Published On: Sat, Jun 10th, 2017

Ninik Wiharti, Guru SMP 2 Pamotan yang Gunakan ’Sabu-sabu’ untuk Tingkatkan Minat Baca Siswa

 

Ninik Wiharti, guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Pamotan pencetus program sabu-sabu untuk meningkatkan minat baca siswa. (KORAN MURIA /EDY SUTRIYONO).

 

Koran Muria, Rembang – Setiap orang tentu akan sependapat jika sabu-sabu bisa merusak generasi bangsa, baik di kalangan pelajar hingga orang dewasa. Namun, berbeda dengan SMP 2 Pamotan. Di SMP ini sabu-sabu justru jadi ’makanan’ sehari-hari di jam istirahat.

Ratusan siswa yang disuguhi sabu-sabu ini pun tampak lahab dan terkesan selalu ingin nambah saat mengkonsumsi sabu-sabu ini. Selain jadi program unggulan, semua siswa juga kelihatan sudah ketergantungan dengan sabu-sabu ini.

Eits.. Jangan berfikir negative dulu. Sabu-sabu di sini bukan jenis dari narkotika yang merusak seseorang, melainkan program Satu Bulan Satu Buku yang disingkat dengan sabu-sabu.

Dari pengamatan Koran Muria, program sabu-sabu ini ditujukan untuk menggedor keinginan membaca. Diakui atau tidak, minat baca anak-anak di Indonesia masih sedikit. Karenanya Ninik wiharti, satu di antara puluhan guru di SMP 2 Pamotan berusaha melakukan trobosan baru.

Ninik menjelaskan, sabu-sabu merupakan program yang dilakukan dengan cara pemberian tugas untuk meringkas atau merangkum materi dari buku. Di mana setiap satu bulannya satu buku.

”Untuk satu bulan, siswa meringkas atau merangkum satu buku. Nah setelah selesai merangkum, nantinya hasil itu di presentasikan di hadapan guru dan teman-teman sekelas lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, materi buku yang diringkas sudah dipilih dan disesuaikan dengan semester masing-masing tingkat. Untuk tema materi  semester pertama, yaitu tentang ilmu pengetahuan populer atau umum. Sedangkan di semester dua, materinya bertemakan fiksi.

”Melalui program ini, tahun lalu (2015-2016) ada 389 siswa yang berhasil meringkas dengan baik. Mereka juga lebih bijak. Nilai-nilai moral yang ada di buku berhasil di serap dengan maksimal,” paparnya.

Selain itu, dalam ringkasan tersebut, pihak siswa harus menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan pemahaman anak. Pihaknya pun tidak memperbolehkan untuk copy paste. Baik itu satu kalimat, maupun satu paragraf. Sebab bahasa siswa dengan bahasa buku sangat beda.

Sementara itu, dengan sistem sabu sabu ini juga dapat mendongkrak minay baca serta program literasi yang ada di Rembang.

“Sistem sabu sabu ini bisa mendongkrak minat baca anak. Terlebih Rembang saat ini sangat menggencarkan program literasi. Sehingga anak anak di SMP ini bisa serta merta ikut menjalani program literasi itu. Sehingga nantinya siswa juga bisa memahami apa alur cerita atau isi buku yang ia ringkas,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

About the Author

-