Published On: Mon, Jun 26th, 2017

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Kharismatik Gudangnya Ilmu Pengetahuan

 

KH. Maimoen Zubair, pengasuh pondok pesantren Al Anwar Sarang, Rembang. (KORAN MURIA/EDY SUTRIYONO)

 

Koran Muria, Rembang – Setiap orang, baik dari kalangan biasa hingga pejabat pastinya tak asing dengan nama besar KH. Maimoen Zubair. Pengasuh pondok pesantren Al Anwar Sarang, Kabupaten Rembang ini merupakan ulama kharismatik yang sangat dikagumi banyak orang.

Pribadinya yang luhur serta kebijaksanaannya dalam menyikapi berbagai hal membuat kiai yang akrab disapa Mbah Moen ini menjadi suri tauladan berbagai kalangan. Baik itu umat islam ataupun non islam.

Dihimpun dari berbagai sumber, KH Maimoen Zubair sebenarnya sudah ditinggal wafat ibunya, Nyai Mahmudah sejak berusia 10 tahun. Hanya saja, semasa Nyai Mahmudah hidup, beliau dikenal sangat sayang dengan Mbah Maimoen kecil. Ia bahkan sering menggendong Mbah Moen untuk mengikuti pengajian ta’lim.

Seusai Nyai Mahmudah wafat, Mbah Moen dididik dan dibimbing oleh ayahnya sendiri, kiai Zubair. Dalam pengawasan ayahnya, Maimoen Zubair dibiasakan menghafal kitab-kitab matan nahwu seperti Matn al-Jurumiyyah karangan Imam Shanhaji, Naẓam al-Imriṭi karya Syarafuddin al- Imrithi.

Pengajaran  Faṭ al-Qarīb, Faṭ al-Muīn  dan Faṭ al-Wahāb juga beliau dapatkan dari ayahnya sendiri. Selain ayahnya sendiri, Maimoen juga menuntut ilmu kepada ulama-ulama di daerah Sarang.

Setelah menghabiskan pendidikan di wilayah Sarang sendiri, Maimoen Zubair melanjutkan pendidikannya di Kediri Jawa timur, tepatnya di Pesantren Lirboyo pada tahun 1945-1948 M/ 1365-1369 H. Beliau di Lirboyo mengaji dengan beberapa ulama terkemuka di antaranya Kiai Abdul Karim (dikenal dengan Mbah Manaf), Kiai Marzuqi dan Kiai Mahrus Ali.

Selain itu, beliau juga sempat mengabdikan dirinya dengan menjadi abdi dalem Mbah Manaf agar mendapat ilmu yang barokah dan manfaat dari gurunya tersebut.

Mbah Maimoen Zubair juga belajar kepada ulama yang terkenal riyadah, pembacaan wirid serta kesufiannya yaitu KH. Ma’ruf.

Pengajaran dari KH. Ma’ruf tersebut, menjadikan Maimoen Zubair menyedikitkan makan, minum dan tidur. Sementara itu,  Kiai Zamroji, KH. Gholib Hasyim, Kiai Faqih juga tercatat menjadi gurunya Maimoen Zubair sewaktu sekolah di Madrasah Hidayatul Mubtadiin maupun selama di pesantren Lirboyo.

Mbah Maimoen Zubair pulang dari Lirboyo saat Belanda memasuki kota Kediri, 18 Desember 1948 M, karena khawatir dengan keadaan yang sudah tidak kondusif. 

Selepas masa pendidikannya di Lirboyo, Maimoen Zubair sempat pulang ke Sarang dan mengamalkan ilmunya di Madrasah Ghozaliyah Syafiiyah. Hanya selang 2 tahun, pada tahun 1950 M/1369 Maimoen Zubair beserta Ahmad bin Syuaib (kakeknya) dan Abdurrahman bin Ahmad (pamannya) pergi ke Mekkah.

Di Mekkah Maimoen Zubair belajar ilmu Hadis seperti Baiqūniyah, dan ilmu nahwu yaitu syarḥ Ibnu Aqil kepada Sayyid Alawi al-Maliki. Beliau juga mengaji naḍam Ṭoliah al Anwar kepada Syaikh Hasan Al-Masysyath (ulama yang ahli dalam ushul Hadis dari India), Riyaḍ al-Ṣaliḥin kepada Muhammad Amin Al-Kutbi yang merupakan ahli thariqah tasawuf, al-Waraqāt dan syarḥnya kepada Syeikh Abdul Qodir Al-Mindili.

Selain itu beliau juga mengaji Sunān Abi Daud kepada Muhammad Yasin Al-Fadani. Dari Gurunya yang berasal dari Padang tersebut Maimoen Zubair banyak mendapat sanad, antara lain sanad Tafsir Jalālayn.

Selain dilihat dari segudang penddidikannya yang memang terkenal sudah lengkap, di dalam keluarga Mbah Mun juga selalu mementingkan pendidikan putra putrinya. Baik dari istri yang pertama maupun yang ke dua.

Pernikahan beliau pertama dengan Hj. Fahimah (putri KH. Baidlowi bin Abdul Aziz mempunyai putra-putri antara lain KH. Abdullah Ubab, KH. Muhammad Najih dan Nyai Hj. Shobihah.

Sedangkan pernikahan kedua dengan Hj. Masthiah, putri KH. Idris Cepu, Blora. mempunyai Tujuh putra putri yakni, KH. Majid Kamil, KH. Dr. Abdul Ghofur, MA., KH. Abdur Rouf, KH. Muhammad Wafi, MSi, Hj. Rodliyah Ghorro’, KH. Taj Yasin dan KH. Muhammad Idror.

Selain berhasil menjalankan pendidikan agama serta mendidik putra puttinya hingga tokoh agama sekalipun, Mbah Mun juga bisa berhasil dalam bidang organisasi.

Mbah Maimoen Zubair pernah memegang beberapa jabatan dalam dunia perpolitikan antara lain.  Anggota Dewan perwakilan Rakyat Daerah tingkat II Rembang mulai tahun 1971-1979.

Selain itu juga pernah menjadi anggota Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) tahun 1978-1991 dari unsur Utusan Propinsi Jawa Tengah. Tahun 1995-1999 beliau memegang jabatan Ketua MPP. PPP.

Sedangkan di tahun 2004 sampai sekarang beliau menjabat ketua Majelis Syariah PPP. Selain itu, KH. Maimoen Zubair juga pemangku jabatan di beberapa Organisasi
Mudir MGS (Madrasah Ghozaliyah Syafiiyah) mulai berdiri tahun 1949 sampai sekarang.

Ketua Badan Pertolongan/Sosial Desa Sarang selama delapan tahun mulai 1967-1975. Ketua Syuriah NU wilayah Jawa Tengah tahun 1985-1990. Ketua Jamiiyah Thoriqah NU tahun 2000.
Sesepuh ICIS, Organisasi Cendekiawan Islam bertaraf internasional.

Editor: Supriyadi

About the Author

-