Published On: Thu, Apr 6th, 2017

Bermodal Benang dan Rajut, Ibu di Grobogan Ini Hasilkan Ratusan Ribu Per Hari

Liana, salah satu pembuat tas rajut di Grobogan sedang menunjukkan hasil karyanya yang dipajang di sudut tokonya. (KORAN MURIA/DANI AGUS)

 

Koran Muria, Grobogan – Punya banyak waktu luang? manfaatkan saja untuk kegiatan positif yang bisa mendatangkan uang. Salah satunnya, dengan bikin kerajinan tas rajut dari bahan benang.

Ongkos produksi tas rajut ini tidak mahal. Hanya butuh benang dan alat rajut saja. Modal yang paling sulit adalah kemauan dan ketekunan saja.

“Memang banyak yang menganggap bikin tas rajut ini susah. Padahal mereka belum pernah mencoba. Kalau sudah latihan beberapa kali, bikin tas ini sangat mudah,” kata Liana (51), pembuat tas rajut yang tinggal di Jalan Sudirman No 16 Purwodadi, Grobogan.

Ibu dua anak itu mengaku sudah bikin tas rajut sejak lama, tepatnya saat masih di bangku SMP. Keahlian itu dipelajari secara otodidak.

Pada awalnya, ia membuat dompet rajut yang ukurannya relatif kecil. Kemudian, selah mahir, ia mulai mencoba membuat tas.

Hasil karyanya tersebut ternyata diminati beberapa teman sekolahnya. Tidak hanya itu, beberapa orang tua temannya juga tertarik dengan karyanya. Akhirnya, mereka bersedia membeli dompet dan tas rajut bikinannya.

Setelah itu, Liana makin bersemangat membikin dompet dan tas rajut sampai berumah tangga. Namun, aktivitasnya itu hanya dilakukan pada waktu luang saja. Sehingga pekerjaan rumah tidak terlupakan.

“Untuk bikin tas butuh waktu sekitar dua hari. Kalau dompet lebih cepat, sehari bisa bikin sampai lima biji,” jelasnya.

Kerajinan yang dibuat Liana saat ini dipajang di sudut toko yang jadi satu dengan rumahnya. Di ruangan ini, ada puluhan tas dan dompet rajut berbagai model.

Harganya juga bervariasi. Mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 300 ribu. Tergantung model dan ukurannya.

Kebanyakan pelanggannya masih konsumen lokal saja. Sebab produksinya masih terbatas karena memang dibuat ketika ada waktu luang.

Kerajinan rajut tersebut, bahan utamanya didatangkan dari Jakarta. Yakni, benang nilon kualitasnya lebih bagus dari benang sejenis lainnya.

“Benang yang saya pakai lebih ulet dan warnanya tidak gampang pudar. Bahan baku saya beli dari Jakarta,” katanya.

Editor: Supriyadi

About the Author

-