Published On: Thu, Apr 27th, 2017

Jeli Baca Peluang, Ibu Muda di Rembang  Ini Kantongi Jutaan Rupiah dari Jadah Pasar

Para ibu ibu di desa Pasucen Gunem ini terima jasa pembuatan makanan untuk keperluan hajatan. (KORAN MURIA /EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Rembang – Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Paribahasa ini sepertinya sangat tepat disematkan kepada Aminah.

Perempuan berusia 37 tahun, warga Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang ini berhasil mengembangkan bisnis jasa pesanan makanan tradisional jadah (jajanan) pasar meski jarak rumah dengan pasar mencapai 30 kilometer.

Kepada Koran Muria, Aminah menceritakan, usaha yang ditekuni sejak tiga tahun terakhir ini sebenarnya hanya usaha sampingan. Mulanya, ia melihat banyak orang yang ribet saat ada hajatan karena jarak pasar yang jauh.

Dari situ, ia tiba-tiba mendapat ide untuk membuka usaha kecil-kecilan denga menjual jadah (jajanan) pasar untuk acara hajatan. Setelah diaplikasikan, ternyata ide tersebut mendapat sambutan baik dari masyarakat.

”Mulanya, usaha saya ini dikenal dari mulut ke mulut. Akhirnya banyak yang tahu dan memesan makanan ke saya,” kata Aminah yang keseharian berkerja menjadi penjahit itu.

Dari situ usaha sampingannya semakin maju. Jenis makanan ringan yang dijual pun semakin beragam.Beberapa di antaranya, nagasari, arem-arem, lemper, tahu isi dan sejenisnya.

”Untuk satu kotak makanan ringan yang saya jual untuk hajatan ya bervariasi. Ada yang Rp 5 ribuan, Rp 4 ribuan dan lainnya. Isinya yakni lemper, arem arem, naga sari, pisang goreng, dan minuman gelasan,” ungkapnya.

Dengan besaran itu, setiap bulannya ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 5 jutaan. Hanya saja, besaran tersebut bisa berubah-ubah tergantung banyaknya pesanan.

”Ya lumayan lah, bisa dibuat tabungan. Setidaknya dalam satu pekan ada sekitaran Rp 1,250 juta yang bisa disisihkan,” paparnya.

Editor: Supriyadi

 

About the Author

-