Diterbitkan pada: Kam, Jun 8th, 2017

Sigit Witjaksono, Keturunan Cina Penjunjung Toleransi di Rembang

Reporter:    /  @ 09:30:00  /  8 Juni 2017

 

Sigit Witjaksono, orang Tionghoa yang selalu mengedepankan toleransi. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Rembang – Toleransi antarumat beragama memang terasa sangat kental di Kabupaten Rembang, terutama di Kecamatan lasem. Satu di antara tokoh yang menekankan toleransi itu adalah Sigit Witjaksono.

Meski dikenal sebagai keturunan Cina, pemilik merek dagang batik ’Sekar Kencana’ ini diketahui sering mengundang modin ke rumahnya untuk memimpin doa saat acara. Alasannya simpel. Ia hanya ingin menghormati para karyawan batiknya yang mayoritas beragama islam.

Sigit mengtakan, dirinya selalu menggelar bancakan dengan cara mengundang modin. Apakah itu bancakan hari perpindahan (pembangunan) rumah atau bancakan acara lainnya.

”Saya mengundang modin ini lantaran ingin menghormati karyawan saya. Sebab mayoritas karyawan saya itu muslim. Dengan cara ini mereka bisa ikut bancakan,” katanya.

Meski hanya sekadar bancakan dengan sederhana, namun pria yang menganut aliran kepercayaan Konghucu ini ingin selalu dekat dengan orang yang di sekelilingnya.

“Saya ingin hidup rukun, hidup nyaman, dan hidup penuh cinta. Sebab orang hidup itu yang dicari hanyalah keluarga yang baik. Sebab keluarga itu bukan berarti harua sedarah, sekandung. Namun karyawan ini juga bisa dikatakan keluarga,” ucapnya.

Acara bancakan di kediaman Sigit Witjaksono dengan mengundang modin desa setempat untuk memimpin tahlil yang diikuti oleh seluruh karyawan batik Sekar Kencana. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

Dari pantauan Koran Muria, bancakan tersebut dipimpin oleh Modin desa setempat dengan cara menggelar tahlil atau doa islam. Selain itu, bancakan tersebut juga dilengkapi dengan makanan khas orang muslim.

“Berkat ini juga ada ayamnya, urab, telur rebus, nasi yang dibungkus dengan jati. Sehingga ini menu orang jawa yang biasa disajikan dalam bancakan. Baik itu bancakan tasyakuran rumah atau weton,” bebernya.

Dia melanjutkan, dengan hidup rukun semacam ini, maka keluarga besar juga akan bisa selalu rukun. Sebab terbentuknya keluarga besar itu karena kerukunan atau saling menghargai.

Di sisi lain, ia juga akan selalu menjalin hubungan baik dengan siapapun juga. Baik itu dengan etnis jawa, orang muslim dan sejenisnya.

“Saya ingin hidup damai. Sebab hidup damai itu bisa selalu mendatangkan kebahagian, rizqi manfaat (barokah) dan tentunya bisa saling menghargai satu sama lain. Sebab negara Indonsia memang teebentuk lantaran Kebhinekaan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

 

Komentar

komentar



Berita Terbaru

Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

27 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

26 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

25 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

24 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur

23 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur
© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status