Diterbitkan pada: Jum, Jun 16th, 2017

Moh Zabidi, 18 Tahun Emban Amanah Jadi Imam Masjid Agung Rembang

Reporter:    /  @ 09:54:34  /  16 Juni 2017

Moh Zabidi, 18 Tahun Emban Amanah Imam Masjid Agung Rembang. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Rembang – Nama Moh Zabidi warga Kunir, Kecamatan Sulang mungkin tidak asing bagi warga muslim di Kabupaten Rembang. Pria berusia 54 tahun ini merupakan satu di antara enam imam Masjid Agung Rembang.

Tak hanya itu, ia bahkan sudah 18 tahun mengemban amanah sebagai imam besar di Masjid Agung Rembang. Kefasihan pelafalan Alquran, keshokhihan tajwid, irama yang merdu, hingga kerendahan hati saat mengisi tausiah menjadikannya sebagai tokoh inspiratif ribuan santri Rembang.

Meski begitu, perjalanan Moh Zabidi untuk diberi amanah sebagai imam Masjid Agung Rembang tak semudah membalikkan tangan.

Kepada Koran Muria, pria yang pernah nyantri di pondok pesantren (Ponpes) Al Irsyad Rembang ini menceritakan, sebelum menjadi imam tetap di Masjid Agung, keteguhan hatinya diuji. Yakni dengan dipercaya sebagai imam cadangan hampir 19 tahun, sejak tahun 1980 hingga 1999.

”Kala itu, Masjid Agung hanya memiliki satu imam, yakni KH. Abdul Wahab dan masih dikelola oleh kelurga tanah wakaf dari keluarga Pangeran Sedo Laut. Di tahun 1980an itu saya diberi kepercayaan untuk mendampingi beliau (KH. Abdul Wahab,red) sebagai imam cadangan,” katanya.

Karena diminta langsung oleh KH Abdul Wahab dan pengurus masjid, ia pun bersedia. Dengan niatan mengabdi pada umat, ia belajar banyak dari KH Abdul Wahab. Sedikit banyak, ilmu KH Abdul Wahab pun diserap perlahan-lahan.

Sering kali, Zabidi diminta menjadi badal saat KH Abdul Wahab berhalangan. Dari kebiasaan tersebut, ia pun mulai terbiasa. Terlebih lagi, bekal ilmu agama yang didapat di pesantren membuatnya semakin fasih saat bertausiah.

Setelah 19 tahun berjalan, di tahun 1999 ia pun diangkat dan diberikan SK imam tetap oleh pengurus masjid tersebut.

”Setelah rapat pengurus maupun tokoh masjid, saya diangkat menjadi imam sampai sekarang. Kalau dihitung dari SK, sudah 18 tahun saya jadi imam. Alhamdulillah saya bisa mengamalkan ilmu dari pesantren,” ujarnya.

Hanya saja, menurut Zabidi, untuk menjadi seorang imam itu tidak harus lulusan pondok pesantren. Namun menjadi seorang imam itu harus mampu. Baik mampu dalam hal penguasaan tajwid, Alquran dan bisa bertausiah.

“Yang penting itu mampu. Yakni fasih Alquran dan bisa bertausiah. Sebab menjadi imam itu juga terkadang sekalian bisa memberikan wejangan wejangan kepada jamaah yang lainnya. Terlebih di saat waktu sholat Idul Fitri, Idul Adha, maupun shalat tarawih,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, saat ini masjid Agung ini sudah mempunyai enam Imam. Dan itupun sudah dibagi waktunya sendiri-sendiri. Sehingga nantinya bisa menjalankan dengan baik.

Sedangkan imam shalat tarawih itu diambilkan dari luar. Di mana setiap bulan Ramadan masjid menugaskan sekitar 13 orang untuk menjadi imam.

“Ke-13 personil itu dijadwalkan sebulan dua kali untuk menjadi imam. Misalkan saja imam pertama akan bertugas pada tarawih tanggal 1 Ramadan. Selanjutnya lagi akan bertugas pada tanggal 16 Ramadan. Sedangkan imam ke dua akan bertugas pada tanggal 2 Ramadan dan tanggal 17 Ramadan. Sehingga mereka tugasnya itu bisa bergantian,” tuturnya.

Sempat Tidak Tidur Semalaman

Sementara itu, di saat menjadi imam cadangan, ia juga pernah mendapatkan tugas yang berat. Sehingga ia harus tidak tidur semalaman demi menyiapkan isi khotbah yang akan disampaikan kepada ummat.

“Pada saat itu, sekitar sebelum tahun 1999 atau di saat masih cadangan. Saya pernah mendapatkan tugas yang sangat berat. Yakni ditugasi Abdul Wahab (imam inti) untuk menjadi imam salat idul Fitri serta berkhotbah secara mendadak,” katanya.

Saat itu, menurut dia, masih ada perbedaan penetapan tanggal satu syawal atau idul fitri. Sehingga dia harus berjibaku menyiapkan segala sesuatunya.

“Saat itu masih ada perbedaan. Misalkan saja ada yang meyakini tanggal 1 syawal itu Senin dan ada yang meyakini tangga 1 itu Selasa. Nah, disitulah saya ditugasi Mbah yai (Abdul Wahab) untuk menjadi imam di tanggal 1 Syawal yang jatuh pada hari Senin. Sehingga di Ahad malam Seninya saya tidak bisa tidur. Bingung mencari bahan khotbah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, setelah itu, Mbah Yai (Abdul wahab) menjadi imam tanggal 1 Syawal yang diyakini warga jatih pada hari berikutnya (Selasa). Sehingga salah idul fitri dilaksanakan dua kali.

“Namun di saat salat idul fitri yang yang jatuh pada hari Selasa yang diimami oleh Mbah Yai (Abdul Wahab), justru jamaahnya lebih sedikit dibanding yang saya imami. Dan saat itu, Mbaj yai sempat bercanda dan bilang, wah Din,.. jamaahe kok menang awakmu (Wah Din, jamaahnya kok banyak yang kamu imami),” ungkapnya menirukan Imam Inti Masjid Agung Abdul Wahab kala itu.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar



Berita Terbaru

Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

27 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Tradisi Sowan Kiai Jadi Kunci Sukses Abdul Hadi Pimpin Warga Nahdliyin di Kudus

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

26 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

25 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

24 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Ustaz Mushofa, Imam Termuda di Muda Masjid Agung Baitunnur Pati

Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur

23 Juni 2017, Komentar Dinonaktifkan pada Kelola Tingkat Stres, Sakit Kepala Bakal Kabur
© Copyright 2015 Koran Muria - All Rights Reserved | Redaksi | Pedoman Media Siber DMCA.com Protection Status