Diterbitkan pada: Sel, Jun 6th, 2017

Achmad Solikhin Calon Doktor Kehutanan Muda asal Jepara

Reporter:    /  @ 09:00:14  /  6 Juni 2017

Achmad Solikhin (Istimewa)

 

Koran Muria, Jepara – Siapa bilang anak desa tak bisa berprestasi? Tengok saja Achmad Solikhin, pemuda asal Desa Jambu Kecamatan Mlonggo-Jepara membuktikan anggapan itu keliru. Di usia 25 tahun ia adalah calon pemegang gelar doktor di bidang kehutanan, dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tidak hanya itu, berkat ide “gila” nya tentang penelitian kayu superhidrofobik, ia kini masuk dalam nominasi Schweighofer Prize 2017. Sebuah penghargaan kehutanan tingkat Eropa untuk penemuan inovatif di industri kehutanan. Ia mewakili asia, dari 36 universitas yang ada di dunia.

Kepada Koran Muria, ia menuturkan rasa syukurnya dapat mengikuti program tersebut. Namun demikian, ia merasa seluruh titel yang kini didapatnya merupakan karunia dari Tuhan.

“Alhamdulillah, semua itu berasal dari Qadarullah (Ketentuan Tuhan), itu juga yang menjadi resep keberhasilan saya,” ucapnya, Senin (5/6/2017).

Ditanya kunci sukses sehingga bisa menjalani program doktoral di usia muda, Achmad mengaku hal itu diperolehnya dari hasil kerja keras dan doa. Disamping itu, berkat rekomendasi dari dosennya ia bisa menjalani program tersebut tanpa harus melalui program S2 terlebih dahulu.

Dia direkomendasikan oleh dosennya mengikuti Program Doktor Sarjana Unggulan atau PSDU. Ia menjalani S1 selama empat tahun dan langsung mengenyam studi S3 di almamaternya IPB. 

“Alhamdulilah tanpa S2 ada rekomendasi dari pembimbing untuk mengikuti program dari Dikti. Kiat suksesnya adalah usaha, doa, dan tawakal. Membaca buku dan belajar dari siapapun serta ambil peluang” imbuh warga Jl H Karmani RT/RW 03/01 Jambu Barat, Jambu, Kecamatan Mlonggo-Jepara.

Menjalani studi S3 ia ternyata harus membuat publikasi internasional. Hal itu mengantarnya mengenyam riset di sebuah universitas di Jepang yakni Shizuoka University.

Dari situ pintu-pintu kesempatan pun terbuka. Ia lantas diundang oleh lembaga internasional untuk mengikuti penghargaan bertajuk Schweighofer Prize 2017, mewakili Shizuoka University. ia dpilih oleh Profesor Suzuki Shigehiko Wakil Rektor universitas tersebut.

Ia diundang oleh Schweighofer Foundation untuk mengikuti Schweighofer Prize 2017, atas penelitiannya bertajuk Superhydrophobic surface of impregnated tropical fast growing tree woods is obtained by means of modifying nano hybrid matrices wit perfluorooctanesulfonyl flouride (PFSOF). Besides a lotus effect, wood stability and bio-preservative properties can be achieved with the inclusion of nanohybrid chitosan and cellulose crystals.

“Riset kayu superhidrofobik atau ultrahidrofobik adalah ide gila Yang diajukan dalam nominasi tersebut. Kayu ini tidak tembus air seperti daun talas (lotus effect) selain itu kayu ini anti bakteria, Jamur, Dan rayap dengan modifikasi bahan,” jelas Achmad.

Kini ia masuk dalam enam besar nominasi penghargaan tersebut. Namun, untuk dapat terus melaju dalam program tersebut, ia banyak mendapatkan voting dari warga Indonesia.

Untuk dapat mendukungnya, cukup klik pada tautan berikut https://www.schweighofer-prize.org/student_award/ dan ikuti langkah selanjutnya. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 20 Juni 2017 mendatang. Dilansir dari situs sumberdaya.ristekditi.go.id, hadiah yang akan diberikan pada pemenang progam ini mencapai Rp 74,4 juta.

 

Sumbangsih Pada Indonesia

Gelar DokTor Kehutanan sendiri akan direngkuh oleh Achmad pada bulan Agustus 2017. Setelah lulus, ia berharap dapat memberikan sumbangsih ilmunya kepada bangsa dan sejawatnya serta daerah asalnya.

“Sumbangsih Yang diberikan untuk indonesia adalah mengamalkan ilmu ke teman-teman, karena ana (saya) yakin dengan ilmu Allah Jalla wa alaa akan menaikkan derajat. Berharap juga inshaallah ana dapat memberikan. Yang terbaik bagi indonesia terutana Jepara dengan kontribusi hasil penelitian yang dilakukan” ujar lulusan SMAN I Jepara tahun 2009 itu.

Kedepan, ia masih ingin meneruskan cita-cita untuk bersekolah di universitas beken seperti Harvard, Oxford ataupun ETH University. Tentang karier, ia ingin bekerja sebagai peneliti atau dosen.

“Mohon doanya, kalau tidak (sekolah lagi) ya bekerja sebagai peneliti atau dosen. Kita berencana tapi Ada Maha Perencana yg memberikan Jalan Yang terbaik nantinya insyaallah,” ungkap Achmad optimis.

Meskipun demikian, ia tidak berharap terlalu berlebihan dari program Schweighofer yang diikutinya ini. Dirinya tak berharap menang atau terkenal. Namun Achmad ingin membuktikan bahwa pemuda Indonesia dan muslim, banyak ide cemerlang yang pantas mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah.

Tidak hanya bersekolah, selama menjalani studi strata tiga, ia bekerja paruh waktu sebagai konsultan dan pe-review pada organisasi kehutanan internasional yakni CIFOR dan ICRAF. Disamping itu ia juga seirng mengikuti kegiatan Indonesia Green Action Forum (IGAF) yang fokus pada upaya mengatasi masalah lingkungan.

 

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar



Berita Terbaru

Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

27 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

26 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

25 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

24 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur

23 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur
© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status