Published On: Sat, Jun 24th, 2017

Ustaz Mushofa, Imam Termuda Masjid Agung Baitunnur Pati

Mushofa, salah satu imam di Masjid Agung Baitunnur Pati yang masih muda dan hafal Alquran. (KORAN MURIA/LISMANTO)

Koran Muria, Pati – Dari sejumlah imam yang ada di Masjid Agung Baitunnur Pati, Ustaz Mushofa termasuk yang paling muda. Bahkan, pria berusia 34 tahun ini sudah menjadi imam dan muadzin di sana sejak berusia 21 tahun.

“Kalau tidak resmi sudah 13 tahun yang lalu menjadi muadzin dan mengimami kalau imam besar lagi berhalangan. Saya dipercaya menjadi salah satu imam secara resmi, dua tahun yang lalu,” ujar Mushofa saat berbincang dengan Koran Muria, seusai salat Jumat, Jumat (16/6/2017).

Warga Desa Blaru, Kecamatan Pati ini sudah hafal Alquran sejak 2006. Setelah lulus madrasah aliyah (MA), Mushofa bertekad untuk menghafalkan Alquran dan berhasil merampungkan hafalannya sebelas tahun yang lalu.

Saat menjalani program hafalan Alquran, Mushofa mengaku sempat ada perasaan bangga dan sombong. Namun, semakin hafal, dia justru semakin takut. Sebab, bagi dia ada yang lebih tinggi dari sekadar menghafal Alquran.

Seseorang yang bisa mengaplikasikan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari diakui lebih tinggi ketimbang sekadar menghafal Alquran. Hal itu yang membuatnya terkadang takut kalau ia tidak bisa mengaplikasikan apa yang sudah dihafalkan.

Bagi Mushofa, tidak ada yang dibanggakan dari seorang imam. Bahkan, tugas imam masjid disebut sangat berat, karena ia memimpin prosesi umat Muslim ketika tengah menghadap Sang Khalik.

Karena itu, salah satu prinsip yang ia pegang saat menjadi imam masjid adalah keikhlasan. Dengan rasa ikhlas, sesuatu akan berjalan dengan mudah tanpa beban.

“Menjadi seorang imam harus bisa menghilangkan rasa sombong pada diri. Jangan mentang-mentang jadi imam, kemudian muncul sifat sombong dalam diri. Meskipun sekecil biji zarah pun, tidak boleh ada sifat sombong dalam diri,” tuturnya.

Selain menjadi imam di Masjid Agung Pati, Mushofa mengemban tugas di Kementerian Agama (Kemenag) Pati sebagai penyuluh agama Islam non-PNS di bidang pemberantasan buta aksara Alquran. Selain itu, ayah dari dua anak ini menjadi guru ngaji di sembilan tempat binaan dan dua sekolah formal.

Meski terbilang muda, dia kerap mengimami sejumlah pejabat penting di Kabupaten Pati, termasuk bupati saat menjalani ibadah salat di sana. Dia sama sekali tidak berpikir siapa yang menjadi makmum, lantaran ia sudah dipercaya sebagai imam.

“Berpikirnya tidak memandang siapa di belakang saya. Saya hanya fokus mengelola hati memimpin jamaah menghadap Allah saat salat, tetap khusyuk, konsentrasi pada gerakan dan bacaan,” ucap Mushofa.

Dia berharap, apa yang ia lakukan sebagai imam masjid memberikan manfaat bagi umat Muslim. Selain menjadi imam masjid secara formal, dia ingin menjadi imam kehidupan yang bisa menjadi teladan umat sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad.

Editor: Supriyadi

About the Author

-