR BKK Purwodadi. (KORAN MURIA / DANI AGUS)

 

Koran Muria, Grobogan – Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja BPR BKK Purwodadi terus meningkat. Bahkan, di level Jawa Tengah berhasil berada di urutan papan atas. Hal ini terjadi karena keuntungan dan aset yang dimiliki terus bertambah dari tahun ke tahun.

Moncernya kinerja salah satu perusahaan daerah milik Grobogan itu, tidak bisa dilepaskan dari sosok Koesnanto yang menjabat sebagai direktur utama. Di bawah kepemimpinannya, Bank BKK terus mengalami pertumbuhan positif dan memberikan kontribusi cukup besar bagi Pemkab Grobogan.

Jurus utama yang digunakan pria 48 tahun ini adalah inovasi dalam produk perbankan. Serta kerja sama tim yang kuat.

“Keberhasilan yang diraih selama ini, bukan kerja saya semata. Tetapi, juga dukungan manajemen dan loyalitas karyawan serta pemerintah daerah,” kata Koesnanto.

Bukti bagusnya kinerja BKK Purwodadi ini bisa dilihat dari total aset yang dimiliki. Saat ini, keseluruhan asetnya mencapai Rp 620 miliar.

Jumlah aset BKK Purwodadi ini naik signifikan di bawah kepemimpinan Koesnanto. Indikasinya, saat awal menjabat jadi direktur utama, aset BKK Purwodadi baru berkisar Rp 105 miliar.

“Saya dipercaya jadi Direktur Utama BKK Purwodadi tahun 2009. Jadi, sampai saat ini baru berjalan hampir delapan tahun,” katanya, Kamis (30/3/2017).

Koesnanto mengaku, prestasi yang diraih sudah pasti merupakan kebanggaan tersendiri. Meski demikian, prestasi itu tidak boleh membuat semuanya merasa puas. Sebaliknya, justru akan menjadikan prestasi ini sebagai sebuah cambuk untuk bekerja lebih baik lagi.

Salah satu kunci keberhasilan itu berkat komitmen untuk selalu memberikan pelayanan prima kepada semua nasabah. Kemudian, menyediakan produk dan layanan jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat.

Sejauh ini, beragam produk sudah diluncurkan BKK Purwodadi pada era kepemimpinan Koesnanto. Misalnya, tabungan untuk siswa yang dilengkapi jaminan asuransi.

Kemudian, program Kredit Mikro BKK (KMB) dengan bunga sangat lunak yang sasaran utamanya adalah pelaku ekonomi kecil. Khususnya, para pedagang di Pasar Pagi Purwodadi dan PKL di kawasan alun-alun.

Lalu ada pula, program kredit BKK Air. Yakni, kredit untuk pembuatan jamban, sumur, sambungan air dan instalasi penjernihan air. Progam BKK Air ini bahkan bisa mengantarkan Koesnanto keliling di beberapa negara di benua Afrika untuk menularkan ilmunya.

Selain membuat program baru, ada kiat lagi yang dilakukan supaya bisa sukses. Yakni, dengan penerapan  strategi “Five Know” atau lima poin implementasi pekerjaan yang harus diketahui oleh seluruh karyawan. Kelima poin itu adalah memahami wilayah kerja, nasabah, diri sendiri, kompetitor, dan aturan yang ada.

Penambahan karyawan juga dilakukan seiring naiknya kinerja perusahaan. Saat ini, jumlah karyawan mencapai 300 orang yang tersebar di 18 kantor cabang dan 5 kantor kas.

“Saat awal jadi dirut, karyawan sekitar 100-an. Penambahan karyawan ini memang diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan pada nasabah. Untuk pelayanan, sekarang kita juga punya dukungan empat mobil kas keliling,” jelas bapak dua anak itu.

Sebelum diangkat jadi pucuk pimpinan, Koesnanto sebelumnya sudah lama bekerja di BKK Purwodadi. Tepatnya, sejak tahun 1993.

Pada tahun pertama kerja, dia bekerja jadi staf di BKK Wirosari. Lantaran prestasinya dinilai bagus, ia sempat dipercaya jadi kepala seksi.

Setelah itu, pada kurun 2003-2005 karirnya naik jadi Direktur II di BKK Tegowanu. Pada tahun 2005 ada kebijakan merger BKK Purwodadi dan para kurun 2005-2009 Koesnanto dipercaya jadi Direktur Umum BKK Purwodadi. Baru pada 2009, ia dipercaya jadi direktur utama hingga saat ini.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-