Published On: Wed, Jul 26th, 2017

Awas, Kulit Dehidrasi Bikin Wajahmu Tak Menarik

 

Ilustrasi (Pexels)

 

Koran Muria, Kudus – Setiap hari kulit dapat terpapar polusi, sinar matahari dan radikal bebas yang menyebabkan kulit mudah stress. Kondisi kulit yang stress dapat kehilangan kadar air dan kelembaban alaminya sehingga dapat mengalami dehidrasi.

Kulit dehidrasi  ditandai dengan kemerahan, gatal, terasa lebih sensitif dan kehilangan sinar alaminya. Hanya saja, banyak orang tak tahu perbedaan kulit kering dan kulit dehidrasi.

Dikutip dari laman Wanita Indonesia, kulit kering adalah jenis kulit, bukan tentang kurangnya kelembaban. Kulit jenis ini mengalami kekurangan minyak alami dibandingkan jenis kulit normal. Hal ini disebabkan oleh faktor genetik, perubahan usia atau berhubungan dengan hormon.

Jenis kulit ini dapat diperburuk dengan produk pembersih yang berbahan keras, atau produk yang menyerap minyak.

Menurut Direktur Global Director of Education for Dermalogica, Annet King, kulit kering disebabkan oleh kurangnya lipid kulit dan sebum, karena sebagian kelenjar minyak (sebaceous) kurang aktif dan lebih kecil.

Sementara, kalau kulit kering adalah sebuah tipe kulit, sedangkan kulit dehidrasi adalah kondisi kulit yang bersifat sementara dan lebih mudah diobati daripada kulit kering. Ada juga yang mengira dehidrasi adalah jenis kulit baru, padahal dehidrasi ini lebih cocok dikatakan sebagai kondisi kulit.

”Tipe kulit kering, normal, atau berminyak sekalipun dapat mengalami masa dehidrasi,” terang dr. Jonatan Raharjo Subekti SpKK, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari Rumah Sakit Pondok Indah.

Kulit dehidrasi terjadi karena kekurangan air, bukan minyak. “Kulit dehidrasi terjadi karena menurunnya cairan tubuh juga dari unsur-unsur eksternal, seperti cuaca atau penggunaan sabun yang keras,” ujar dr. Jonatan.

Kulit dehidrasi pun menandakan bahwa aktivitas kelenjar minyak atau sebaceous masih normal atau bahkan terlalu aktif pada kulit dehidrasi, karena semua proses seluler yang terjadi dalam tubuh kita bergantung pada air.

Editor: Supriyadi

About the Author