Published On: Fri, Sep 8th, 2017

Budi Santoso, Difabel dari Banjarejo Grobogan yang Bikin Kaki Palsu dari Barang Bekas

Budi Santosa menunjukkan kaki palsu dari barang bekas buatanya. Kini banyak penyandang difabel yang memesan alat bantu berjalan itu dari dirinya. (Koran Muria / Dani Agus)

Koran Muria, Grobogan – Alat bantu kaki atau kaki palsu buat penyandang difabel tidak harus dibuat dari bahan berharga mahal. Alat bantu jalan ini ternyata juga bisa dirangkai dari bahan bekas.

Seorang penyandang difabel dari Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, bernama Budi Santoso sudah berhasil membuktikan. Tidak hanya satu, tetapi kaki palsu yang dibuat Budi sudah mencapai 15 unit.

Selain dipakai sendiri, kaki palsu bikinan Budi juga dipakai penyadang difabel dari berbagai kota. Seperti Jepara, Blora, Jakarta, Semarang, dan Solo. Beberapa kaki palsu digunakan oleh penyandang difabel di sekitar tempat tinggalnya.

Bahan pembuatan kaki palsu didapat dari barang bekas. Mulai dari ember plastik bekas wadah cat tembok, spon, pipa, besi dan spare part motor.

“Terkadang ada bahan yang beli baru, tergantung permintaan. Misalnya, pipa stainless,” jelas lajang berusia 22 tahun itu.

Meski dibuat dari bahan bekas, namun Budi mengklaim produk buatannya tidak kalah dengan hasil pabrikan. Bahkan, dia menyatakan, produk bikinannya ada beberapa kelebihan lain.

Yakni, lebih ringan dibandingkan produk kaki palsu yang sudah pernah dijumpai. Produk kaki palsu yang banyak beredar saat ini beratnya bisa sampai 5 kg. Sedangkan, produk kaki palsu dari bahan bekas tidak sampai 3 kg, sehingga membikin nyaman penggunanya.

Kelebihan lainnya, kaki palsu yang dibikin Budi dilengkapi engsel di bagian lutut dan di atas tumit. Adanya engsel ini, membuat penggunanya serasa berjalan dengan kaki sempurna.

“Kaki palsu yang sudah saya lihat modelnya kaku. Alat yang saya buat ini, bisa digunakan untuk bersepeda. Ini bisa dilakukan dengan adanya engsel yang membuat kaki palsu ini elastis, mirip kaki asli,” terang anak tunggal pasangan Suwadi dan Karsini itu.

Untuk lebih meyakinkan, Budi kemudian mencoba menggunakan kaki palsu sebelah kiri yang biasa dipakai sehari-hari. Setelah terpasang, ia berjalan-jalan beberapa saat dengan kaki palsunya.

Saat berjalan memang tidak terlihat jika Budi adalah seorang penyandang difabel. Namun, sempat terdengar suara berderit ketika kaki palsu itu digunakan berjalan.

“Engselnya agak kering sehingga ada bunyi. Belum sempat saya kasih minyak goreng sebagai pelicin. Engselnya memang butuh ditetesi pelicin secara berkala biar tidak kering,” terang Budi.

Menurut Budi, dari sekitar 15 orang yang menggunakan kaki palsu buatannya, tidak ada yang komplain. Bahkan, mereka merasa nyaman dan tidak lagi menggunakan kaki palsu yang dipakai sebelumnya.

“Alhamdulillah, orang yang pakai kaki palsu buatan saya merasa puas. Saya juga merasa senang bisa membantu sesame penyandang difabel,” imbuhnya.

Dina Rizqi Mariadi (kanan) dan Heri Saputra (kiri), dua sahabat Budi Santoso yang membantu membikin kaki palsu dari barang bekas. (Koran Muria / Dani Agus)

 

Tak Patok Harga, Kadang Digratiskan 

Pembuatan kaki palsu dari bahan daur ulang yang dilakukan Budi Santoso belum berlangsung lama. Awal permbuatan dilakukan sekitar satu tahun lalu, sekitar bulan September 2016.

Saat membikin edisi perdana, rencananya hanya akan dipakai sendiri. Namun, proses untuk membuat satu kaki palsu itu ternyata tidak mudah.

Berulang kali, rangkaian kaki palsu harus dibongkar karena dianggap kurang nyaman. Berkat kemauan keras, kaki palsu pertama yang dibikin secara otodidak akhirnya berhasil dibuat.

“Kaki palsu pertama butuh waktu pembuatan sekitar dua pekan. Setelah jadi, saya pakai sendiri sampai sekarang. Meski sudah satu tahun, kaki palsu ini tetap nyaman dan tidak rusak,” kata pemuda 22 tahun itu sambil menunjukkan kaki palsu edisi perdana yang dipakainya.

Setelah punya kaki palsu sendiri, Budi kemudian merantau ke Samarinda, Kaltim. Budi sempat bekerja di bengkel milik saudaranya di Samarinda selama hampir 4 bulan.

Setelah itu, ia balik lagi ke kampung halamannya dan membuka distro di Jalan Honggokusuman, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan.

Sekitar bulan April, mulai ada order pembuatan dari sesama penyandang difabel. Satu persatu, permintaan itu dilayani dengan senang hati.

Untuk pembuatan kaki palsu, Budi tidak pernah mematok harga. Bahkan, beberapa penyandang difabel dikasih kaki palsu cuma-cuma karena kondisinya memang tidak mampu.

Padahal, untuk pembuatan kaki palsu butuh dana yang tidak sedikit meski bahannya dari barang bekas.

Pembuatan kaki palsu dilakukan disebuah gazebo sederhana yang ada di belakang kios distronya. Pada tembok gazebo ada tulisan dari cat berbunyi ‘Nekat Harapan’. Saat ini, Budi dibantu dua orang karena pesanan terus datang.

Yakni, adik sepupunya Dina Rizqi Mariadi (19) dan sahabat setianya Heri Saputra (17). Keduanya, sama-sama orang dari Desa Banjarejo.

Menurut Budi, kedua orang itu dinilai punya andil besar dalam perjalanan hidupnya. Keduanya selalu memberikan semangat dan mendampinginya setelah ia tertimpa kecelakaan lalu lintas bulan Juli 2016 lalu.

Peristiwa memilukan itu masih terkenang dalam ingatannya. Ceritanya, waktu itu Budi sedang melintas di jalan Purwodadi-Blora mengendarai motor. Sesampai di depan SPBU Ngaringan, ia ditabrak pemotor lainnya yang melaju di belakangnya.

Akibat kejadian itu, Budi terlempar dari motornya dan masuk ke kolong truk tronton yang melaju dari arah berlawanan. Budi masih ingat detik-detik ketika roda tronton menggilas kaki kirinya.

Meski sempat mendapat perawatan medis, namun kaki kirinya gagal diselamatkan. Oleh dokter, kaki kirinya harus diamputasi hingga diatas lutut.

“Setelah diamputasi, saya sempat stres berat sampai satu bulan. Selama masa itulah, kedua sohib saya inilah yang selalu memberikan semangat. Akhirnya, saya bisa bangkit dan berhasil membikin kaki palsu ini,” kata lulusan SMK Pembangunan Nasional Purwodadi tahun 2014 itu.

Meski bisa bikin kaki palsu namun masih ada beberapa harapan yang diinginkan Budi. Yakni, ada lembaga yang bisa menguji kaki palsu bikinannya sehingga punya sertifikasi.

Selain itu, ia juga punya kendala dalam masalah peralatan untuk membuat kaki palsu. Selama ini, memang sudah ada pihak yang membantu peralatan. Namun, jumlahnya belum memadai karena pesanan kaki palsu terus berdatangan.

Editor : Ali Muntoha

About the Author

-