Published On: Mon, Feb 20th, 2017
Jepara | By

Subroto Pertanyakan Formulir C6 yang Dikembalikan ke KPU dalam Pilkada Jepara

Calon Bupati Jepara nomor urut 1 Subroto (kanan) saat memberi penjelasan terkait form C6 yang dikembalikan ke KPU. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Jepara – Calon bupati Jepara nomor 1 Subroto mempertanyakan jumlah pasti formulir C6 atau surat pemberitahuan kepada pemilih yang dikembalikan ke Kantor Pemilihan Umum (KPU) sebelum hari pencoblosan.

Pasalnya, jumlah yang fantastis mencapai 53.632 lembar formulir C6 tersebut kini masih menjadi tanda tanya besar bagi calon Bupati tersebut. 

Kepada Koran Muria Subroto mengatakan, formulir C6 atau surat pemberitahuan itu yang ditarik sekitar 53 ribuan. Sehingga kasus itu perlu diklarifikasi atau dibuktikan secara ilmiah. Sehingga nantinya tidak menimbulkan tanda tanya besar bagi tim sukses.

”Jumlah itu harus diklarifikasi secara ilmiah. Sebab saya juga tidak mau suudzon tentang banyaknya jumlah Formulir C6 yang ditarik. Meskipun jumlah itu ada klasifikasnya tersendiri,” kata Broto.

Dari informasi KPU, lanjutnya, jumlah formulir C6 yang dikembalikan ke KPU sehari sebelum pencoblosan terdiri dari pemilih yang meninggal dunia sebanyak 3.872 lembar, pindah alamat 3.946 lembar, tidak dikenal  4.030 lembar, tidak dapat ditemui 26.214 lembar dan lain lain 15.570 lembar.

”Dari setiap klasifikasi itu, yang tak habis pikir yakni bagian klasifikasi yang meninggal dunia, dan tidak dikenal. Itu harus bisa dibuktikan secara ilmiah. Masak, meninggal dunia sebanyak 3 ribuan orang dalam waktu dua bulan,” ucapnya.

Ini Fakta, Marzuqi dan Subroto Ternyata Belum Saling Sapa Pasca-Pilkada Jepara

Dia melanjutkan, penetapan DPT sebanyak 858.958 pemilih ditetapkan pada Desember lalu. Sedangkan sepanjang dua bulan mulai dari Desember hingga Januari 2017 orang meninggal itu sebanyak 3 ribuan. Bila dikalkulasi secara ilmiah, maka setiap desa ada orang meninggal rata rata ada 10 hingga 20 orang.

”Itukan aneh. Dan itupun sudah dikroscek ke Kantor Disdukcapil, bahkan datanya tidak sesuai dengan itu,” tegasnya.

Tak hanya itu, banyaknya jumlah orang tak dikenal yang mencapai 4 ribuan juga menimbulkan pertanyaan. Apalagi, sebelum disahkan menjadi DPT, sudah melalui beberapa proses panjang. Seperti halnya validasi data, memantau realitas penduduk yang akan jadi DPS (Daftar pemilih sementara), setelah itu cook lit (pencocokan dan penelitian) baru jadi DPT.

”Nah yang menjadikan tak habis pikir yakni mengapa yang  tak dikenal bisa masuk?,” bebernya.

Ia menilai, ribuan lembar formulir C6 yang dikembalikan ke KPU itu setara dengan 7 persen dari jumlah DPT. Sehingga jumlah 53.632 itu harus dibuktikan secara ilmiah supaya pemilihan pilkada di Jepara ini juga bisa berjalan secara berintegritas.

”Sejumlah form C6 yang dikemabalikan ke KPU itu setara dengan 7 persen dari DPT.  Sehingga kita akan membuktikan kejanggalan itu secara ilmiah,” ungkapnya.

Panwas Temukan Banyak Kesalahan di Pilkada Jepara, Ini Perinciannya

Sementara itu, saat ditanya mengenai kejanggalan tersebut apakah akan dibawa ke ranah yang lebih tinggi atau hukum, ia juga tak memaprkan secara pasti.

Di sisi lain, Ketua  KPU Jepara M. Haidar Fitri mengatakan, pihaknya mempersilakan kepada Tim Sulaiaman untuk mengkroscek data yang ada. Sebab rincian form C6 sudah diberikan masing-masing calon, termasuk paslon nomor 1.

”Kalau mau mengkroscek ya monggo tak masalah. Akan tetapi inti dari pengembalian form C6 ke KPU itu untuk menyelamatkan C6 yang tidak terpakai. Supaya tidak disalah gunakan. Selain itu, bagi klasifikasi tidak dikenal itu artinya bahwa pemilih tersebut lupa dicoret dari DPT. Sedangkan untuk yang klasifikasi lain lain itu artinya pemilih ganda, dua duanya dapat C6. Maupun cetakan C6 nya ganda, klasifikasi tidak dapat ditemui itu karena merantau, keluar kota,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

About the Author

-