Diterbitkan pada: Jum, Jun 16th, 2017

Manisnya Carang Madu yang Tak Pernah Termakan Usia

Reporter:    /  @ 12:00:13  /  16 Juni 2017

 

Koran Muria, Jepara – Takut berbisnis karena merasa tua usia? Benarkah usia menghambat kesuksesan orang dalam berusaha? Jawabannya tentu tidak. Ripah satu di antaranya, memulai usaha pembuatan Carang Madu pada usia hampir setengah abad, namun itu tak menghalanginya untuk sukses!

Dari usahanya itu, ia bahkan bisa menguliahkan dua anaknya di Perguruan Tinggi negeri di Semarang.

Oh iya, bagi yang tak tahu apa Carang Madu, itu adalah sejenis penganan mirip rengginan. Hanya saja bila dimakan ada citarasa manis, karena diolesi gula karamel. 

“Anak saya yang pertama kuliah di Undip, sekarang sudah lulus. Yang kedua meskipun putus sekolah, tapi kini sudah punya usaha dan yang ketiga  sekarang sudah semester dua di Unnes,” ujar Ripah (49), di kediamannya, RT 2/1 Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, Jepara pekan kedua bulan Juni 2017. 

Ripah berujar ia memulai usaha pembuatan penganan tradisional khas Jepara, saat usianya 40 tahun. Kala itu, tahun 2008 ia merasa hidupnya ini monoton, hanya ngrumpi. Dari situlah ia lantas berpikir untuk menambah penghasilan keluarga lewat usaha. 

Saat itu saya punya uang rp 100 ribu, kemudian terlintas di pikiran kenapa tidak memanfaatkannya. Lalu tercetuslah ide untuk membuat carang madu, kue khas Jepara yang sudah saya ketahui cara pembuatannya,” ungkapnya. 

Dengan berbekal pengalaman tersebut, ia lantas memasak penganan itu. Setelahnya ia nekat menawarkan carang madu buatannya kepada pedagang di pasar Mayong, dekat kediamannya waktu itu. 

Tak disangka, produknya disambut hangat oleh konsumen. Dari semula satu pasar ia lantas menyetornya ke Pasar Welahan dan sekitarnya. Sampai akhirnya, ia pindah ke domisilinya saat ini Bantrung. 

“Dulu kalau ke pasar ya gendong dunak menawarkan dari satu pedagang dan yang lain. Sekarang alhamdulilah sudah punya tenaga penjualan di Pecangaan, Bandengan, Kudus, Welahan, Demak dan Semarang,” kata dia. 

Disamping pasar lokal di Jawa Tengah, Ripah mengaku produknya itu juga sudah dijumpai di Gunung Kidul, Jawa Barat dan Lamongan. 

 Kini setiap hari ia bisa memroduksi sekitar 625 pak carang madu. Setiap pak dihargai dengan Rp 5500. Dengan banyaknya permintaan, Ripah kini dibantu dengan 18 karyawati, dan masih mempertahankan cara pembuatan klasik.

“Saya memang sengaja menggunakan tungku dari tanah saat penggorengan carang madu yang kedua. Sebab rasanya lebih gurih,” bebernya. 

 

Sejumlah pekerja carang madu saat melakukan penggorengan, belum lama ini. (KORAN MURIA/PADHANG PRANOTO)

 

Tak Ada Kata Terlambat 

Di usia yang kini sudah menjelang setengah abad, Ripah menolak untuk berpuas diri. Ia mengaku masih akan membuat produk lain. 

“Yang sudah jadi sekarang bolu kecil. Nanti rencana mau buat rengginan sehabis lebaran tahun ini,” tegasnya. 

Dengan terus berinovasi, ia yakin konsumen akan menilai apakah produknya layak beredar atau tidak. Oleh karenanya, ia tak segan untuk mendengarkan kritikan dari para pembeli.

“Dulu waktu pertama kali buat Carang Madu untuk dijual sendiri, saya mendapatkan masukan untuk membuatnya lebih lebar, bukan ditekuk. Hasilnya dari hari ke hari, produk saya banyak disukai oleh konsumen,” kenang Ripah. 

Selain berinovasi, ia juga masih memegang keyakinan untuk tetap berdoa pada Tuhan. Itu dilakukannya, agar Sang Pencipta memberikannya kekuatan untuk dapat rendah hati. 

“Tidak ada kata terlambat dalam berusaha meskipun usia sudah tua. Asalkan tidak patah semangat pasti bisa. Jangan lupa membaca sholawat, dan tak pelit untuk memberi,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar



Berita Terbaru

Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

27 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

26 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

25 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

24 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur

23 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur
© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status