Published On: Sun, Jun 25th, 2017

KH Sya’roni Achmadi, Kiai Tanpa Pesantren yang Selalu Dihormati

KH Sya’roni Ahmadi (KORAN MURIA/FAISOL HADI)

 

Koran Muria, Kudus – Siapa yang tak kenal KH Sya’roni Ahmadi? Kiai sepuh penuh kharisma pengarang kitab Al-Faraid al-Saniyah ini adalah ulama yang selalu dinanti para santri di Kudus.

Tausiyahnya yang menentramkan hati dan tak pernah menyinggung perasaan orang lain menjadikan Yi Sya’roni (panggilan KH Sya’roni Ahmadi) sangat dihormati berbagai kalangan, termasuk para santri dan ulama.

Hanya saja, ada yang menarik dari kiai khos yang satu ini. Percaya atau tidak, Yi Sya’roni ternyata tidak memiliki pondok pesantren. Namun, banyak santri yang menjadikan Yi Sya’roni sebagai panutan dalam berdakwah.

Putra KH Sya’roni Ahmadi, H. Muhammad Yusrul Hana (47) mengatakan, pihaknya tak tahu persis alasan sang ayah tak mendirikan pondok pesantren. ”Kalau itu (tidak mendirikan pesantren,red) hanya bapak yang tahu, kalau saya jawab takut salah,” kata Gus Hana kepada Koran Muria, belum lama ini.

Namun, lanjutnya, meski tidak membuka pesantren, banyak masyarakat yang ingin menjadi santri Yi Sya’roni. Beberapa di antaranya bahkan ada yang datang langsung dan mengungkapkan niat menjadi santri.

”Ya ada yang begitu, bapak juga sangat terbuka. Semua boleh belajar,” ujarnya.

Hanya, Gus Hana pun teringat, semasa muda, sang ayah ternyata tidak pernah menjadi santri sebuah pondok pesantren yang mukim. Beliau lebih memilih mengaji di sejumlah kiai-kiai Kudus pada masa itu. Seperti Mbah Turaikhan, Mbah Arwani, Mbah hambali, Mbah Asnawi, Kiai Sayyid Abdullah serta sejumlah kiai-kiai lainya.

Atas kecerdasan yang dimiliki, Yi Sya’roni memiliki kemampuan menghafal pelajaran dengan baik. Bahkan beliau sangat sering mendapatkan tawaran mengisi pengajian di mana-mana.

Saat masih muda dan kuat, sejumlah permintaan untuk mengisi pengajian dipenuhinya. Bahkan sejumlah pengajian rutin juga dijalani oleh kiai di sejumlah tempat.

Namun, usia yang sudah sepuh, pihak keluarga sangat memperhatikan kesehatan Yi Sya’roni. Karenanya, terpaksa mengurangi jam terbang pengajian. Bahkan kini hanya mengaji biasa di rumahnya saja, setelah mengaji di Menara Kudus saat fajar selama puasa tahun ini dikhatami.

Meski begitu, ingatan Yi Sya’roni masih sangat tajam. Terbukti saat menerima tamu di rumahnya, beliau masih dengan lancar memberikan ceramah, lengkap dengan dalil dan halaman kitabnya. Dalam bercerita, beliau juga sangat detail dan juga hafal meski usianya tak muda lagi.

”Biasanya kalau menerima tamu saat sore hari.  Kebanyakan yang datang tak hanya dari Kudus, namun juga sejumlah tempat luar Kudus. Namun melihat kondisi kesehatan terlebih dahulu. Jika kondisinya sehat maka tamu bisa ditemui, namun saat sedang sakit terpaksa belum bisa,” ungkap Gus Hana.

Para anak-anak dan cucunya juga sangat berhati-hati menjaga keseharian Yi Sya’roni. Pola makan dan pola tidur sangat dijaga anak-anaknya guna menjaga kesehatan. Selain itu, terdapat pula tim dokter yang dengan senang hati mengontrol kesehatan kiai sebulan sekali dengan datang langsung.

Disinggung mengenai hobi selain mengaji, Gus Hana mengatakan kalau kiai sangat suka bermain catur. Bahkan, kerap kali saat waktu luang, kiai meminta anak atau cucunya untuk menemaninya bermain catur dengan kiai. Dan hasilnya besar kemungkinan selalu kiai yang memenangkannya.

“Sejak muda dulu menang suka bermain catur, dan hebatnya lagi lebih sering menang ketimbang kalah. Itu sudah menjadi hobi dari bapak,” ucapnya

Editor: Supriyadi

About the Author

-