Published On: Wed, Jul 12th, 2017

BAB Berdarah Belum Tentu Wasir, Bisa Jadi Kanker Usus

Ilustrasi

 

Koran Muria, Kudus – Banyak orang menyepelekan pendarahan yang terjadi saat buang air besar (BAB). Sebagian orang mengira BAB berdarah identik dengan wasir, padahal tak sepenuhnya benar. Bisa jadi pendarahan itu akibat penyakit yang lebih parah.

Yakni kanker usus besar dan rektuim (bagian bawah usus besar yang mengarah ke anus). Dokter spesialis bedah RS St Elisabeth Semarang, dr. Ari Adrianto,Sp B.KBD mengatakan, kanker usus besar menyebabkan perubahan pola BAB, khususnya untuk kanker yang terletak di susu besar sebelah kiri.

“Biasanya terjadi peningkatan frekuensi BAB sampai terjadi diare atau malah timbul keadaan sembelit. Penderita sering merasakan nyeri perut bagian tengah atau lebih ke bawah,” katanya dikutip dari situs resmi RS ST Elisabeth Semarang, Rabu (12/7/2017).

Tanda-tanda yang muncul bisa berupa nyeri kolik (hilang timbul) maupun menenap, nyeri akibat adanya sumbatan usus dan diikuti muntah-muntah serta perut mengalami kembung. Perdarahan saluran cerna dapat jelas terlihat atau dapat tersembunyi.

“Darah yang keluar mulai dari merah segar sampai kehitaman tergantung lokasi tumor. Bila perdarahan tersembunyi, biasanya akan timbul gejala anemia dan umumnya terjadi kanker pada usus kanan,” ujarnya.

Ia mengingatkan untuk waspada, jika gejala lainnya berupa sumbatan usus, feses yang menjadi padat, BAB yang tidak tuntas, gangguan pencernaan, kelemahan umum, penurunan berat badan dan anemia. ”Harus diingat bahwa kanker ini dapat terjadi juga pada usia muda,” terangnya.

Menurutnya, pola makan dan gaya hidup adalah upaya yang perlu dilakukan untuk menghindari penyakit ini. Mengonsumsi buah dan sayur kaya akan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang dapat melindungi terhadap kanker.

Pembatasan lemak jenuh seperti produk susu, keju, minyak kelapa,dan sawit. Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa makanan yang mengandung kalsium, vitamin B dan asam folat dapat menurunkan risiko kanker usus besar dan rektum.

Editor : Ali Muntoha

About the Author