Published On: Fri, Aug 4th, 2017

Tak Perlu Ragu Kehalalan Vaksin Campak-Rubella

Siswa SDN 1 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Jepara, tengah disuntik vaksin Measles-Rubella, Selasa (1/8/2017). (KORAN MURIA / Padhang Pranoto)

 

Koran Muria, Jepara – Mulai 1 Agustus 2017 pemerintah menggelar program nasional imunisasi campak-rubella. Program ini digelar lantaran Indonesia menjadi salah satu wilayah endemik penyakit campak dan rubella, yang mudah menular dan tumbuh menjadi wabah.

Meski lebih sering menyerang bayi, balita dan anak-anak, virus campak rubella ini juga bisa menginfeksi orang dewasa dan berbahaya bagi ibu hamil.

Ada penolakan di berbagai daerah tentang vaksinasi ini. Alasannya, vaksin diambil dari bahan yang tidak halal.

Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan pernyataan bahwa imunisasi hukumnya mubah, sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Bahkan dalam kondisi tertentu hukumnya bisa menjadi wajib.

Selasa (1/8/2017) kemarin, imunisasi dilaksanakan secara serentak. Di Kabupaten Jepara ada 292.886 orang usia 9-15 tahun yang disasar imunisasi ini. Ahmad Khoirulyani (11) siswa SDN 1 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Jepara, salah satunya.

Ia mengaku sempat takut ketika petugas medis hendak menyuntik lengan kirinya. Ia bahkan tak berani melihat jarum suntik. 

“Saya kira tadi sakit banget, tidak tahunya seperti digigit semut. Namun saat ini lengan saya agak kemeng (nyeri) tapi tidak sakit kok,” tuturnya. 

Siswa kelas lima itu mengatakan, tujuan imunisasi itu adalah untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Namun ia mengaku tak tahu jenis penyakit apa itu. “Enggak tahu aku, tapi pas disuntik itu untuk menghindari penyakit itu,” akunya polos. 

Siswa lain, Irgi (8) mengatakan hal serupa. Meskipun tidak tahu tujuan kegiatan tersebut, namun ia mengaku lega sudah disuntik. “Saya sudah disuntik tadi. Rasanya seperti digigit semut. Tapi kalau disuntik lagi ya tidak mau,” ujarnya sambil terkekeh.

 

Ancaman Radang Otak hingga Kecacatan Bayi

Bulan Agustus dan September dicanangakan sebagai bulan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella). Lalu apa bahayanya jika tubuh kita tak kebal dua virus itu?

Dilansir dari laman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, keduanya adalah penyakit infeksi yang menular melalui saluran napas dan disebabkan oleh virus.

Jika seseorang terkena campak ia akan mudah terserang penyakit dan menyebabkan komplikasi seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), diare, kebutaan bahkan kematian. 

Sementara itu, jika seorang anak terkena virus rubella biasanya hanya menderita penyakit ringan. Namun jika menulari ibu hamil pada awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang nantinya dilahirkan. 

Kecacatan akibat virus rubella pada ibu hamil disebut sebagai sindroma rubella kongenital. Hal itu menyebabkan kelainan pada jantung, mata, tuli dan perlambatan tumbuh kembang. Untuk penyakit yang disebabkan oleh campak dan rubella tidak dapat diobati, akan tetapi bisa dicegah dengan cara melakukan imunisasi. 

Dikutip dari Antaranews.com, Menteri Kesehatan Nila Moeloek juga membenarkan hal ini.

Imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan.

Pemberian imunisasi MR akan dilaksanakan dalam dua fase, yakni pada Agustus hingga September 2017 di seluruh wilayah di Pulau Jawa, dan pada Agustus hingga September 2018 di seluruh provinsi di luar Pulau Jawa.

 

MUI Sebut Vaksin Tak Haram

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara juga menganjurkan warganya untu berbondong-bondong mengikuti kegiatan imunisasi Measles-Rubella (MR-Campak Rubella) karena dinilai manfaatnya lebih besar untuk mencegah timbulnya penyakit. 

Hal itu ditegaskan oleh Ketua MUI Jepara Mashudi. “MUI sudah bersikap, bahkan sudah mengeluarkan tausyiah intinya silakan masyarakat berbondong-bondong mengikuti imunisasi MR. Kami sangat mendukung program tersebut,” kata dia Senin (31/7/2017).

Ia mengatakan, imunisasi merupakan ikhtiar yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. Jika sebagian orang mengatakan ada unsur hewan yang diharamkan dalam membuat vaksin, Mashudi mengatakan hal itu bersifat darurat. 

“Hal itu (imunisasi) mengandung kemaslahatan. Jika ada obat yang diduga mengandung babi dan sebagainya itu sifatnya darurat dalam rangka menjaga kesehatan lebih penting daripada mengobati. Jadi kami mendukung pelaksanaan imunisasi baik di bulan Agustus ataupun di bulan September,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan Imunisasi MR. Adapun fatwa tersebut bernomor 4 Tahun 2016 yang membolehkan (mubah) tindakan tersebut karena sebagai bentuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit. 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Jepara Dwi Susilowati menyebut vaksin MR merupakan produksi Indonesia. Produk tersebut pun sudah melalui pengujian oleh badan kesehatan dunia atau WHO dan dinyatakan aman. 

“Enggaklah (tidak haram) kan yang membikin vaksin orang Indonesia dan sudah diekspor di lebih dari 140 negara. Sudah diteliti oleh World Health Organization dan dinyatakan aman,” kata dia. 

Ia juga menyebut program tersebut menyasar 292.886 orang usia 9-15 tahun. Imunisasi itu dilaksanakan selama dua bulan, Agustus-September 2017. 

“Pada bulan Agustus ini difokuskan bagi anak-anak yang bersekolah. Sementara pada bulan September dilaksanakan untuk anak rentang usia tersebut yang belum bersekolah,” tutur dia. 

Adapun, untuk Kecamatan Mlonggo ada 1.053 anak yang menjadi sasaran imunisasi MR. “Untuk melaksanakan bulan imunisasi tersebut, setiap puskesmas (21 unit) menyediakan 4-5 petugas medis,” tutup Dwi.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-