Published On: Thu, Apr 20th, 2017

Tak Disangka, Usaha Sampingan Wong Pati Ini Bisa Raup 19 Juta Per Bulan

 


Pembeli tengah menikmati hidangan di angkringan Studionan di sebelah barat Alun-alun Pati. (KORAN MURIA/LISMANTO)

 

Koran Muria, Pati – Siapa sangka bisnis angkringan yang statusnya hanya sampingan bisa meraup omzet melebihi pekerjaan utamanya. Hal itu yang dilakoni Tedi Wijanarko, pemilik angkringan Studionan, sebelah barat Alun-alun Pati.

Pria yang akrab disapa Sastro ini mengungkapkan, pada hari biasa dengan cuaca cerah, angkringannya sanggup mendapatkan omzet dari Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Pada weekend, omzet Studionan mencapai Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta setiap hari.

Padahal, angkringannya buka mulai dari pukul 16.00 WIB sampai 02.00 WIB. Praktis, Tedi sanggup mengantongi omzet antara Rp 14 juta sampai Rp 19 juta setiap bulannya.

“Cuaca sangat berpengaruh. Kalau lagi hujan pasti sepi, tidak sampai beromzet Rp 400 ribu per hari meski weekend sekalipun. Soalnya, orang nongkrong pasti pas cuaca cerah,” ucap Tedi.

Usaha itu sebetulnya hanyalah bisnis sampingan Tedi. Sebab, ia bekerja di bidang marketing komunikasi di salah satu perusahaan di Pati. Kendati hanya bisnis sampingan, tetapi penghasilannya luar biasa.

Sesekali, Tedi hanya menengok usaha itu dan ikut membantu meladeni pembeli. Sebab, ia memiliki dua tenaga kerja yang bekerja dari sore hingga barang dagangan habis.

Seperti angkringan pada umumnya, Studionan menjual nasi kucing, aneka gorengan, kerupuk dan beragam minuman khas angkringan. Namun, ia punya menu andalan yang biasa menjadi jujugan pelanggan.

Salah satunya, wedang tape ketan dan kopi Ngablak. Mereka yang kangen dengan kedua minuman tersebut dipastikan datang ke Studionan, memesan menu andalan dan aneka makanan lainnya.

Tak hanya itu, semua nasi yang ia jual dibungkus menggunakan daun. Dengan begitu, pembeli bisa memilih opsi nasi biasa atau dibakar. Hal itu yang membuat Studionan dibanjiri pengunjung setiap hari.

“Angkringan ini memang seperti pada umumnya. Namun, kita membuat menu andalan yang khas dan cara penyajian yang khas, biar menarik. Semua nasi dibungkus dengan daun supaya bisa dibakar,” imbuh Tedi.

Studionan sendiri diambil dari kawasan tempat tersebut yang berada di depan studio radio milik Pemkab Pati. Nama itu diambil untuk menyesuaikan tempat agar mudah diingat para pemburu kuliner angkringan.

Editor: Supriyadi

About the Author

-